Beranda

Aku dan BBI (Blogger Buku Indonesia)

22 Komentar

Dalam rangka Hari Blogger Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober 2012 kemarin  beberapa BBI-ers (sebutan untuk para Blogger Buku) sepakat untuk memposting kisah mereka tentang bagaimana mereka bisa bergabung dengan komunitas Blogger Buku Indonesia.

Karena kebetulan saya sendiri dan beberapa teman yang menggagas terbentuknya BBI ini maka saya akan cerita sedikit bagaimana terbentuknya BBI. Awalnya gagasan ini muncul karena obrolan saya dengan Mas Okta Wiguna, seorang jurnalis yang peduli akan dunia buku pada tahun 2011 yang lalu.  Dalam salah satu perbincangan Mas Okta ini menanyakan apakah saya memiliki daftar blog buku yang aktif?.

Dari perbincangan di twitter ini akhirnya saya mencoba mendata blog buku yang ada, ternyata saat itu ada cukup banyak blog buku yang saya dapatkan, yaitu sekitar 30-an blog buku. Hasil pendataan ini lalu saya upload pada tanggal 13 April 2011 di Goodreads Indonesia dan Note FB saya. Dari situ lalu timbulah keinginan untuk membuat sebuah komunitas antara para blogger buku. Langsung saja saya mencoba mengajak beberapa teman blogger buku di twiter untuk membentuk komunitas blogger Buku Indonesia

Beberapa teman menyambut antusias gagasan ini, maka kami segera mencoba menyebar gagasan ini ke teman-teman kami sesama blogger buku lainnya hingga akhirnya kami sepakat untuk membuat akun twitter @BBI_2011 sebagai sarana untuk memudahkan komunikasi antar para blogger buku.

Bermula dari akun twitter akhirnya terbentuk juga Agregator Blog Buku Indonesia, Group BBI dan  Fan Page BBI di Facebook dimana kesemuanya itu menjadi wadah kami untuk saling berkomunikasi dan mengadakan event-event antar para BBI-ers. Dan tanggal 13 April 2011 ditetapkan sebagai hari lahirnya BBI

Dengan terbentuknya komunitas BBI ini bagi  saya pribadi banyak sekali manfaatnya, selain memiliki banyak teman yang memiliki hobi yang sama untuk membaca buku dan ngeblog,  melalui komunitas ini gairah membaca dan ngeblog saya juga semakin terpelihara antara lain dengan diadakannya berbagai event seperti posting bareng, copy darat, secret santa, dll.

Saya sendiri berharap komunitas BBI ini tidak hanya muncul sesaat lalu menghilang, melainkan akan terus langgeng, saya sendiri pribadi para blogger buku ini suatu saat akan mendapat tempat terhormat di mata penerbit, pembaca buku, media masa, dll,  sehingga para BBI-ers dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan dunia buku di tanah air.

Kini jumlah blog buku yang terdata sudah sebanyak 189 blog buku yang aktif. Dengan begitu banyaknya blog buku yang ada tentunya sudah seharusnya blogger buku bisa ikut ambil bagian secara signifikan dalam memajukan dunia literasi. Bagaimana caranya? Mari kita pikirkan bersama-sama.

Selamat Hari Blogger Nasional, dan maju terus untuk para BBI-ers.

Keep Reading and Blogging

@htanzil

Untuk mengetahui syarat menjadi anggota BBI, silahkan klik blog bukunya Okky Septya di sini

Exclusive interview: Stories are source of Mo Yan’s excellent writing

Tinggalkan komentar

Mo Yan, the first native Chinese writer to win the Nobel Prize in Literature, has landed in the media’s spotlight. CCTV reporter Dong Qian paid a visit to Mo’s hometown in Shandong and talked with the 57-year-old writer.

Dong Qian said, “I always feel that a writer is like a hen, and his works are like eggs. We may not always wonder what the hen looks like while we eat eggs. But this time, it’s a golden egg. So naturally, everybody becomes curious about this hen who laid a golden egg. That’s why you’ve drawn so much attention.”

Mo Yan said, “If it’s a nice looking hen, it worth some attention. But if it’s only the egg that is shiny, don’t waste your time looking at the hen.”

On 11 October 2012, the Swedish Academy announced that Mo Yan had received the Nobel Prize in Literature for his work, described as hallucinatory realism merging into folk tales, history and the contemporary”.

 

CCTV reporter Dong Qian paid a visit to Mo’s hometown in Shandong and talked with the 57-year-old writer.

Dong Qian: Do you think their evaluation is in accord with your own judgement?

Mo Yan said, “I think they understood my novels. I don’t know that it’s accurate to say my works are the fusion of hallucinatory realism and folk tales. I’d rather say it merges fiction and folk stories, social problems and historical events. Maybe that’s more accurate.”

Overnight, news about the Chinese author filled the front page of almost every Chinese newspaper, magazine and website. But for the writer himself, the process has brought in a wave of uncertainty.

Mo Yan said, “When I heard that I won the Nobel Prize, I was pleasantly surprised and frightened.”

Dong Qian: Pleasantly surprised means you were very happy?

Mo Yan said, “Yes, indeed. Firstly, I was surprised because I was not expecting to receive this award. I was happy because I’m the prize winner after all. But I was frightened because I still have no idea how to handle this. There was so much press, and as a nobel winner, I don’t know if it will cause more people stare at me and find my faults. That’s why I’m frightened.”

Mo Yan’s novels, such as “The Red Sorghum,” “Sandalwood Death”, “Life and Death Are Wearing Me Out”, and “Frog” are among the most popular within international communities.

 

CCTV reporter Dong Qian paid a visit to Mo’s hometown in Shandong and talked with the 57-year-
old writer.

Dong Qian: Your works were translated and published into other languages, do you believe that those versions can still portray the ideas you are trying to convey?

Mo Yan said, “There is no way to make sure of that. Readers are similar everywhere. There must be some people who love my works and some who don’t. I can’t push them. So in fact, every writer picks their own readers.”

Mo Yan was born in 1955, in a rural area in Shandong Province. In his early years, he experienced poverty, hunger and was repressed by a particularly harsh father. He didn’t have chance to read many books, but folk stories told by local people became the root of Mo Yan’s later writings.

Mo Yan said, “I always listened to stories told by elders, including fairy tales, legends, history, battles in one area, legendary people in another, and disasters they’d heard of.”

Dong Qian: Were they helpful for your writing?

Mo Yan said, “They are the source of my writing. I put almost all of them into my novels. Dozens of years of life in the village became my own treasure. You will not find it useful if you’re not a writer. But as a writer myself, it’s extraordinarily valuable and important. I think that’s the main reason why my novels are different from others. If I had grown up reading classic novels, I wouldn’t have become Mo Yan.”

Mo Yan’s novels have already sold out in many Chinese book stores. The craze has led to a growing interest in the publishing field as well.

Mo Yan said, “This is abnormal. Everything will return to normal after a while.”

Dong Qian: Don’t you feel happy? You’ve just had a spike in your income.

Mo Yan said, “I always a bit nervous when my novel’s sales increase. The more they sell, the more I’m frightened. Many readers will assume that the works of the Nobel Prize winner must be the best of the best, the cream of the crop. I’m afraid they may feel disappointed by my works.”

Mo Yan’s win ignited many Chinese peoples’ interests in literature. But the author has his own opinion.

Dong Qian: Do you think winning the Nobel Prize will promote the growth of Chinese literature, or will everything go back to normal?

Mo Yan said, “It will soon go away. People will go back to their old ways.”

Dong Qian: Do you think more people will be interested in literature?

Mo Yan said, “The change is just short term. This will slowly fade, and all will move forward following the nature of life.”

sumber : http://english.cntv.cn/program/cultureexpress/20121016/102191.shtml#.UH-3Xk-q01A.facebook

@htanzil

Hari lahir Novel Moby Dick ke 161

1 Komentar

Hari ini (18 Oktober) merupakan hari lahir novel klasik Moby Dick ke 161. Hari ini juga Google memperingatinya dengan menampilkan Google Doodle yang identik dengan kisah Moby Dick karya penulis Amerika Herman Malville (1819-1891), yaitu  menampilkan ilustrasi  perahu yang ditumpangi oleh beberapa laki-laki dengan latar belakang seekor ikan paus besar.

Novel Moby Dick untuk pertama kalinya terbit di Inggris pada tgl 18 Oktober 1851. Novel ini menceritakan petualangan sang tokoh bernama Ismael yang mengikuti pelayaran kapal pemburu paus yang dipimpin seorang kapten obsesif bernama Kapten Ahab.

Sang kapten hanya memiliki satu kaki akibat kecelakaan saat memburu seekor paus yang dijulukinya Moby-Dick. Kapten Ahab sangat bernafsu melampiaskan dendamnya kepada Moby-Dick.

Dalam ajang balas dendamnya itu, sang kapten tidak peduli akan keselamatan diri maupun anak buahnya. Suatu saat, Kapten Ahab pun bertemu Moby-Dick. Ia berhasil menaiki punggung Moby-Dick dan menancapkan tombaknya di perut Moby-Dick dengan penuh emosi disertai oleh sumpah serapah.

Namun usaha Kapten Ahab dan anak buahnya membunuh Moby-Dick sia-sia belaka. Dengan tubuhnya yang besar, Moby-Dick menghancurkan kapal dan membuat seluruh awak kapal jatuh ke laut dan tenggelam.

Akhirnya seluruh awak kapal tewas kecuali Ismael yang selamat berkat peti mati yang telah dibuat sebelumnya.

Novel Moby Dick yang kini menjadi salah satu masterpiece dalam kesusasteraan Amerika ini ternyata pada awalnya sempat kesulitan memperoleh penerbit. Setelah beberapa kali mendapat penolakan akhirnya novel ini berhasil diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Richard Bentley, salah satu penerbit Inggris.  Setelah dirilis respon dari pembaca pun biasa-biasa saja.

Melalui Moby Dick, Herman Melville  menyinggung banyak masalah yang pada saat itu mendominasi lanskap pemikiran di Amerika pada abad ke-19, antara lain hubungan antara daratan dan laut, konfilk antara petualangan dan kemapanan, antara penjelajah dan penduduk kota, dll yang semua itu mencerminkan kegalauan masyarakat Amerika pada pertengahan abad ke-19

Lalu mengapa Moby Dick di awal penerbitannya tidak menuai sukses? Beberapa pengamat sastra mengungkapkan kalau di novel tersebut Melville banyak menggunakan simbol yang dibungkus dengan pemikiran-pemikiran filosofis. Mellville juga kerap menggunakan teknik yang tak lazim pada saat itu misalnya ketika narasi sudah membentuk ketegangan, Mellville tiba-tiba saja mengalihkan konsentrasi pembaca ke hal-hal remeh.

Sepanjang hidupnya Herman Melville memang tidak sempat melihat karyanya ini menjadi sebuah masterpiece-nya, walau novel-novel sebelumnya cukup populer namun kepopulerannya terus menyusut hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika Mellville meninggal dunia ia telah dilupakan sepenuhnya.  Moby Dick baru ‘ditemukan kembali’ di tahun-tahun berikutnya dan kini ia dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sejarah kesusasteraan AS.

Hinnga kini Novel Moby Dick masih terus dicetak ulang dan dibaca dari generasi ke generasi. Kisah Moby Dick kini tidak hanya berupa novel tapi mewujud pula dalam bentuk drama, film, kartun, komik, dan sebagainya.

Herman Mellville

Herman Melville (1819-1891) pernah menjadi seorang pelaut setelah gagal dalam berbagai usaha. Sebagai pelaut, dia melarikan diri dari sebuah kapal Amerika untuk menghindari keadaan-keadaan yang luar biasa kejam dan berbahaya. Dia menetap di sebuah pulau, di tengah-tengah penduduk asli di sana.
Pada tahun 1844, Melville berhenti bertualang dan menulis buku. Novel-novelnya yang pertama sangat berhasil diantaranya adalah Typee (1846) yang dibuat berdasarkan pengalaman kehidupannya di tengah-tengah penduduk asli di sebuah pulau, Omoo (1846), yang berdasarkan kehidupannya di Tahiti, dan Redburst (1848) yang berdasarkan pengalamannya dalam pelayaran pertamanya ke Inggris. Karyanya yang berjudul White Jacket (1850) merupakan protes keras terhadap perlakuan kejam yang dialami para pelaut dalam Angkatan laut Amerika. Karyanya yang berjudul Moby Dick (1851) mula-mula tidak begitu berhasil dan tidak cukup laku untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.
Karya-karya Herman Mellville
  • Typee: A Peep at Polynesian Life (1846)
  • Omoo: A Narrative of Adventures in the South Seas (1847)
  • Mardi: And a Voyage Thither (1849)
  • Redburn: His First Voyage (1849)
  • White-Jacket; or, The World in a Man-of-War (1850)
  • Moby-Dick; or, The Whale (1851)
  • Pierre: or, The Ambiguities (1852)
  • “Bartleby the Scrivener” (1853) (short story)
  • “The Encantadas, or Enchanted Isles” (1854) (novella, possibly incorporating a short rewrite of the lost Isle of the Cross[42])
  • “Benito Cereno” (1855)
  • Israel Potter: His Fifty Years of Exile (1855)
  • The Confidence-Man: His Masquerade (1857)
  • Battle Pieces and Aspects of the War (1866) (poetry collection)
  • Clarel: A Poem and Pilgrimage in the Holy Land (1876) (epic poem)
  • John Marr and Other Sailors (1888) (poetry collection)
  • Timoleon (1891) (poetry collection)
  • Billy Budd, Sailor (An Inside Narrative) (unfinished, 1891) [Published Posthumously] (1924)

Novel Moby Dick koleksiku (edisi ringkas)


@htanzil

– dikutip dari berbagai sumber-

Nobel untuk Realisme Halusinasi Mo Yan

2 Komentar

Akhirnya Nobel Sastra 2012 dianugerahkan pada penulis China Mo Yan (Kamis, 11/10/2012) . Panitia Nobel dalam rilis resminya menyebutkan demikian :

The Nobel Prize in Literature for 2012 is awarded to the Chinese writer Mo Yan

who with hallucinatory realism merges folk tales, history and the contemporary”.

Bagi kita mungkin nama ini masih asing, tapi setidaknya satu buku karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu Big Breast and Wide Hips, Serambi Maret 2011.

Siapa Mo Yan? berikut saya copy paste kan dari sebuah portal Internasional ed. Bahasa Indonesia



Nobel untuk Realisme Halusinasi Mo Yan

 

Penulis Cina Mo Yan memenangkan hadiah Nobel untuk bidang kesusasteraan 2012. Panitia Nobel hari Kamis (11/10) memberi penghargaan kepada penulis yang mereka sebut memiliki kualitas “realisme halusinasi”.

Penulis Cina Mo Yan memenangkan hadiah Nobel untuk bidang kesusasteraan 2012. Panitia Nobel hari Kamis (11/10) memberi penghargaan kepada penulis yang mereka sebut memiliki kualitas “realisme halusinasi”.

Para juri memuji karya Mo Yan yang memiliki gaya “realisme halusinasi” dan menggabungkan cerita rakyat, sejarah dan kehidupan masa kini.

Penderitaan Sebagai Inspirasi

Mo Yan lahir dari keluarga petani. Dia meninggalkan sekolah semasa “Revolusi Kebudayaan“ untuk bekerja di sebuah pabrik minyak. Kehidupannya begitu miskin saat itu sehingga dia sering terpaksa makan kulit pohon dan gulma untuk bertahan hidup.

Mo Yan, yang kini berusia 57 tahun, menjadikan penderitaan yang dia alami itu sebagai inspirasi atas karyanya yang bicara tentang korupsi, dekadensi dalam masyarakat, kehidupan di desa serta program keluarga berencana paksa di Cina.

“Kesepian dan lapar adalah keberuntungan dalam penciptaan“, kata pengarang Red Shorgum itu suatu ketika. Mo Yan adalah penulis yang sering digambarkan sebagai “salah satu yang paling terkenal, sering dilarang dan dikenal luas banyak dicontek oleh para penulis Cina”.

Sosok Penuh Kontradiksi

Beberapa karyanya yang dilarang pemerintah Cina antara lain “Payudara Besar dan Pinggang Lebar” serta “Republik Wine”. Meski sejumlah karyanya dilarang, namun beberapa penulis lain menganggap Mo Yan “terlalu dekat“ dengan Partai Komunis Cina.

Karya Mo Yan sebagian besar berisi komentar sosial, dan dia sangat terpengaruh dengan kritik politik Lu Xun serta realisme magis ala Gabriel Garcia Marquez.

Mempesona, penuh kompleksitas dan sering berisi gambar kekerasan, Mo Yan menyedot pembaca ke dalam kisahnya tentang rangkaian perubahan semesta yang mengganggu sekaligus cantik. Mo menggunakan fantasi dan satir dalam banyak bukunya, yang diberi label oleh media yang pro pemerintah Cina sebagai “provokatif dan vulgar”.

Jangan Bicara

Mo Yan sangat produktif. Dia menulis novel terakhirnya yang berjudul “Kehidupan dan Kematian yang Membuat Saya Lelah” hanya dalam waktu 43 hari. Dia menuliskan lebih dari 500 ribu karakter dalam naskah asli novel itu di atas kertas tradisional Cina dengan menggunakan pena bulu yang dicelupkan ke dalam tinta.

Mo Yan telah menerbitkan puluhan cerita pendek dan novel di Cina. Novel pertamanya adalah “Hujan Turun di Malam Musim Semi” yang dipublikasikan pada tahun 1981.

Mo Yan dalam bahasa Cina artinya “Jangan Bicara” adalah sebuah nama pena. Nama aslinya adalah Guan Moye. Dia mengaku memilih nama pena itu untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu banyak bicara, karena dia dikenal sebagai orang yang sering bicara terbuka, sesuatu yang tidak bisa diterima dengan baik di Cina.

(AB/ EK) ap, afp, rtr

sumber : http://www.dw.de/dw/article/0,,16297978,00.html

Bibliografi 

Novels

Short story collections

  • Explosions and Other Stories
  • Shifu: You’ll Do Anything for a Laugh[15] (1999; English: 2002)

Other published works include White Dog SwingMan and BeastSoaringIron ChildThe CureLove StoryShen Garden and Abandoned Child.

Awards and honours

#####

Gara-gara Mo Yan memenangkan nobel, aku yang tadinya lagi baca nobelis sastra “Pearl S.buck” langsung banting setir dan ganti baca Big Breast and  Wide Hips sebagai proyek baca bareng dan posting bareng karya-karya nobelis sastra BBI (Blogger Buku Indonesia) pada akhir Oktober 2012 nanti.

My curently reading…

@htanzil

Obrolan di Twitteriak

Tinggalkan komentar

Berikut saya copy pastekan  obrolan Twitteriak di twitter (05/04/2012) dimana aku sebagai bintang tamunya 🙂

Harus diakui banyak orang suka membaca, tetapi dari sekian banyak, berapa banyak yang mampu berkomitmen untuk menulis semua buku yang pernah dibacanya, tanpa kecuali? Rasa-rasanya tidak banyak. Padahal peresensi buku dalam dunia perbukuan cukup memiliki posisi penting. Ia merupakan pembaca pertama dari buku-buku yang telah terbit. Posisi first reader ini di luar negeri, memiliki kekuatan penentu, semacam radar yang digunakan oleh masyarakat buku untuk menebak apakah suatu buku akan berhasil atau tidak diterima oleh masyarakat. Tolak ukurnya adalah penerimaan para pembaca pertama ini. Itulah sebabnya, peresensi yang tergabung di Kirkus Review atau Publisher Weekly dihormati baik oleh kalangan pembaca umum, maupun oleh kalangan industri. Perhatian kalangan industri perbukuan pada peresensi bukan tanpa alasan. Seringkali terjadi, buku yang telah diresensi oleh perensi terkemuka akan diikuti dengan meningkatnya penjualan buku secara nasional. Bagaimana dengan di Indonesia? Seperti apakah gambaran peresensi di negeri yang dicap memiliki minat baca rendah ini?
Itulah sebabnya, obrolan TWITTERIAK menghadirkan Hernadi Tanzil, peresensi yang telah malang melintang di dunia resensi sejak tahun 2000. Meskipun sehari-hari bekerja sebagai akuntan, tetapi minat membaca dan menulisnya terpupuk lewat kegiatan meresensi ini. Mengaku membutuhkan buku sama seperti membutuhkan pakaian, Hernadi Tanzil yang lahir 5 November 1970 ini, tumbuh menjadi pembaca sejak kecil.

Sejak di Sekolah Dasar, ia telah senang membaca. Sepanjang ingatannya, buku pertama yang dibacanya adalah komik Petruk & Gareng. Selanjutnya, ia juga membaca majalah Bobo, komik Mahabarata karya R.A.Kosasih, komik-komik karya Ganes Th, Lima Sekawan, Agatha Christie, dan masih banyak lagi lainnya. Barulah ketika di SMP-SMA, ia berkenalan dengan karya-karya sastra klasik terbitan Balai Pustaka. Mulai menekuni menulis resensi secara otodidak dengan mempelajari review yang telah ditulis orang lain, kini Hernadi Tanzil mereview rata-rata 33 buku setiap tahunnya. Hernadi Tanzil menyebut tugas peresensi lebih dari sekedar meringkas. Tugas peresensi adalah memberi opini pribadi yang paling jujur atas buku yang telah dibacanya dan dengan demikian ikut membantu menyebarkan virus membaca.

Untuk mengungkap lebih jauh bagaimana kehidupan peresensi di negeri ini, simak obrolan TWITTERIAK bersama Hernadi Tanzil berikut ini.

#Twitteriak: Apa peresensi buku itu? Apa tugasnya?
Hernadi Tanzil: Peresensi buku itu orang yang tugasnya mengulas isi dari buku yang dibacanya.

#Twitteriak: Adakah metode khusus meresensi buku? 
Hernadi Tanzil: Ada tips-tips khusus dalam meresensi, yang pasti merensi itu bukan meringkas.

#Twitteriak: Belajar meresensi darimana?
Hernadi Tanzil: Kalau saya belajar otodidak dari membaca resensi-resensi orang di media cetak/cyber dan buku.

#Twitteriak: Tujuan utama Anda menciptakan @BBI_2011 itu apa? Kenapa akunnya pakai angka tahun? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Untuk mengumpulkan blogger-blogger buku di Indonesia agar bisa bersinergi bersama-sama dalam menyebarkan virus membaca. Oh, itu sekedar pengingat tahun berdirinya BBI (Blogger Buku Indonesia).

#Twitteriak: Apa semua buku yang dibaca ditulis resensinya atau buku-buku yang dianggap menarik oleh Anda? (pertanyaan @owlmilove)
Hernadi Tanzil: Komitmen saya adalah meresensi semua buku yang pernah saya baca baik itu yang menarik maupun yang tidak.

#Twitteriak: Bolehkah seorang peresensi memasukkan opini pribadinya? Atau harus benar-benar netral? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Boleh! Karena sejatinya resensi adalah opini pribadi resensor, bukan pendapat netral.

#Twitteriak: Apa keuntungan dan kerugian menjadi peresensi? (pertanyaan @melody_violine)
Hernadi Tanzil: Kalau masuk media cetak, (peresensi) dapat honor atau sering dapat buntelan (buku gratis) dari penerbit. Keuntungan lain adalah kita jadi terbiasa untuk berpikir dan menulis secara kritis terhadap isi sebuah buku. Kerugiannya? Paling dicemberutin kalau resensi kita terlalu pedas.

#Twitteriak: Berapa perbandingan buku yang dibaca dengan yang direview? (pertanyaan @tezarnet)
Hernadi Tanzil: Semua buku yang saya baca akan saya review, itu komitmen saya.

#Twitteriak: Apakah meresensi itu murni inisiatif pribadi atau sebenarnya pesanan dari penerbit?
Hernadi Tanzil: Bagi saya meresensi itu inisiatif pribadi… Memang banyak penerbit/penulis yang minta bukunya diresensi, tetapi keputusan untuk meresensi atau tidak itu keputusan pribadi. Secara isi, walau penerbit/penulis yang meminta bukunya untuk diresensi tapi isinya bukan ‘pesanan’ tapi opini pribadi.

#Twitteriak: Batas apa yang tidak boleh dilanggar dari sebuah resensi? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Untuk buku fiksi tidak boleh ada spoiler. Resensi itu harus ada opini, bukan hanya meringkas/menulis sinopsis buku.

#Twitteriak: Apa perlu belajar meresensi melalui pendidikan formal khusus? Apakah sudah ada? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Tidak ada. Menulis resensi adalah bagian dari creative writing, jadi setahu saya tidak ada pendidikan formal secara khusus.

#Twitteriak: Bagaimana caranya agar review buku nggak malah jadi bikin ringkasan isi buku? (pertanyaan @f3r1n4)
Hernadi Tanzil: Masukkan opini pribadi.

#Twitteriak: Apa dasar-dasar umum untuk menulis resensi? Apa ada teknik-teknik dalam penulisan resensi? (pertanyaan @mariana_pink)
Hernadi Tanzil: Ada beberapa buku tentang teknik menulis resensi buku. Ini salah satunya “Berguru Pada Pesohor” (http://bukuygkubaca.blogspot.com/2011/11/pesohor-draft.html )

#Twitteriak: Apakah seorang peresensi itu sama dengan kritikus? Pernahkah kasus karena resensi Anda berpengaruh pada penjualan buku tersebut? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Menurut saya bisa juga disebut kritikus, karena peresensi juga mengkritik isi dari buku yang diresensinya. Berpengaruhkah resensi pada penjualan buku? saya tidak punya datanya, tapi kalau selama ini penerbit-penerbit rajin mengirim buku-buku pada resensor, saya rasa itu indikasi kalau ada pengaruhnya pada penjualan buku.

#Twitteriak: Tidak semua yang suka buku sama dengan blogger. Apa mereka yang masuk kategori ini boleh gabung ke BBI? (pertanyaan @esvandiarisant)

Hernadi Tanzil: Karena namanya komunitas Blogger Buku Indonesia, maka ini khusus untuk para blogger buku. Mereka yang suka buku, tapi tidak punya blog buku silahkan gabung di obrolan2 seru BBI baik di @BBI_2011 atau Fan Page BBI di Facebook.

#Twitteriak: Kalau dapet buntelan, kan ‘wajib’ review. Gimana kalau ternyata buku itu gak sesuai ‘ekspektasi’? (pertanyaan @f3r1n4)
Hernadi Tanzil: Saya rasa kalau kita tidak meminta buntelan, maka itu tidak wajib diresensi karena diresensi atau tidak itu tergantung resensornya.Wajib diresensi kalau kita meminta buku pada penerbit untuk diresensi, kalau nggak sesuai saya pribadi tetap meresensi.

#Twitteriak: Apa pernah bosan/ jenuh dalam meresensi? (pertanyaan @mariana_pink)

Hernadi Tanzil: Tentu saja pernah. Kalau jenuh, saya off dulu beberapa saat.

#Twitteriak: Biasanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meresensi buku? (pertanyaan @owlmilove)

Hernadi Tanzil: 2-3 hari karena perlu diendapkan dulu.

#Twitteriak: Kalau mood ngeresensi lagi tidak ada, apa yang Anda lakukan? (pertanyaan @speakercoret)
Hernadi Tanzil: Membaca resensi orang lain. Dengan membaca resensi orang lain biasanya jadi semangat, apalagi kalau lihat antusiasme teman-teman BBI dalam meresensi.

#TWitteriak: Bagaimana peluang bisnis untuk penulis resensi buku di Indonesia sekarang ini? (pertanyaan @mariana_pink)
Hernadi Tanzil: Setiap minggu di koran-koran pasti ada kolom resensi buku, ini bisa jadi peluang untuk dimuat dan mendapat honor.

#Twitteriak: Ketika resensi berbuah penerimaan, hadiah mana yang lebih memuaskan, buku atau isi rekening? (pertanyaan @dion_yulianto)
Hernadi Tanzil: Jujur aja kalau honornya besar, ya senang dapat uang. Tapi diberi buku gratis pun sdh memuaskan.

#Twitteriak: Apa tips meresensi buku yang terjemahan/ceritanya buruk tanpa menyinggung si penerjemah/penulis? (pertanyaan @just1ian)
Hernadi Tanzil: Sampaikan dengan kritis, dengan kalimat yang santun. Di situlah seninya menulis resensi, menulis dengan kritis, tegas, dengan kalimat yang elegan sehingga tidak bikin (penulis) tersinggung.

#Twitteriak: Selain kurang banyak, apa kekurangan review buku di indonesia? (pertanyaan @hurufkecil)

Hernadi Tanzil: Kedalaman isi review buku. Selain isi review, kita juga gak punya majalah/media yang resensi bukunya memiliki pengaruh pada dunia buku. Kita gak punya media yang berpengaruh seperti Kirkus Review, Publisher Weekly, dan lainnya, itu kelemahan kita.

#Twitteriak: Pernah dapat respons negatif nggak ketika meresensi buku? (pertanyaan @RizkaFelyna)
Hernadi Tanzil: Belum! Selama ini ‘aman-aman’ saja.

#Twitteriak: Apa harapan Anda bagi penerbit Indonesia supaya lebih maju dan mencerdaskan bangsa? (pertanyaan @tezarnet)
Hernadi Tanzil: Harapannya, penerbit tidak hanya menerbitkan buku-buku laris saja, tapi buku-buku yangbermutu walau bukan buku laris.

#Twitteriak: Bolehkah dalam resensi menyebut ‘sebaiknya jangan beli buku ini, mendingan pinjam saja’? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Sebaiknya jangan! Kalau buku tersebut jelek, sampaikan kelemahan-kelemahannya saja biar pembaca resensi yang menentukan untuk beli atau tidak.

#Twitteriak: Dapat tugas sekolah nih buat meresensi buku. Ada cara mudah nggak? (pertanyaan @titititi_ti)
Hernadi Tanzil: Cobalah memulainya 🙂

#Twitteriak: Bagaimana mengkritisi sebuah karya tanpa ‘mematikan’ semangat berkarya penulisnya? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Pakai bahasa yang santun, jangan hanya bicara keburukannya, tapi ungkapkan juga kelebihan-kelebihan dari karyanya.

#Twitteriak: Bisa kasih contoh kalimat yang mengkritik santun? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Wah, susah kalau di sini, space-nya terbatas.

#Twitteriak: Adakah trik meresensi ‘buku sulit’? (pertanyaan @bzee_why)
Hernadi Tanzil: Kalau kita memang sulit berpendapat tentang buku sulit tersebut, coba kutip pendapat resensor lain yang berhasil meresensinya.

#Twitteriak: Sejauh apa kegiatan meresensi mengubah hidup @htanzil ? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Meresensi adalah mengikat makna (istilahnya Mas Hernowo) jadi makna dari buku yang saya baca tertanam pada diri saya.

#Twitteriak: Bagaimana mendeteksi resensi di media cetak yang resensornya tidak benar-benar membaca buku tersebut? (pertanyaan @balonbiru)
Hernadi Tanzil: Sudah jadi rahasia umum jika ada beberapa resensor yang bisa membuat resensi walau tanpa menamatkan buku yang dibacanya. Sulit mendeteksinya, biasanya mereka cuma mengutip sinopsis di cover belakang atau kutip kata pengantar buku tersebut.

#Twitteriak: Kalau ingin dimuat di media cetak, resensor harus menggali aspek apa saja dari suatu buku? (pertanyaan @balonbiru)
Hernadi Tanzil: Redaksi media cetak biasanya senang kalau si resensor membuat perbandingan dengan buku-buku sejenis yang diresensinya.

#Twitteriak: Pernahkah sengaja melawan arus, misalnya membaca buku yang dikomentari negatif oleh banyak orang? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Biasanya buku-buku yang dikomentari negatif membuat saya penasaran dan ingin membacanya langsung.

#Twitteriak: Pernah meresensi buku anak yang tipis dan ringan-ringan? (pertanyaan @triaayuk)
Hernadi Tanzil: Sepetinya pernah, tapi harus bongkar-bongkar arsip resensi dulu. sebetulnya bukan kurang minat dengan buku anak, tapi kebetulan saya jarang baca buku anak lagi.

#Twitteriak: Apa seorang peresensi dituntut harus bisa menulis? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Ya, karena meresensi itu menulis.

#Twitteriak: Apakah Anda membaca habis sebuah buku tanpa terburu-buru sebelum meresensinya? Atau sekadar skimming? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Bagi saya tabu kalau menulis resensi hanya berdasarkan skiming, jadi harus tamat dulu.

#Twitteriak: Kesal nggak kalau baca buku yang ternyata disensor? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Kesal banget! Karena jadi nggak utuh bacanya.

#Twitteriak: Buku apa yang paling sulit untuk diresensi sejauh ini? Mengapa? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Buku-buku sejarah, karena harus riset dengan buku-buku yang sejenis. Saya suka baca buku sejarah, tapi jarang meresensinya.

#Twitteriak: Ada batasan nggak tiap mereview buku? Jumlah kata atau paragraf? Di mana kita bisa tahu berapa batas resensi untuk media cetak karena terkadang mereka tidak mencantumkannya? (pertanyaan @alvina13)
Hernadi Tanzil: Kalau untuk media cetak, ada. Kalau blog, tidak. Di sini memang dituntut kejelian pengamatan kita pribadi atas resensi-resensi di koran, tiap koran beda-beda batasan-batasannya.

#Twitteriak: Masih ingat nggak buku apa yang Anda resensi pertama kali? (pertanyaan @alvina13)
Hernadi TanzilLayar Terkembang, waktu SMP dulu.

 #Twitteriak: Adakah peresensi yang menjadi panutan Anda? Pernahkan mencari gaya meresensi? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Ada, namanya Anwar Holid @anwarholid.

#Twitteriak: Bagaimana Anda bersikap jika sebagian/seluruh resensi dikutip tanpa ijin oleh pihak lain dan dipublikasikan? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Kalau dikutip 1-2 alinea saja gak apa-apa, tapi kalau seluruh resensi ya kesel juga. Resensi saya di blog pernah beberapa kali dijiplak dan dimuat di media cetak, itu resiko kalau menulis di blog. Biasanya kalau ketahuan, saya akan coba pertanyakan hal ini pada media yang memuatnya.

#Twitteriak: Kapan waktu paling baik untuk membuat resensi? Apakah setelah buku terbit? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Kalau untuk media cetak sebaiknya buku baru.

#Twitteriak: Apa meresensi buku-buku lama (yang mungkin sudah tidak ada di pasaran) ada gunanya bagi Anda? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Meresensi buku-buku lama itu bermanfaat buat saya dan buat pembaca juga tentunya.

#Twitteriak: Apakah dunia penerbitan Indonesia sudah memberi ruang yang memadai bagi peresensi?

Hernadi Tanzil: Saya rasa dunia penerbitan kita sudah mulai menghargai peran peresensi, baik di media cetak maupun cyber.

#Twitteriak: BBI vs. Kirkus Review/P&W/Guardian, apa plus minusnya dari kacamata Anda?
Hernadi Tanzil: Plus-nya pembaca punya acuan dalam menetukan buku apa yang akan dia baca. Minusnya? Wah, jujur aja belum terpikir.

#Twitteriak: Sampai kapan niat meresensi ini akan digeluti? Ada niat meregenerasi kemampuan ini kepada resensor yang muda-muda?
Hernadi Tanzil: Saya akan meresensi selama saya masih bisa membaca dan menulis. Itu komitmen saya. Regenerasi kemampuan meresensi? Secara formal mungkin tidak, karena ada banyak resensor yang lebih hebat. Secara non formal, blog http://bukuygkubaca.blogspot.com sangat terbuka untuk teman-teman yang mau belajar meresensi dan BBI (Blogger Buku Indonesia) saya rasa bisa jadi salah satu tempat yang menyenangkan untuk belajar meresensi buku.

#Twitteriak: Apa alasan paling utama yang membuat Anda menjadi seorang resensor? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Hanya sekedar berbagi pengalaman membaca.

#Twitteriak: Apa pesan untuk para tweereak yang menyimak obrolan ini?
Hernadi Tanzil: Pesan terakhir untuk para calon resensor, jangan takut untuk mencoba. Langkah awal jangan terlalu terikat dengan aturan begini begitu. Tulislah dulu apa yang ada di kepala setelah membaca buku, lenturkan dulu otot-otot menulis resensi. Setelah lentur, baru belajar teknik-teknik meresensi secara baik dan benar. Teruslah menulis! Untuk para peresensi, pesannya cuman satu “Keep Reading and writing!

[Kutipan Buku] Hitler, Nazi, dan Kesejahteraan Satwa

2 Komentar

Berikut adalah kutipan dari buku Rin Tin Tin by Susan Orlean yang membahas tentang hubungan antara Hitler, Nazi, dan pandangan mereka terhadap anjing dan satwa lainnya.

Selamat membaca, dan temukan sebuah kontradiksi menyakitkan yang terdeskripsi dalam paragraf-paragraf ini,

……………………….

 Nazi mengagumi serigala karena keberhasilan mereka sebagai predator – mereka  merupakan mahluk dominan di dalam pandangan Nazi terhadap alam sebagai medan pertempuran yang kejam dan hierarkis – dan anjing gembala Jerman dikagumi karena Germanizher Urhund mereka, atau kemiripannya dengan serigala. Hitler sangat menyukai jenis ini. Pada 1930-an, dia memiliki dua gembala Jerman, induk dan anak, dua-duanya bernama Blonda. Pada 1941, setelah Blonda mati, sekretarisnya, Martin Boorman, memberinya betina berwarna hitam dan keperakan yang diberi nama Blondi. Hitler menjadi sangat dekat dengan anjing itu hingga membolehkan binatang ini tidur di ranjangnya. Bahkan, dia tidak menawarkan keistimewaan yang sama kepada kekasihnya, Eva Braun.

Hitler sangat memedulikan binatang dan kesejahteraan mereka. “Di dalam Kerajaan Ketiga,” dia pernah mengumumkan, “tidak boleh ada lagi kekejaman terhadap binatang.” Beberapa peraturan awal yang ditetapkan oleh Partai Nazi menyinggung perlindungan terhadap binatang dan pelanggarnya bisa dikirimkan ke kamp konsentrasi. Pembedahan, pemotongan ekor, dan pengebirian dilarang. Berburu dan balap kuda diatur dan dibatasi. Memasak lobster dan kepiting dengan merebusnya hidup-hidup dianggap melanggar hukum. Para dokter hewan diangkat ke tingkat tertinggi keanggotaan Partai Nazi. Walaupun tidak ada serigala liar di Jerman, spesies ini dilingungi dengan ketat.  Anaka-anak sekolah – yang diberi hadiah karena melaporkan kaum yang dicurigai non-Arya di lingkungan tempat tinggal mereka – diberi kursus tentang kesejahteraan binatang dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. Pada 1933 Undang-undang Perlindungan Satwa Reich meliputi pelanggaran penggunaan binatang di dalam film.

Kaum Nazi juga menggunakan perhatian saksama mereka terhadap kesejahteraan satwa sebagai sebuah cara untuk lebih mempermalukan para korban mereka (kaum yahudi). Dengan menaikkan derajad bintang di dalam hukum alam dan mengatur kenyamanan serta keselamatan mereka dengan undang-undang, mereka merendahkan kaum Yahudi, kaum Gipsi, dan non-Arya lainnya ke dalam status yang bahkan lebih rendah daripada mahluk-mahluk yang nyaris tidak mampu merasakan seperti lobster:  seorang Yahudi boleh dimasukkan ke dalam kamar gas, tetapi seekor lobster tidak boleh dimasak di dalam panci berisi air mendidih.

Kontradiksi menjijikkan ini digambarkan secara mencolok oleh Proyek Angora, sebuah program pengembangbiakkan kelinci yang dioperasikan oleh SS di kamp konsentrasi Auschwitz, Dachau, dan Buchenwald. Kelinci dipelihara oleh para tahanan di kamp itu hidup di dalam pondok-pondok indah dan diberi pakanan mewah. Bulu mereka dicukur dan digunakan sebagai pengisi lapisan dalam jaket musim dingin para pilot  Luftwaffe. Tetapi Heinrich Himmler, ketua SS, yang menjalankan proyek tersebut dan mendokumentasikannya di dalam buku catatan, juga menginginkan kelinci-kelinci itu untuk tujuan lain. Dia ingin para tahanan yang kelaparan itu diingatkan, sementara menyiapkan pakanan untuk hewan-hewan dan membersihkan kandang mereka, bahwa mereka punya nilai yang lebih rendah di dalam tatanan dunia Nazi, menerima lebih sedikit kehormatan, dan sedikit hak, daripada binatang-binatang yang mereka rawat.

……………….

Sumber :

Rin Tin Tin, Perjalanan Hidup Seekor Anjing pada Perang Dunia I

Penulis :  Susan Orlean,

Penerbit : Ufuk, Mei 2012

(hlm 257-258)

@htanzil

Rak Buku Raksaksa di Perpustakaan Musashino University, Tokyo

Tinggalkan komentar

Perpustakaan Musashino University ini masih sedang dalam renovasi. Coba kita lihat rak buku yang memenuhi seluruh ruangan perpustakaan bahkan koridor perpustakaan pun dipenuhi rak-rak buku yang belum seluruhnya terisi.

sumber : http://bookriot.com/2012/10/03/the-bookshelf-library/

@htanzil

Older Entries