Berikut adalah kutipan dari buku Rin Tin Tin by Susan Orlean yang membahas tentang hubungan antara Hitler, Nazi, dan pandangan mereka terhadap anjing dan satwa lainnya.

Selamat membaca, dan temukan sebuah kontradiksi menyakitkan yang terdeskripsi dalam paragraf-paragraf ini,

……………………….

 Nazi mengagumi serigala karena keberhasilan mereka sebagai predator – mereka  merupakan mahluk dominan di dalam pandangan Nazi terhadap alam sebagai medan pertempuran yang kejam dan hierarkis – dan anjing gembala Jerman dikagumi karena Germanizher Urhund mereka, atau kemiripannya dengan serigala. Hitler sangat menyukai jenis ini. Pada 1930-an, dia memiliki dua gembala Jerman, induk dan anak, dua-duanya bernama Blonda. Pada 1941, setelah Blonda mati, sekretarisnya, Martin Boorman, memberinya betina berwarna hitam dan keperakan yang diberi nama Blondi. Hitler menjadi sangat dekat dengan anjing itu hingga membolehkan binatang ini tidur di ranjangnya. Bahkan, dia tidak menawarkan keistimewaan yang sama kepada kekasihnya, Eva Braun.

Hitler sangat memedulikan binatang dan kesejahteraan mereka. “Di dalam Kerajaan Ketiga,” dia pernah mengumumkan, “tidak boleh ada lagi kekejaman terhadap binatang.” Beberapa peraturan awal yang ditetapkan oleh Partai Nazi menyinggung perlindungan terhadap binatang dan pelanggarnya bisa dikirimkan ke kamp konsentrasi. Pembedahan, pemotongan ekor, dan pengebirian dilarang. Berburu dan balap kuda diatur dan dibatasi. Memasak lobster dan kepiting dengan merebusnya hidup-hidup dianggap melanggar hukum. Para dokter hewan diangkat ke tingkat tertinggi keanggotaan Partai Nazi. Walaupun tidak ada serigala liar di Jerman, spesies ini dilingungi dengan ketat.  Anaka-anak sekolah – yang diberi hadiah karena melaporkan kaum yang dicurigai non-Arya di lingkungan tempat tinggal mereka – diberi kursus tentang kesejahteraan binatang dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. Pada 1933 Undang-undang Perlindungan Satwa Reich meliputi pelanggaran penggunaan binatang di dalam film.

Kaum Nazi juga menggunakan perhatian saksama mereka terhadap kesejahteraan satwa sebagai sebuah cara untuk lebih mempermalukan para korban mereka (kaum yahudi). Dengan menaikkan derajad bintang di dalam hukum alam dan mengatur kenyamanan serta keselamatan mereka dengan undang-undang, mereka merendahkan kaum Yahudi, kaum Gipsi, dan non-Arya lainnya ke dalam status yang bahkan lebih rendah daripada mahluk-mahluk yang nyaris tidak mampu merasakan seperti lobster:  seorang Yahudi boleh dimasukkan ke dalam kamar gas, tetapi seekor lobster tidak boleh dimasak di dalam panci berisi air mendidih.

Kontradiksi menjijikkan ini digambarkan secara mencolok oleh Proyek Angora, sebuah program pengembangbiakkan kelinci yang dioperasikan oleh SS di kamp konsentrasi Auschwitz, Dachau, dan Buchenwald. Kelinci dipelihara oleh para tahanan di kamp itu hidup di dalam pondok-pondok indah dan diberi pakanan mewah. Bulu mereka dicukur dan digunakan sebagai pengisi lapisan dalam jaket musim dingin para pilot  Luftwaffe. Tetapi Heinrich Himmler, ketua SS, yang menjalankan proyek tersebut dan mendokumentasikannya di dalam buku catatan, juga menginginkan kelinci-kelinci itu untuk tujuan lain. Dia ingin para tahanan yang kelaparan itu diingatkan, sementara menyiapkan pakanan untuk hewan-hewan dan membersihkan kandang mereka, bahwa mereka punya nilai yang lebih rendah di dalam tatanan dunia Nazi, menerima lebih sedikit kehormatan, dan sedikit hak, daripada binatang-binatang yang mereka rawat.

……………….

Sumber :

Rin Tin Tin, Perjalanan Hidup Seekor Anjing pada Perang Dunia I

Penulis :  Susan Orlean,

Penerbit : Ufuk, Mei 2012

(hlm 257-258)

@htanzil