Menulis dan Jejaring Sosial 
oleh : Anwar Holid

Apa zaman sekarang membuat manusia jadi lebih sabar?
Perhatikan orang-orang yang sedang antre, menunggu sesuatu, atau tengah melakukan aktivitas lain untuk membunuh kebosanan. Rasanya kini lebih jarang terdengar keluhan atas berbagai hal. Itu karena kini nyaris hampir setiap orang—bahkan anak SD sekalipun—ditemani perkakas elektronik mungil entah berupa handphone, smartphone, dan tentu saja yang paling trend: tablet. Salah satu aktivitas yang bisa membuat mereka tenang ternyata ialah membaca dan menulis menggunakan fasilitas yang tersedia di sana. Bisa jadi mereka berkomentar, menulis sesuatu di jejaring sosial, mengirim pesan, chatting, blogging, bahkan benar-benar menulis untuk keperluan khusus lain—misalnya bikin publisitas untuk viral marketing. Tentu saja ini merupakan dampak menggembirakan bagi dunia tulis-menulis.Hernadi Tanzil, seorang peresensi yang mengukuhkan reputasinya dari dunia maya, berkomentar: “Fenomena baca dan tulis semenjak ada Facebook, blog, dan Twitter saya rasa memang meningkat. Apalagi di era blog. Semua berlomba menulis apa yang ada di benar mereka. Hanya saja kehadiran Facebook dan Twitter agak sedikit menggeser aktivitas menulis karena orang jadi malas menulis secara utuh dan terstruktur, mereka jadi lebih tergerak untuk menulis status-status singkat dan membaca status-status singkat yang ditulis orang.”Apa jaringan sosial berpengaruh hebat pada kebiasaan menulis dan pemahaman orang? Apalagi kini jaringan sosial bersinergi dengan kemajuan alat-alat komunikasi. Tampaknya begitu.

Pada akhir 2009 Chauncey Mabe melaporkan penelitian lima tahun yang dilakukan Stanford University betapa teknologi digital—terutama jejaring sosial—membuat para remaja menjadi penulis yang lebih baik. Kenapa? Temuan mereka mengungkap fakta simpel: Anda mustahil berperan serta di semua fasilitas itu tanpa kemampuan menulis dan berpikir. Anda pikir status di Facebook, Twitter, maupun Yahoo! sembarangan saja muncul? Tidak. Ia lahir karena alasan tertentu.

Mari perhatikan sekilas saja. Seorang pengguna Facebook bisa saja mula-mula menulis status, kemudian mengomentari status ataupun tulisan kawannya. Selain itu dia membaca berbagai hal, entah notes, email, iklan, dan berita. Untuk keperluan khusus, bisa jadi dia meloncat-loncat dari satu forum ke link-link eksternal menuju situs lain. Dalam sekali buka, entah berapa halaman yang bisa dijelajahi seseorang sekaligus. Kunjungan itu bisa jadi tanpa terasa dan secara amat alamiah memaksa orang meningkatkan kemampuan baca-tulis dan memahami media lain, misalnya audio-visual.

Kita menyaksikan betapa teknologi dan manusia saling mempengaruhi, meski bisa jadi itu semua masih lebih didorong oleh kapitalisme dan kesenangan daripada demi memenuhi kebutuhan manusia secara esensial. Kita lihat betapa setiap saat media massa dan industri teknologi betul-betul merayakan perkembangan tersebut, baik dalam upaya saling integrasi maupun berkompetisi demi mencapai yang terbaik dan paling menarik—entah melalui desain maupun performa perangkat tersebut.

Antusias dan Menyegarkan
Adenita, penulis novel 9 Matahari, menyambut antusias dinamika dunia baca-tulis yang ditopang kemajuan teknologi. Tulis dia di notes Facebook: “Saya meyakini, booming dunia penulisan ini bukan euforia. Ini bukan hanya perubahan perilaku, tapi merupakan perubahan budaya. Meski belum menyeluruh, setidaknya membawa perubahan dari budaya menonton (watching society) menjadi budaya baca (reading society). Dan kemudian naik lagi kepada perubahan budaya menulis (active society). Akhirnya, nikmati semua kemewahan fasilitas komunikasi yang terbentang dihadapan mata. Jangan hanya menjadi saksi ’booming’nya dunia penulisan. Tinggalkan jejakmu dalam tulisan, karena siapapun bisa jadi penulis.. ”

Kompas, misalnya, menilai perkembangan tulis-menulis di dunia maya sebagai sesuatu yang menyegarkan, baik dari segi penjelajahan teknik penulisan maupun mode produksi. Pada perkembangan selanjutnya, tentu saja efek positifnya ialah karya-karya dari sana bisa diterbitkan—baik secara tradisional melalui penerbit umum maupun lewat cara tertentu mulai dari self-publishing, POD (print on demand), maupun penerbitan digital yang sekali lagi bisa dibaca lewat berbagai produk teknologi informasi canggih.

Setelah fenomena isi blog menjadi buku, segera menyusul buku berisi status-status Twitter yang dianggap witty (cerdas, nendang, mencerahkan). Bahkan  di kalangan motivator, terbit buku-buku berisi sms yang awalnya mereka sebar lewat kerja sama dengan provider. Mendadak saya sadar ternyata industri buku bisa berkembang untuk terus mencari bentuk baru. Lebih menggembirakan lagi, genre-genre yang beberapa tahun lalu dianggap musiman—seperti chicklit, teenlit, fast book—kini mulai matang untuk membentuk pasar yang besar dan menjanjikan secara finansial. Penerbit sendiri makin berusaha mendekatkan produknya kepada publik, juga melalui berbagai cara dan memanfaatkan semua media yang ada.

Bagaimana dengan nasib penulisnya sendiri? Di sisi yang paling mencolok, Indonesia memasuki era best-seller terbaik yang belum pernah dialami sebelumnya ketika kini penjualan sebuah judul buku bisa mencapai ratusan ribu kopi. Meski masih merupakan fenomena musiman, tetap saja bagi pegiat dunia penerbitan seperti saya, perkembangan itu membesarkan hati. Sudah cukup lama saya kerap merasakan ada sebagian penulis dan penerbit yang begitu obsesif (tergila-gila) untuk menciptakan buku best-seller, dan kini kecenderungan seperti makin menguat.

Baru-baru ini saya mendapati fakta bahwa satu kelompok penerbitan mengurangi standar oplah cetakan demi menyiasati tuntutan produktivitas judul dan kompetisi di pasar, meski kita bisa langsung menebak dampak buruknya terhadap kualitas terbitan. Penulis dan penerbit terus bahu-membahu mengisi kebutuhan pasar dan berusaha terus kreatif menciptakan peluang produk. Saya pikir, sekaranglah zaman ketika menulis bisa dijadikan pegangan profesi, sebab peluangnya terbuka lebar, apalagi bagi penulis yang disiplin, adaptif, dan produktif. Di tengah arus distribusi dan pasar buku yang sangat kompetitif seperti sekarang, penulis profesional juga dituntut untuk bisa menulis cepat dan produktif. Tantangan itu biasanya berbanding terbalik dengan penulis yang mengandalkan mode “menulis sebagai alat ekspresi.”

Ada satu strategi penulisan yang mungkin belum banyak ditempuh sejumlah orang, yaitu menulis buku untuk “personal branding.” Istilah ini diajukan oleh Wandi S. Brata, Direktur Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Istilah ini dia ajukan bagi penulis yang menghasilkan buku lebih sebagai alat untuk menguatkan reputasi atau membangun citra bahwa dirinya ialah ahli di bidang yang dia tulis. Penulis ini mengembangkan bisnis utama dari bidang dia bangun lewat buku, dan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada lewat royalti. Fakta membuktikan, dengan menulis seseorang bisa lebih mudah dikenal dan dipercayai publik untuk memberi training daripada mereka yang belum menulis buku.

Gambaran sederhana atas situasi kehidupan tulis-menulis sekarang ini menurut saya menggembirakan. Saya cukup yakin bahwa meski bisa jadi di tahap awal teknologi hanya digunakan untuk bersenang-senang—misalnya untuk mendengar lagu dan nonton video—teknologi berperan mendekatkan masyarakat pada minat baca dan kebiasaan menulis. Dalam beberapa kali interaksi secara selintas via sms, email, dan blog, saya mendapati betapa ekspresi anak yang baru beranjak dewasa ternyata bisa sangat matang, eksploratif, minatnya pada dunia tulis-menulis antusias sekali. Minat ini secara mudah bisa juga terwadahi di dunia maya, misal dalam komunitas menulis maya, kursus menulis online, bahkan bahkan situs yang benar-benar berdedikasi pada dunia tulis-menulis secara umum.

Saya menduga di zaman Internet dan kemajuan teknologi sekarang justru akses pada pusat informasi begitu terbuka dan persis ada di ujung jari masing-masing pemegang perkakas teknologi, apa pun bentuknya. Memang risiko plagiarisme (mengaku milik orang lain sebagai milik penulis bersangkutan, juga copy-and-paste secara vulgar dan tanpa pengakuan) pun bisa begitu mudah terjadi; tapi saya pikir dengan tambahan ajaran moral, kejujuran, maupun kreativitas, pengaruh buruk itu bisa terus dilawan.[]

Anwar Holid, penulis Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).

Gambar dari Internet.

Link terkait:
http://bukuygkubaca.blogspot.com
http://www.kotakadenita.com