Beranda

[Kliping : Nobel Kini Tak Kredibel

Tinggalkan komentar

nobel-tak-lagi-1

nobel-tak-lagi-2Sumber : Kompas, Sabtu 05 November 2016

Untuk membaca secara jelas, silahkan ‘klik’ di masing-masing gambar.

@htanzil

[Berita] Hak Terjemahan Novel ‘Gadis Kretek’ Dibeli Penerbit Inggris

Tinggalkan komentar

Kamis, 20 Okt 2016 14:17 WIB  ·   Andi Saputra – detikHOT

Frankfurt – Meja dan kursi berderet di lorong stand Indonesia di Frankfurt Book Fair (FBF) 2016. Di meja itu transaksi dagang antarpenerbit dari antarnegara dilakukan. Meja itu juga menjadi jendela bagi Indonesia untuk memasuki panggung dunia.

Salah satu karya dari Indonesia yang terjual hak ciptanya adalah novel ‘Gadis Kretek’.

“Translation rights novel “Gadis Kretek” karya Ratih Kumala resmi dibeli MonsoonBooks UK,” kata Ketua Koordinator International Fair Komisi Buku Nasional (KBN) Sari Meutia di lokasi pameran, Kamis (20/10/2016).

gadis-kretek‘Gadis Kretek’ berkisah tentang perusahaan pabrik kretek Djagad Raja di tahun 1960-an. Kisah dimulai saat pemilik perusahaan, Soeraja sedang sekarat. Dalam menanti ajalnya, ia mengigaukan sebuah nama wanita “Jeng Yah”. Nama itu mengagetkan seluruh keluarga karena nama wanita yang seharusnya tak lagi boleh diucapkan dari mulut Soeraja karena ia telah memiliki 3 anak dewasa. Nama itu membuat satu kaluarga mencari guna menyelamatkan perusahaan rokok terbesar di Indonesia kala itu.

Novel ‘Gadis Kretek’ diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Selain Gramedia, penerbit lain yang terlibat trasaksi adalah Kanisius. Penerbit yang berkantor di Yogyakarta ini menyatakan, sejumlah buku anak dan novel dilirik calon mitranya dari Tiongkok dan Malaysia. Du Yun, dari China San Xi Normal University, menyatakan tertarik untuk buku pendidikan karakter yang berbahasa Inggris. Alasan mereka, sejumlah nilai dan konteks yang tertuang dalam buku terbitan Kanisius relevan dengan budaya di negara-negara sesama Asia.

“Kali ini, kami bawa 80 judul dengan 15 di antaranya berseri. Jumlah ini separuh lebih kecil dari tahun lalu ketika kami ikut merayakan Indonesia sebagai tamu kehormatan,” kata Kepala Departemen Pendidikan PT Kanisius, Rosalia Emmy Lestari.

Pertemuan antarpenerbit juga melibatkan sejumlah agen. Hal ini terlihat melalui pembicaraan antara Direktur Borobudur Agency Nung Atasana dengan mitranya, Izai Amorim dari Munich, Jerman.

“Tugas kami memediasi penerbit lintas negara untuk menjual hak cipta mengenai topik-topik yang aktual dan digemari pembaca,” ujar Izai yang dibenarkan oleh Nung.

Selain dari Indonesia, ribuan penerbit tumpah ruah di areal FBF seluas 37 hektare. Tidak hanya penerbit, industri yang terkait dengan penerbitan seperti percetakan dan teknologi e-book juga hadir. Layaklah bila FBF menjadi pameran dagang terbesar di dunia untuk industri penerbitan dan telah digelar berabad-abad lamanya.

Sumber : Hot Detik.com

Review Novel Gadis Kretek bisa dibaca di sini

@htanzil

[News] Second-hand bookshops dying out

Tinggalkan komentar

second-hand-lawang-jakposBandung | Mon, October 17 2016 | 10:03 am

Arya Dipa, The Jakarta Post

The last day: Lawang Buku owner Deni Rahman (right) has decided to close down his bookshop at Balubur Town Square due to the declining number of sales. He plans to continue selling second-hand books online.

During the good old days, second-hand books enjoyed a place in the heart of many bookworms. Today, alternative bookshops in Bandung are struggling to survive.

People crowded around the Lawang Buku stall on the upper floor of Balubur Town Square (Baltos) shopping center in Bandung, West Java, searching for specific titles or just browsing the books on display. Among the visitors, those carrying back bags struggled to fit themselves into the tight space.

In October 2015, owner of Lawang Buku Deni Rahman rented a 6-square meter space for the stall at the shopping center, which is located near college student housing. For the previous three years the stall only occupied a space beneath an escalator.

“This is now the busiest time,” Deni said as he served his customers and visitors.

Ironically, though, as the shop offering various second-hand books teemed with visitors, its days at Baltos were numbered. Deni signaled this by putting up a notice, “Half-price books for sale, Oct. 3 to 4, 2016”. A white poster also offered 450 books in 400 titles of various categories, for a total cost of Rp 15 million (US$1,150).

“The public’s purchasing power has declined in the last two years, so I’ll go back to online and exhibition sales. Now it’s important to recover my capital to buy more old books so that the business can keep running,” Deni said about his decision to sell off the books at half price.

Andrias Arifin, 36, Deni’s customer and peer, described the closing down of the book stall as a great loss.

“This place has become a gathering spot for second-hand book lovers because such a shop is very rarely found,” he said.

Clear-out: Hundreds of books are sold for a fixed price as stated in the announcement at Lawang Buku bookshop.

A library and second-hand book shop, Reading Lights, located in Bandung’s Gandok zone, has also shut its doors. Here too the shop management hung out a banner offering discounts for its book collections before the closure of the business.

Lawang Buku and Reading Lights added color to the city’s book scene despite their different styles and book genres. The two old bookshops provided alternative sources of literature to classic book enthusiasts.

Similarly, Omuniuum, Tobucil and Kineruku bookshops don’t just sell books like most traders do at the Palasari book center. Tobucil manager Elin Purwanti said her book sales could no longer support or cover operational costs.

“We rely on vintage books as people are seeking collectibles,” said the 36-year-old woman.

Other bookshop owners have tried to get creative to maintain their book businesses. Tobucil founder Tarlen Handayani, for example, has decided to cater to various craft and hobby needs by providing yarns, knitting needles and different materials to cover her shop’s operational costs.

“We also survive by running handicraft classes with the support of local communities,” Tarlen said.

The decreasing number of alternative bookshops in Bandung has reached a critical point. Tarlen said her community planned to gather for a discussion on the decline of Bandung’s decades-long book scene, with the aim of searching for a solution and learning to survive.

— Photos by JP/Arya Dipa

sumber : The Jakarta Post

@htanzil

Daftar Toko Buku di Bandung thn 1984

Tinggalkan komentar

Berikut daftar toko buku yang ada di Bandung pada tahun 1984

toko-buku-bandung-1984

Sumber : Daftar Buku 1984, IKAPI

@htanzil

Nobel Sastra 2016 diberikan kepada Bob Dylan

Tinggalkan komentar

nobel-sastra-2016

The Royal Swedish Academy of Sciences memutuskan memberikan Hadiah Nobel Sastra 2016 kepada musisi Bob Dylan yang dinilai “menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu Amerika.”
Dia merupakan penyanyi dan penulis lagu pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Pemilihan ini mengejutkan karena karyanya tak cocok dengan kanon sastra pada umumnya, seperti novel, puisi, dan cerita pendek. Dylan adalah penulis lagu dan lagu-lagunya memang berpengaruh dan terus bergema sampai kini. Apakah ini bentuk pengakuan bahwa lagu adalah juga karya sastra? Barangkali. Dunia sastra silahkan mendiskusikan hal ini.

Nama Bob Dylan sudah disebut-sebut sebagai calon pemenang Hadiah Nobel dalam beberapa tahun terakhir. Namun hal itu tidak pernah dianggap serius.

Sara Danius, Sekretaris Akademi Swedia, mengatakan Dylan dipilih sebagai pemenang atas karyanya sebagai penyair besar dalam tradisi lagu berbahasa Inggris. Lagu yang membawa Dylan meraih Nobel Sastra 2016 adalah Blowin in The Wind dan The Times They are a Changin

Dengan mendapatkan Hadiah Nobel Sastra, Dylan berhak atas uang sebesar 8 juta kronor atau sekitar Rp 11 miliar.

Hadiah Nobel Sastra itu merupakan penghargaan kesekian kali bagi pria yang dilahirkan dengan nama Robert Allen Zimmerman tersebut.

Bob Dylan lahir pada 24 Mei 1941 di Duluth, Minnesota. Musisi yang tumbuh dalam keluarga kelas menengah Yahudi itu semasa remaja bermain dalam beragam band dan punya ketertarikan khusus pada musik folk Amerika dan blues, menurut catatan Biobibliografi di laman resmi Nobel.

Dylan, yang antara lain mengidolakan penyanyi folk Woody Guthrie, pindah ke New York tahun 1961 dan mulai tampil di klub-klub dan kafe di Greenwich Village.

Setahun kemudian, ia bertemu produser rekaman John Hammond dan menandatangani kontrak album perdana Bob Dylan (1962).

Tahun-tahun selanjutnya dia merekam sejumlah album dan membawa pengaruh besar pada musik populer dengan album seperti “Bringing It All Back Home and Highway 61 Revisited” tahun 1965, “Blonde On Blonde” tahun 1966 dan “Blood On The Tracks” tahun 1975.

Produktivitasnya berlanjut hingga puluhan tahun kemudian, menghasilkan mahakarya seperti “Oh Mercy” (1989), “Time Out Of Mind” (1997) dan “Modern Times” (2006).

bob-foto

Dylan menggelar tur tahun 1965 dan mendapat banyak perhatian tahun 1966. Selama satu periode dia ditemani pembuat film D. A. Pennebaker, yang mendokumentasikan hidupnya di panggung yang kemudian menjadi film “Don’t Look Back” (1967).

Dylan telah merekam banyak album dengan tema seputar kondisi sosial, agama, politik dan cinta. Liriknya masih terus diterbitkan dalam edisi-edisi baru berjudul “Lyrics”.

Sebagai seorang artis, kemultitalentaannya menonjol. Dia aktif sebagai pelukis, aktor dan penulis naskah.

Selain menghasilkan banyak album, Dylan menerbitkan karya eksperimental seperti “Tarantula” (1971) dan koleksi “Writings and Drawings” (1973).

Dia menulis otobiografi Chronicles (2004), yang menggambarkan memori dari tahun-tahun awal di New York dan memberikan kilasan hidupnya di tengah budaya populer.

Sejak akhir 1980an, Bob Dylan terus melakukan tur, yang kemudian disebut “Never-Ending Tour” (Tur Tanpa Akhir).

Dylan mendapat status ikon. Pengaruhnya pada musik kontemporer mendalam, dan dia adalah objek dari aliran literatur sekunder.

bob-foto-jpg-2

####

Dikutip dari : Antaranews.com, Kompas.com, Tempo.co

@htanzil

[Berita] Menteri Anies: Minat Baca Rendah kok Malah Ada Pelarangan Buku? Itu Kuno!

Tinggalkan komentar

aniesJakarta – Pekan lalu muncul kabar razia terhadap buku bertema komunisme. Pelarangan atas peredaran buku dengan tema tertentu adalah hal yang miris ketika disandingkan degan minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan tindakan razia tersebut sebagai perilaku yang tidak relevan dengan kondisi kekinian. Sebab sebetulnya ide komunisme sendiri sudah ditinggalkan oleh masyarakat dunia.

“Membakar, melarang buku itu kuno. Hari ini ide itu sudah ketinggalan. Kita jangan kemudian jadi lengah. Tapi tunjukkan ide yang lebih baik, tunjukkan gagasan yang lebih maju,” ujar Mendikbud Anies di acara Pesta Pendidikan di fx Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (39/5/2016).

Anies menambahkan, tindakan pelarangan buku komunisme adalah sebuah ekspresi minder. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk menunjukkan bahwa Pancasila adalah rumusan dan ideologi yang paling tepat untuk bangsa ini.

Di acara yang sama, Najwa Shihab juga ikut berpendapat tentang pelarangan buku tersebut. Menurutnya, jika minat baca masyarakat Indonesia masih rendah, seharusnya tidak perlu ada pelarangan buku.

“Saya kok miris ya. Orang kok lagi kurang baca, kok malah dilarang baca. Pelarangan baca adalah kemubaziran akut. Membatasi informasi adalah kesia-siaan,” ujar Najwa.

Najwa menyadari bahwa komunisme adalah isu sejarah yang sangat sensitif sehingga menimbulkan reaksi beragam di masyarakat. Namun, menurutnya, pelarangan buku, apa pun tema di dalamnya, sama saja melarang pikiran.

“Percuma melarang buku, karena orang masih dapat menemukan di mana-mana. Saat ini, kita ketinggalan dengan negara lain dalam hal minat baca. Jika orang Jepang dalam setahun dapat menghabiskan 25 buku, Singapura 15 buku, Indonesia seharusnya dapat memunculkan orang-orang yang dapat menumbuhkan orang sadar untuk mau membaca buku,” ujar Duta Baca Indonesia ini.
(nrl/nrl)

Sumber : Detik.com

@htanzil

[Berita] Memberangus Buku, Lemahkan Budaya Literasi

Tinggalkan komentar

babarengeanOleh Restu Puteri

Bumi Siliwangi, isolapos.com–

Pada Bincang Isola Mei, Unit Pers Mahasiswa Unviersitas Pendidikan Indonesia mengangkat tema tentang “Pelarangan Buku dan Ancaman Dunia Pendidikan”. Maraknya pelarangan bahkan pemberangusan buku ini ditengarai membangkitkan kembali idiologi komunis dan sempat menggemparkan dunia literasi. Buku-buku dan kegiatan akademik seperti teater dan diskusi yang yang dianggap “kiri” diberangus dan dibubarkan.

Sastrawan sekaligus aktivis literasi Bandung Ahda Imran mengatakan pendidikan layaknya seperti taman. Bila ada banyak ragam bunga, maka semua bunga berhak tumbuh disana. Sama halnya dengan kasus ini, ia menuturkan, keberagaman pemikiran dan keyakinan berhak “tumbuh” di Negara ini. Sehingga pemerintah dalam hal ini layaknya seperti pemilik taman yang mengurusi, merawat, dan menjaga semua keberagaman yang ada, pun halnya dengan buku. “Hatta belajar khatam Das Kapital tapi dia bukan komunis. Ini persoalan dengan kita belajar. Pendidikan tidak hanya bisa hadir dengan satu saja macam bunga,” ujarnya saat Bincang Isola di Teater Terbuka Museum Pendidikan Nasional UPI, Jumat (27/5).

Berbeda dengan Ahda, esais Zen Rs menilai pelarangan buku ini tidak berdampak pada dunia pendidikan. Menurutnya, masyarakat saat ini berada ditengah-tengah rezim yang mengutamakan penyamarataan nilai, bukan mengutamakan proses belajar. Maka tak heran, ketika membaca saat ini hanya dijadikan kegiatan temporal saja. ”Itulah sebabnya bimbel lebih penuh sesak daripada taman bacaan. Semuanya tentang jalan pintas,” tuturnya.

Bagi Zen, membaca merupakan proses menguji pemikiran dan keyakinan. Ia menilai tradisi itulah yang belum terbangun dalam bangsa ini. Untuk itu, pemerintah perlu mendukung upaya penguatan lliterasi buku, bukan semakin melarang rakyat untuk membaca buku. “Persoalannya adalah minat baca sudah rendah, apalagi kalau dilarang,” ujarnya mengundang tawa audiens.

Selain Ahda dan Zen, Bincang Isola kali ini pun turut dihadiri oleh berbagai aktivis literasi dan pakar pendidikan dari berbagai daerah seperti Muhidin M Dahlan dari Masyarakat Literasi Yogyakarta, Anton Kurnia dari Aktivis Literasi Jakarta,Rama Prambudhi Dikimara dari Dewantara Institute, dan Pakar Pendidikan UPI Deni Darmawan. []

Sumber : Isolapos.com

@htanzil

Older Entries