Berikut saya copy pastekan  obrolan Twitteriak di twitter (05/04/2012) dimana aku sebagai bintang tamunya🙂

Harus diakui banyak orang suka membaca, tetapi dari sekian banyak, berapa banyak yang mampu berkomitmen untuk menulis semua buku yang pernah dibacanya, tanpa kecuali? Rasa-rasanya tidak banyak. Padahal peresensi buku dalam dunia perbukuan cukup memiliki posisi penting. Ia merupakan pembaca pertama dari buku-buku yang telah terbit. Posisi first reader ini di luar negeri, memiliki kekuatan penentu, semacam radar yang digunakan oleh masyarakat buku untuk menebak apakah suatu buku akan berhasil atau tidak diterima oleh masyarakat. Tolak ukurnya adalah penerimaan para pembaca pertama ini. Itulah sebabnya, peresensi yang tergabung di Kirkus Review atau Publisher Weekly dihormati baik oleh kalangan pembaca umum, maupun oleh kalangan industri. Perhatian kalangan industri perbukuan pada peresensi bukan tanpa alasan. Seringkali terjadi, buku yang telah diresensi oleh perensi terkemuka akan diikuti dengan meningkatnya penjualan buku secara nasional. Bagaimana dengan di Indonesia? Seperti apakah gambaran peresensi di negeri yang dicap memiliki minat baca rendah ini?
Itulah sebabnya, obrolan TWITTERIAK menghadirkan Hernadi Tanzil, peresensi yang telah malang melintang di dunia resensi sejak tahun 2000. Meskipun sehari-hari bekerja sebagai akuntan, tetapi minat membaca dan menulisnya terpupuk lewat kegiatan meresensi ini. Mengaku membutuhkan buku sama seperti membutuhkan pakaian, Hernadi Tanzil yang lahir 5 November 1970 ini, tumbuh menjadi pembaca sejak kecil.

Sejak di Sekolah Dasar, ia telah senang membaca. Sepanjang ingatannya, buku pertama yang dibacanya adalah komik Petruk & Gareng. Selanjutnya, ia juga membaca majalah Bobo, komik Mahabarata karya R.A.Kosasih, komik-komik karya Ganes Th, Lima Sekawan, Agatha Christie, dan masih banyak lagi lainnya. Barulah ketika di SMP-SMA, ia berkenalan dengan karya-karya sastra klasik terbitan Balai Pustaka. Mulai menekuni menulis resensi secara otodidak dengan mempelajari review yang telah ditulis orang lain, kini Hernadi Tanzil mereview rata-rata 33 buku setiap tahunnya. Hernadi Tanzil menyebut tugas peresensi lebih dari sekedar meringkas. Tugas peresensi adalah memberi opini pribadi yang paling jujur atas buku yang telah dibacanya dan dengan demikian ikut membantu menyebarkan virus membaca.

Untuk mengungkap lebih jauh bagaimana kehidupan peresensi di negeri ini, simak obrolan TWITTERIAK bersama Hernadi Tanzil berikut ini.

#Twitteriak: Apa peresensi buku itu? Apa tugasnya?
Hernadi Tanzil: Peresensi buku itu orang yang tugasnya mengulas isi dari buku yang dibacanya.

#Twitteriak: Adakah metode khusus meresensi buku? 
Hernadi Tanzil: Ada tips-tips khusus dalam meresensi, yang pasti merensi itu bukan meringkas.

#Twitteriak: Belajar meresensi darimana?
Hernadi Tanzil: Kalau saya belajar otodidak dari membaca resensi-resensi orang di media cetak/cyber dan buku.

#Twitteriak: Tujuan utama Anda menciptakan @BBI_2011 itu apa? Kenapa akunnya pakai angka tahun? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Untuk mengumpulkan blogger-blogger buku di Indonesia agar bisa bersinergi bersama-sama dalam menyebarkan virus membaca. Oh, itu sekedar pengingat tahun berdirinya BBI (Blogger Buku Indonesia).

#Twitteriak: Apa semua buku yang dibaca ditulis resensinya atau buku-buku yang dianggap menarik oleh Anda? (pertanyaan @owlmilove)
Hernadi Tanzil: Komitmen saya adalah meresensi semua buku yang pernah saya baca baik itu yang menarik maupun yang tidak.

#Twitteriak: Bolehkah seorang peresensi memasukkan opini pribadinya? Atau harus benar-benar netral? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Boleh! Karena sejatinya resensi adalah opini pribadi resensor, bukan pendapat netral.

#Twitteriak: Apa keuntungan dan kerugian menjadi peresensi? (pertanyaan @melody_violine)
Hernadi Tanzil: Kalau masuk media cetak, (peresensi) dapat honor atau sering dapat buntelan (buku gratis) dari penerbit. Keuntungan lain adalah kita jadi terbiasa untuk berpikir dan menulis secara kritis terhadap isi sebuah buku. Kerugiannya? Paling dicemberutin kalau resensi kita terlalu pedas.

#Twitteriak: Berapa perbandingan buku yang dibaca dengan yang direview? (pertanyaan @tezarnet)
Hernadi Tanzil: Semua buku yang saya baca akan saya review, itu komitmen saya.

#Twitteriak: Apakah meresensi itu murni inisiatif pribadi atau sebenarnya pesanan dari penerbit?
Hernadi Tanzil: Bagi saya meresensi itu inisiatif pribadi… Memang banyak penerbit/penulis yang minta bukunya diresensi, tetapi keputusan untuk meresensi atau tidak itu keputusan pribadi. Secara isi, walau penerbit/penulis yang meminta bukunya untuk diresensi tapi isinya bukan ‘pesanan’ tapi opini pribadi.

#Twitteriak: Batas apa yang tidak boleh dilanggar dari sebuah resensi? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Untuk buku fiksi tidak boleh ada spoiler. Resensi itu harus ada opini, bukan hanya meringkas/menulis sinopsis buku.

#Twitteriak: Apa perlu belajar meresensi melalui pendidikan formal khusus? Apakah sudah ada? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Tidak ada. Menulis resensi adalah bagian dari creative writing, jadi setahu saya tidak ada pendidikan formal secara khusus.

#Twitteriak: Bagaimana caranya agar review buku nggak malah jadi bikin ringkasan isi buku? (pertanyaan @f3r1n4)
Hernadi Tanzil: Masukkan opini pribadi.

#Twitteriak: Apa dasar-dasar umum untuk menulis resensi? Apa ada teknik-teknik dalam penulisan resensi? (pertanyaan @mariana_pink)
Hernadi Tanzil: Ada beberapa buku tentang teknik menulis resensi buku. Ini salah satunya “Berguru Pada Pesohor” (http://bukuygkubaca.blogspot.com/2011/11/pesohor-draft.html )

#Twitteriak: Apakah seorang peresensi itu sama dengan kritikus? Pernahkah kasus karena resensi Anda berpengaruh pada penjualan buku tersebut? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Menurut saya bisa juga disebut kritikus, karena peresensi juga mengkritik isi dari buku yang diresensinya. Berpengaruhkah resensi pada penjualan buku? saya tidak punya datanya, tapi kalau selama ini penerbit-penerbit rajin mengirim buku-buku pada resensor, saya rasa itu indikasi kalau ada pengaruhnya pada penjualan buku.

#Twitteriak: Tidak semua yang suka buku sama dengan blogger. Apa mereka yang masuk kategori ini boleh gabung ke BBI? (pertanyaan @esvandiarisant)

Hernadi Tanzil: Karena namanya komunitas Blogger Buku Indonesia, maka ini khusus untuk para blogger buku. Mereka yang suka buku, tapi tidak punya blog buku silahkan gabung di obrolan2 seru BBI baik di @BBI_2011 atau Fan Page BBI di Facebook.

#Twitteriak: Kalau dapet buntelan, kan ‘wajib’ review. Gimana kalau ternyata buku itu gak sesuai ‘ekspektasi’? (pertanyaan @f3r1n4)
Hernadi Tanzil: Saya rasa kalau kita tidak meminta buntelan, maka itu tidak wajib diresensi karena diresensi atau tidak itu tergantung resensornya.Wajib diresensi kalau kita meminta buku pada penerbit untuk diresensi, kalau nggak sesuai saya pribadi tetap meresensi.

#Twitteriak: Apa pernah bosan/ jenuh dalam meresensi? (pertanyaan @mariana_pink)

Hernadi Tanzil: Tentu saja pernah. Kalau jenuh, saya off dulu beberapa saat.

#Twitteriak: Biasanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meresensi buku? (pertanyaan @owlmilove)

Hernadi Tanzil: 2-3 hari karena perlu diendapkan dulu.

#Twitteriak: Kalau mood ngeresensi lagi tidak ada, apa yang Anda lakukan? (pertanyaan @speakercoret)
Hernadi Tanzil: Membaca resensi orang lain. Dengan membaca resensi orang lain biasanya jadi semangat, apalagi kalau lihat antusiasme teman-teman BBI dalam meresensi.

#TWitteriak: Bagaimana peluang bisnis untuk penulis resensi buku di Indonesia sekarang ini? (pertanyaan @mariana_pink)
Hernadi Tanzil: Setiap minggu di koran-koran pasti ada kolom resensi buku, ini bisa jadi peluang untuk dimuat dan mendapat honor.

#Twitteriak: Ketika resensi berbuah penerimaan, hadiah mana yang lebih memuaskan, buku atau isi rekening? (pertanyaan @dion_yulianto)
Hernadi Tanzil: Jujur aja kalau honornya besar, ya senang dapat uang. Tapi diberi buku gratis pun sdh memuaskan.

#Twitteriak: Apa tips meresensi buku yang terjemahan/ceritanya buruk tanpa menyinggung si penerjemah/penulis? (pertanyaan @just1ian)
Hernadi Tanzil: Sampaikan dengan kritis, dengan kalimat yang santun. Di situlah seninya menulis resensi, menulis dengan kritis, tegas, dengan kalimat yang elegan sehingga tidak bikin (penulis) tersinggung.

#Twitteriak: Selain kurang banyak, apa kekurangan review buku di indonesia? (pertanyaan @hurufkecil)

Hernadi Tanzil: Kedalaman isi review buku. Selain isi review, kita juga gak punya majalah/media yang resensi bukunya memiliki pengaruh pada dunia buku. Kita gak punya media yang berpengaruh seperti Kirkus Review, Publisher Weekly, dan lainnya, itu kelemahan kita.

#Twitteriak: Pernah dapat respons negatif nggak ketika meresensi buku? (pertanyaan @RizkaFelyna)
Hernadi Tanzil: Belum! Selama ini ‘aman-aman’ saja.

#Twitteriak: Apa harapan Anda bagi penerbit Indonesia supaya lebih maju dan mencerdaskan bangsa? (pertanyaan @tezarnet)
Hernadi Tanzil: Harapannya, penerbit tidak hanya menerbitkan buku-buku laris saja, tapi buku-buku yangbermutu walau bukan buku laris.

#Twitteriak: Bolehkah dalam resensi menyebut ‘sebaiknya jangan beli buku ini, mendingan pinjam saja’? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Sebaiknya jangan! Kalau buku tersebut jelek, sampaikan kelemahan-kelemahannya saja biar pembaca resensi yang menentukan untuk beli atau tidak.

#Twitteriak: Dapat tugas sekolah nih buat meresensi buku. Ada cara mudah nggak? (pertanyaan @titititi_ti)
Hernadi Tanzil: Cobalah memulainya🙂

#Twitteriak: Bagaimana mengkritisi sebuah karya tanpa ‘mematikan’ semangat berkarya penulisnya? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Pakai bahasa yang santun, jangan hanya bicara keburukannya, tapi ungkapkan juga kelebihan-kelebihan dari karyanya.

#Twitteriak: Bisa kasih contoh kalimat yang mengkritik santun? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Wah, susah kalau di sini, space-nya terbatas.

#Twitteriak: Adakah trik meresensi ‘buku sulit’? (pertanyaan @bzee_why)
Hernadi Tanzil: Kalau kita memang sulit berpendapat tentang buku sulit tersebut, coba kutip pendapat resensor lain yang berhasil meresensinya.

#Twitteriak: Sejauh apa kegiatan meresensi mengubah hidup @htanzil ? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Meresensi adalah mengikat makna (istilahnya Mas Hernowo) jadi makna dari buku yang saya baca tertanam pada diri saya.

#Twitteriak: Bagaimana mendeteksi resensi di media cetak yang resensornya tidak benar-benar membaca buku tersebut? (pertanyaan @balonbiru)
Hernadi Tanzil: Sudah jadi rahasia umum jika ada beberapa resensor yang bisa membuat resensi walau tanpa menamatkan buku yang dibacanya. Sulit mendeteksinya, biasanya mereka cuma mengutip sinopsis di cover belakang atau kutip kata pengantar buku tersebut.

#Twitteriak: Kalau ingin dimuat di media cetak, resensor harus menggali aspek apa saja dari suatu buku? (pertanyaan @balonbiru)
Hernadi Tanzil: Redaksi media cetak biasanya senang kalau si resensor membuat perbandingan dengan buku-buku sejenis yang diresensinya.

#Twitteriak: Pernahkah sengaja melawan arus, misalnya membaca buku yang dikomentari negatif oleh banyak orang? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Biasanya buku-buku yang dikomentari negatif membuat saya penasaran dan ingin membacanya langsung.

#Twitteriak: Pernah meresensi buku anak yang tipis dan ringan-ringan? (pertanyaan @triaayuk)
Hernadi Tanzil: Sepetinya pernah, tapi harus bongkar-bongkar arsip resensi dulu. sebetulnya bukan kurang minat dengan buku anak, tapi kebetulan saya jarang baca buku anak lagi.

#Twitteriak: Apa seorang peresensi dituntut harus bisa menulis? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Ya, karena meresensi itu menulis.

#Twitteriak: Apakah Anda membaca habis sebuah buku tanpa terburu-buru sebelum meresensinya? Atau sekadar skimming? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Bagi saya tabu kalau menulis resensi hanya berdasarkan skiming, jadi harus tamat dulu.

#Twitteriak: Kesal nggak kalau baca buku yang ternyata disensor? (pertanyaan @rinurbad)
Hernadi Tanzil: Kesal banget! Karena jadi nggak utuh bacanya.

#Twitteriak: Buku apa yang paling sulit untuk diresensi sejauh ini? Mengapa? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Buku-buku sejarah, karena harus riset dengan buku-buku yang sejenis. Saya suka baca buku sejarah, tapi jarang meresensinya.

#Twitteriak: Ada batasan nggak tiap mereview buku? Jumlah kata atau paragraf? Di mana kita bisa tahu berapa batas resensi untuk media cetak karena terkadang mereka tidak mencantumkannya? (pertanyaan @alvina13)
Hernadi Tanzil: Kalau untuk media cetak, ada. Kalau blog, tidak. Di sini memang dituntut kejelian pengamatan kita pribadi atas resensi-resensi di koran, tiap koran beda-beda batasan-batasannya.

#Twitteriak: Masih ingat nggak buku apa yang Anda resensi pertama kali? (pertanyaan @alvina13)
Hernadi TanzilLayar Terkembang, waktu SMP dulu.

 #Twitteriak: Adakah peresensi yang menjadi panutan Anda? Pernahkan mencari gaya meresensi? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Ada, namanya Anwar Holid @anwarholid.

#Twitteriak: Bagaimana Anda bersikap jika sebagian/seluruh resensi dikutip tanpa ijin oleh pihak lain dan dipublikasikan? (pertanyaan @nabilabudayana)
Hernadi Tanzil: Kalau dikutip 1-2 alinea saja gak apa-apa, tapi kalau seluruh resensi ya kesel juga. Resensi saya di blog pernah beberapa kali dijiplak dan dimuat di media cetak, itu resiko kalau menulis di blog. Biasanya kalau ketahuan, saya akan coba pertanyakan hal ini pada media yang memuatnya.

#Twitteriak: Kapan waktu paling baik untuk membuat resensi? Apakah setelah buku terbit? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Kalau untuk media cetak sebaiknya buku baru.

#Twitteriak: Apa meresensi buku-buku lama (yang mungkin sudah tidak ada di pasaran) ada gunanya bagi Anda? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Meresensi buku-buku lama itu bermanfaat buat saya dan buat pembaca juga tentunya.

#Twitteriak: Apakah dunia penerbitan Indonesia sudah memberi ruang yang memadai bagi peresensi?

Hernadi Tanzil: Saya rasa dunia penerbitan kita sudah mulai menghargai peran peresensi, baik di media cetak maupun cyber.

#Twitteriak: BBI vs. Kirkus Review/P&W/Guardian, apa plus minusnya dari kacamata Anda?
Hernadi Tanzil: Plus-nya pembaca punya acuan dalam menetukan buku apa yang akan dia baca. Minusnya? Wah, jujur aja belum terpikir.

#Twitteriak: Sampai kapan niat meresensi ini akan digeluti? Ada niat meregenerasi kemampuan ini kepada resensor yang muda-muda?
Hernadi Tanzil: Saya akan meresensi selama saya masih bisa membaca dan menulis. Itu komitmen saya. Regenerasi kemampuan meresensi? Secara formal mungkin tidak, karena ada banyak resensor yang lebih hebat. Secara non formal, blog http://bukuygkubaca.blogspot.com sangat terbuka untuk teman-teman yang mau belajar meresensi dan BBI (Blogger Buku Indonesia) saya rasa bisa jadi salah satu tempat yang menyenangkan untuk belajar meresensi buku.

#Twitteriak: Apa alasan paling utama yang membuat Anda menjadi seorang resensor? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hernadi Tanzil: Hanya sekedar berbagi pengalaman membaca.

#Twitteriak: Apa pesan untuk para tweereak yang menyimak obrolan ini?
Hernadi Tanzil: Pesan terakhir untuk para calon resensor, jangan takut untuk mencoba. Langkah awal jangan terlalu terikat dengan aturan begini begitu. Tulislah dulu apa yang ada di kepala setelah membaca buku, lenturkan dulu otot-otot menulis resensi. Setelah lentur, baru belajar teknik-teknik meresensi secara baik dan benar. Teruslah menulis! Untuk para peresensi, pesannya cuman satu “Keep Reading and writing!