Beranda

[Kutipan Buku] TAN MALAKA dan BUKU

Tinggalkan komentar

Berikut adalah tulisan Tan Malaka tentang persinggungannya dengan pustaka/buku.  Tulisan ini  saya copy paste dari web ini yang disalin dari Bab Pendahuluan buku Madilog – Tan Malaka, terbitan Widjaya, Djakarta, 1951

Selamat membaca, semoga menginspirasi.!

@htanzil

#####

PERPUSTAKAAN

tan-malaka-readingKita masih ingat berapa sindiran dihadapkan pada almarhum Leon Trotsky, karena ia membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan yang pertama di Alma Ata. Saya masih belum lupa akan beberapa tulisan yang berhubungan dengan peti-peti buku yang mengiringi Drs. Mohammad Hatta ke tempat pembuangannya. Sesungguhnya saya maklumi sikap kedua pemimpin tersebut dan sebetulnya saya banyak menyesal karena tiada bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu.

Bagi seseroang yang hidup dalam pikiran yang mesti disebarkan, baik dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup. Seorang tukang tak akan bisa membikin gedung, kalau alatnya seperti semen, batu tembok dan lain-lain tidak ada. Seorang pengarang atau ahli pidato, perlu akan catatan dari buku musuh, kawan ataupun guru. Catatan yang sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut permufakatan dan kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik, perang-pena, baik dalam propaganda, maka catatan itu adalah barang yang tiada bisa ketinggalan, seperti semen dan batu tembok buat membikin gedung. Selainnya dari pada buat dipakai sebagai barang bahan ini, buku-buku yang berarti tentulah besar faedahnya buat pengetahuan dalam arti umumnya.

Ketka saya menjalankan pembuangan yang pertama, yaitu dari Indonesia, pada 22 Maret 1922, saya cukup diiringi oleh buku, walaupun tiada lebih dari satu peti besar. Disini ada buku-buku agama, Qur’an dan Kitab Suci Kristen, Budhisme, Confusianisme, Darwinisme, perkara ekonomi yang berdasar liberal, sosialistis, atau komunistis, perkara politik juga dari liberalisme sampai ke komunisme, buku-buku riwayat Dunia dan buku sekolah dari ilmu berhitung sampai ilmu mendidik. Pustaka yang begitu lama jadi kawan dan pendidik terpaksa saya tinggalkan di Nederland karena ketika saya pergi ke Moskow saya mesti melalui Polandia yang bermusuhan dengan Komunisme. Dari beberapa catatan nama buku di atas, orang bisa tahu kemana condongnya pikiran saya.

Di Moskow saya cocokkan pengetahuan saya tentang komunisme. Dalam waktu 8 bulan disini saya sedikit sekali membaca, tetapi banyak mempelajari pelaksanaan komunisme dalam semua hal dengan memperhatikan segala perbuatan pemerintah komunis Rusia baik politik ataupun ekonomi, didikan ataupun kebudayaan dan dengan percakapan serta pergaulan dengan bermacam-macam golongan. Disini saya juga banyak menulis perkara Indonesia buat laporan Komintern. Ketika saya meninggalkan Rusia, memang saya tiada membawa buku apapun, sedang buku peringatanpun tidak. Pemeriksaan di batas meninggalkan Rusia keras sekali.

Tetapi sampai di Tiongkok dan kemudian di Indonesia, saya dengan giat mengumpulkan buku-buku yang berhubung dengan ekonomi, politik, sejarah, ilmu pengetahuan, science (sajans), buku-buku baru yang berdasar sosialisme dan komunisme. Mengunjungi toko buku adalah pekerjaan yang tetap dan dengan giat saya jalankan. Nafsu membeli buku baru, lebih-lebih yang berhubungan dengan ekonomi Asia, membikin kantong saya seperti boneka yang tiada berdaya apa-apa. Tetapi tiada banyak bahagia yang saya peroleh. Sebab kelumpuhan otak seperti saya sebutkan di atas, maka tak lebih dari satu jam sehari saya bisa membaca buku bertimbun-timbun itu. Saya terpaksa menunggu sampai kesehatan membenarkan, tetapi rupanya pustaka tak bisa mengawani saya.

Pada perang Jepang – Tiongkok di Shanghai penghabisan tahun 1937, tiga hari lamanya saya terkepung di belakang jalan bernama “North Su Chuan Road’’, tepat di tempat peperangan pertama meletus. Dari North Su Chuan Road tadi Jepang menembak kearah Pao Shan Road dan tentara Tiongkok dari sebaliknya. Di antaranya di kampung Wang Pan Cho saya dengan pustaka saya terpaku. Sesudah dua atau tiga hari tentara Jepang memberi izin kepada kampung tempat saya tinggal berpindah rumah, pergi ke tempat yang lebih aman dalam waktu 5 menit saja. Saya turut pindah tergopoh-gopoh. Tentulah pustaka saya mesti tinggal. Ketika saya kunjungi rumah saya sesudah habis perang yakni sesudah sebulan lamanya, maka sehelai kertaspun tak ada yang tinggal. Begitulah rapinya “lalilong’’ alias tukang copet bekerja. Hal ini tidak membikin saya putus asa. Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.

Sampai saya ditangkap di Hongkong pada 10-10-1932, saya sudah punya satu peti pula. Sesudah dua bulan di dalam penjara, saya dilepaskan buat dipermainkan seperti kucing mempermainkan  tikus. Maka dekat Amoy, saya bisa melepaskan diri. Tetapi dengan melepaskan pustaka saya sendiri. Pustaka saya, tanpa saya, berlayar menuju ke Foechow. Saya terlepas dari bahaya, tetapi juga terlepas dari pustaka. Saya berhasil menyamar masuk ke Amoy dan terus ke daerah dalam Hok Kian tiga-empat-tahun lamanya, terputus dengan dunia luar sama sekali, beristirahat, berobat sampai sembuh sama sekali.

Pustaka baru yang saya kumpulkan di Amoy dari tahun 1936 sampai 1937, juga sekarang, juga sekarang terpendam disana, ketika tentara Jepang masuk pada tahun 1937. Malah dua tiga buku-buku peringatan yang penting sekali yang bahannya diperoleh dengan mata sendiri, ialah: catatan penting, buat buku-buku yang sekarang saya mau tulis, mesti saya lemparkan ke laut dekat Merqui, sebelum sampai di Ranggoon.

Putusan bercerai dengan dua buku catatan itu diambil dengan duka cita sekali. Tetapi putusan itu belakangan ternyata benar. Duanne Ranggoon memeriksa buku-buku saya yang masih ada dalam peti seperti “English Dictionary’’ dengan teliti sekali, malah kulitnya diselidiki betul-betul. Kantongpun tak aman. Di antara Merqui dan Ranggoon di pantai laut, disanalah terletak beberapa buku peringatan cukup dengan rancangan, catatan dan suggesti atau nasehat buat pekerjaan sekarang.

Dalam permulaan 3 tahun di Singapura saya amat miskin sekali. Gaji yang diperoleh  sedikit sekali  – enam setengah rupiah  sebulan. Dengan tak ada diploma-Singapura, tak lahir di Singapura, memakai pasport Tiongkok, walaupun bisa bercakap Tionghoa, tetapi tiada bisa membaca huruf Tionghoa susah mendapat kerja yang berhasil besar pada perusahaan Tionghoa. Susah pula mendapat izin mengajar bahasa Inggris dari tuan Inspektur, sedangkan masyarakat Indonesia tak berarti sama sekali di bekas kota “Tumasek’’ (nama Singapura sekarang di Jaman Majapahit) Ini uang buat makan secukupnya saja, pakaian jangan disebut lagi. Masuk jadi anggota pustaka (Library) tiada mampu. Disini pengetahuan saya walaupun kesehatan sempurna kembali, cuma bisa ditambah dengan isi surat kabar, dan pengamatan mata dan telinga sendiri. Tetapi lama kelamaan atas usaha sendiri saya mendapatkan pekerjaan dan hasil pekerjaan yang baik sekali.

Seperti saya sebut diatas, akhirnya saya dapat bekerja pada sekolah Normal Tinggi (Nanyang Chinese Normal School) sebagai guru Inggris dan belakangan juga sebagai guru Matematika dalam dan luar sekolah tersebut. Saya mulai kumpulkan catatan buat buku-buku yang mau saya tulis sekarang. Rafles Library memberi kesempatan dan minat yang besar. Buku yang paling belakang saya pinjam ialah Capital, Karl Marx. Tetapi armada udara Jepang tak berhenti datangnya hari-hari. Sebentar-sebentar saya mesti lari sembunyi. Cuma dalam lubang perlindungan saya bisa baca Capital, buat mengumpulkan bahan yang sebenarnya saya ulangi membacanya. Sampai 15 Febuari 1942 saya masih pegang Capital itu dengan beberapa catatan. Tetapi sesudah Singapura menyerah, semua penduduk laki-perempuan, tua-muda dihalaukan dengan pedang terhunus kiri-kanan, dengan ancaman tak putus-putusnya menuju ke satu lapangan. Disini ratusan penduduk Tionghoa ditahan satu hari buat diperiksa. Disini saya juga turut menghadapi senapan mesin. Di belakang hari kami mendengar bahwa maksud tentara jepang yang bermula ialah memusnahkan semua penduduk Tionghoa yang ada di Singapura. Tetapi dibatalkan oleh pihak Jepang yang masih mempunyai pikiran sehat dan rasa tanggung jawab terhadap dunia lainnya.

Sebelum kami dikirim ke padang tersebut, saya sudah maklum bahwa tak ada pelosok rumah atau halaman rumah yang mesti kami tinggalkan selama pemeriksaan diri dijalankan, yang kelak akan dilupakan oleh Kempei Jepang. Sepeninggalan kami rumah tempat saya tinggal diperiksa habis-habisan. Barang berharga habis di copet.

Sebelum meninggalkan rumah menuju ke lapangan pemeriksaan saya beruntung mendapat kesempatan menyembunyikan buku Capital ke dalam air. Di “upper Seranggoon Road’’ di muka rumah tuan Tan Kin Tjan, disanalah sekarang di dalam tebat (empang) bersemayam buku Capital terjemahan “Das Kapital’’ ke bahasa Inggris, pinjaman saya, Tan Ho Seng, dari Raffles Library di Singapura.

Sesudah dua atau tiga minggu Singapura menyerah, saya coba dengan perahu menyebrang ke Sumatra, tetapi gagal karena angin sakal. Saya terpaksa mengambil jalan Penang-Medan. Hampir dua bulan saya di jalan antara Singapura dengan Jakarta, melalui semenanjung Malaka, Penang, selat Malaka (perahu layar) Medan, Padang, Lampung, selat Sunda (perahu) dan Jakarta. Di jalan saya bisa beli buku karangan Indonesia. Di antaranya Sejarah Indonesia, yang mesti saya sembunyikan pula baik-baik, sebab dalamnya ada potret saya sendiri.

Inilah pustaka saya dulu dan sekarang. Ada niatan buat membeli sekarang, tetapi banyak keberatan. Pertama uang, kemudian banyak buku mesti datang dari luar negeri, dan ketiga dari pada dicatat dari satu atau dua buku lebih baik jangan dicatat atau catat dari luar buku ialah ingatan sama sekali, seperti maksud saya tentang Madilog ini. Biasanya buku-buku reference yang dipetik, atau pustaka itu ditulis di bawah pendahuluan. Biasanya diberi daftar pustaka yang dibaca oleh pengarang. Tetapi dalam hal saya, dimana perpustakaan tak bisa dibawa, saya minta maaf untuk menulis pasal terkhusus tentang perpustakaan itu.

Dengan ini saya mau singkirkan semua persangkaan bahwa buku Madilog ini semata-mata terbit dari otak saya sendiri. Sudah tentu seorang pengarang atau penulis manapun juga dan berapapun juga adalah murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lain. Sedikitnya ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh musuhnya sendiri.

Ada lagi! Walaupun saya tidak akan dan tidak bisa mencatat dengan persis dan cukup, perkataan, kalimat, halaman dan nama bukunya, pikiran orang lain yang akan dikemukakan, saya pikir tiada jauh berbeda maknanya dari pada yang akan saya kemukakan.

Al Gazali pemikir dan pembentuk Islam, kalau saya tiada keliru pada satu ketika kena samun. Penyamun juga rampas semua bukunya. Sesudah itu Al Gazali memasukan semua isi bukunya ke dalam otaknya dengan mengapalkannya. Bahagia (gunanya) mengapal itu buat Al Gazali, sekarang sudah terang sekali kepada kita.

Pada masa kecil memang saya juga mengapal, tetapi bukan dalam bahasa ibu, melainkan dalam bahasa Arab dan Belanda. Tetapi ketika sudah sedikit berakal, saya sesali dan saya bantah kebisaan saya itu. Pada ketika itu saya sadar, bahwa kebiasaan mengapal itu tiada menambah kecerdasan, malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin. Yang saya ingat bukan lagi arti sesuatu kalimat, melainkan bunyinya atau halaman buku, dimana kalimat tadi tertulis. Pula kalau pelajaran itu terlalu banyak, sudahlah tentu tak bisa diapalkan lagi. Tetapi saya juga mengerti gunanya pengetahuan yang selalu ada dalam otak. Begitulah saya ambil jalan tengah: padu yang baik dari kedua pihak.

Apalkan, ya, apalkan, tetapi perkara barang yang sudah saya mengerti betul, saya apalkan kependekan “intinya’’ saja. Pada masa itulah di sekolah Raja Bukit Tinggi, saya sudah lama membikin dan menyimpan dalam otak, perkataan yang tidak berarti buat orang lain, tetapi penuh dengan pengetahuan buat saya.

Buat keringkasaan uraian ini, maka perkataan yang bukan perkataan ini, saya namakan “jembatan kedelai’’ (ezelbruggece) walaupun tidak sama dengan ezelbruggece yang terkenal. Buat menjawab pertanyaan siapa yang akan menang di antara dua negara umpamanya, saya pakai jembatan keledai saya : “AFIAGUMMI’’.

A huruf yang pertama mengandung perkataan Inggris, ialah (A)rmament. Artinya ini kekuatan udara kekuatan darat, dan laut. Masing-masing tentu mempunyai cerita sendiri dan A huruf pertama itu bisa membawa “jembatan keledai’’ yang lain seperti ALS, ialah susunan huruf pada perkataan (A)ir (udara), (L)and (darat) dan (S)ea (laut) forces (tentara). Sesudah dibandingkan perkara Armament diantara kedua negeri itu, maka harus diuji perkara yang kedua, yakni Finance, terpotong oleh huruf “F’’. keuangan dsb.

Demikianlah “jembatan keledai’’ AFIAGUMMI ini saja boleh jadi meminta seperempat atau setengah brosure kalau dituliskan. Dalam ekonomi, politik, muslihat perang, science dan sebagainya saya ada menyimpan “jembatan keledai. Kalau buku penting yang saya baca ada dalam bahasa Inggris, maka “jembatan keledai’’ saya, susunannya tentu dari permulaan atau sebagian perkataan inggris.

Kalau tidak beratus, niscaya berpuluh ada “jembatan keledai’’ di dalam kepala saya. “ONIFMAABYCI AIUDGALOG’’ yang berbunyi bahasa Sanskreta, bukanlah bahasa Sanskreta atau bahasa Hindu, melainkan teori ekonomi yang bertentangan dengan teori ekonomi Mahatma Gandhi.

Kalau badan saya ada sehat, maka perkataan guru itu biasanya mudah saya tangkap. Isinya saya ternakkan dan masukkan ke dalam “jembatan keledai’’. Kalau kertas atau buku peringatan saya umpamanya dibeslah (disita – catatan editor) di Manila atau Hongkong oleh polisi, maka hal itu tiada berarti dia tahu membaca perkataan itu, malah sudah pernah menjadikan mereka pusing kepala berhari-hari, mengira yang tidak-tidak.

Dalam buku yang akan ditulis di belakang hari (kalau umur panjang!) saya kelak bisa meneruskan cerita “jembatan keledai’’ saya ini. Saya angap “jembatan keledai’’ itu penting sekali buat pelajar di sekolah dan paling penting buat seseorang pemberontak pelarian-pelarian. Bukankah seseorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya, seringan-ringannya? Ia tak boleh diberatkan oleh benda yang lahir, seperti buku ataupun pakaian. Hatinya terutama tak boleh diikat oleh anak isteri, keluarga serta handai tolan. Dia haruslah bersikap dan bertindak sebagai “marsuse’’ (angkatan militer siap gempur – catatan editor) yang setiap detik siap sedia buat berangkat, meninggalkan apa yang bisa mengikat dirinya lahir dan batin.

Ringkasnya walaupun saya tiada berpustaka, walaupun buku-buku saya terlantar cerai-berai dan lapuk atau hilang di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia atau dalam tebat di muka rumah tuan Tan King Cang di Upper Seranggoon Road, Singapura, bukanlah artinya itu saya kehilangan “isinya’’ buku-buku yang berarti.

Tetapi barang yang lama itu tentu boleh jadi rusak. Catatan atau makna yang saya kemukakan dari pikiran orang lain boleh jadi tiada cukup atau bertukar arti. Dalam hal ini sekali lagi saya minta maaf dan simpati.

####

Sumber :

Madilog1951(sumber foto: http://sadnessbookstore.blogspot.com)

Wishful Wednesday #13 : Bentara Kristus by Roger Steer

5 Komentar

Di Wishful Wednesday ke  13 ini saya memilih sebuah buku biografi seorang misionaris  terkenal Hudson Taylor (1832-1905 ) yang berjudul “Bentara Kristus”

BENTARA

“Kegembiraan mengenal Tuhan yang hidup, bersandar kepada Tuhan Yang Hidup… aku hanyalah bentara-Nya. Ia akan menjaga kemuliaan-Nya sendiri, mengasuh pelayan-pelayan-Nya sendiri, memasok segala keperluan kita dari kekayaan-Nya sendiri dan kita mengetuk dengan doa-doa, pekerjaan iman, dan pekerjaan kasih kita.”

J. Hudson Taylor telah memberikan hidupnya bagi perkabaran Injil di Tiongkok. Ia dengan gigih menaburkan benih Injil di tengah masyarakat yang kuat adat istiadatnya, dalam suasana penuh kerusuhan, perang dan penganiayaan. Keteguhan hatinya untuk tetap mengandalkan Kristus serta cintanya kepada masyarakat Tiongkok patut kita tiru.

Mengabarkan Injil selaku konsekuensi dan dampak iman dengan gamblang disajikan dalam buku ini sebagai realitas indah, yang memperluas wawasan layan dan mempertajam dan nalar, sekaligus meronai kehidupan dengan penuh keajaiban.

####

Kenapa saya mengingini buku ini? karena saya sering mendengar tentang misionaris besar ini, namun pengetahuan saya tentang Hudson Taylor sangat minim, saya hanya tahu kalau beliau adalah orang pertama yang menjadi misionaris di China, ia rela meninggalkan kehidupannya yang nyaman di Inggris untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang China. Di China ia menanggalkan atribut Eropanya, berpakaian dan berperilaku seperti orang China sampai2 ia memanjangkan rambutnya hingga bisa dikuncir seperti kebiasaan orang-orang China pada masa itu.

Berikut sedikit keterangan tentang Hudson Taylor yang saya copy paste dari Wikipedia Indonesia

hudson-taylorJames Hudson Taylor  (21 Mei 1832 – 3 Juni 1905), adalah misionaris Protestan asal Inggris, dan pendiri China Inland Mission (CIM) (sekarang OMF International). Taylor menghabiskan 51 tahun di Cina, dan mampu berkhotbah dalam beberapa jenis bahasa Tionghoa, di antaranya Mandarin, Chaozhou, dan dialek Wu dari Shanghai dan Ningbo. Yang terakhir ini ia menguasainya dengan cukup baik untuk membantunya menyusun edisi bahasa sehari-hari dari Perjanjian Baru.

Untuk lengkapnya silahkan klik di sini

Semoga keinginan saya untuk memperoleh buku ini terkabul, kebetulan Astrid, yang menggagas WW ini sedang mengadakan  Giveaway dalam rangka ultah blog bukunya yang ke empat dan akan dipilih dua orang pemenang untuk mendapatkan buku idamannya. Siapa tau saya adalah salah satu pemenangnya. 🙂 Tertarik ikutan? silahkan baca syarat dan ketentuannya  di sini

Oya, untuk Astrid atau teman-teman yang ingin membuntelkan buku ini untuk saya, buku ini bisa dibeli di toko buku onlen LilinKecil.com

atau langsung ke Penerbit Bina Kasih  🙂

Apa itu Wishful Wednesday?
Ini adalah meme blog yang digagas oleh Astrid Lim di blog bukunya ‘Book to Share’ dimana peserta yang ikut meme blog ini memposting buku apa yang ingin dimiliki saat ini. Karena judulnya Wishful Wednesday maka postingannya tentu saja di hari Rabu.

Tertarik ikutan? ini cara-caranya :

wishful-wednesday31. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)

2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

 

@htanzil

[Kliping] Ensiklopedia Tidak Lagi Menjadi Pilihan – Internet Mengubah Kebiasaan Membaca

Tinggalkan komentar

ensik

Untuk membaca lebih jelas, silahkan klik pada gambarnya.

Sumber : Kompas, edisi 13 Agustus 2013

@htanzil

Ucapan Hari Raya Idul Fitri 1434H & pesan dari BBI (Blogger Buku Indonesia)

2 Komentar

Man teman ini ucapan Hari Raya Idul Fitri 1434H dan pesan dari Korum (Koordinator Umum)  Blogger Buku Indonesia (BBI) 2013 Sdr, Helvry Sinaga yang saya copy paste dari milis BBI.

###

Dear member Blogger Buku Indonesia,
Semoga kita dirahmati berkat dan kesehatan.

Sebagai insan pembaca di dunia perbukuan Indonesia, kita memiliki peran strategis menyebarluaskan penting dan perlunya membaca pada semua orang. Saat ini teman-teman paling tidak mengelola satu blog yang pada dasarnya bertujuan untuk membagikan pengalaman apa yang kita dapatkan dari kegiatan membaca. Tentu suatu hal yang sangat menyenangkan mana kala kita berhasil menyelesaikan sebuah bacaan, menulis pengalaman membaca tersebut, serta mempostingnya di blog. Dan suatu kebahagiaan tersendiri bila pengunjung blog kita ikut/tertarik membaca buku itu.

Orang Bijak bilang (maaf saya lupa siapa namanya) mengatakan bahwa sebuah perjalanan besar selalu dimulai satu langkah kecil. Pernyataan ini bermakna bahwa tidak ada suatu hal besar yang dapat kita peroleh tanpa usaha kecil. Kita mungkin sama-sama mengetahui dan menyadari bahwa minat membaca di Indonesia termasuk rendah dibanding dengan negara-negara tetangga, apalagi tingkat Asia, apalagi tingkat dunia. Hal ini sangat memprihatinkan. Bila kita kaji apa penyebabnya, permasalahan utamanya adalah ketersediaan bahan bacaan itu sendiri sangat jauh dari memadai. Mengapa tidak memadai? Menurut pengamatan saya ada berbagai faktor, dan pertama adalah harga buku yang dinilai mahal, kedua faktor ketersediaan perpustakaan maupun toko-toko buku di daerah, ketiga, faktor referensi/rekomendasi buku.

Untuk faktor pertama, kita tidak bisa berbuat banyak. Teman-teman yang berada di Pulau Jawa lebih beruntung dalam hal ini karena banyak sekali event-event/bazar buku yang diselenggarakan oleh toko buku maupun penerbit yang menjual buku murah. Namun tidak demikian di luar pulau Jawa, hampir tidak ada event/bazar buku yang terselenggara, bahkan harga buku di sana boleh jadi lebih mahal dari harga bandrol aslinya.

Untuk faktor kedua, memang memprihatinkan juga. Tidak semua kota punya perpustakaan atau toko buku. Perpustakaan yang dikelola pemerintah daerah juga kadangkala tidak terawat. Koleksi bukunya juga tidak beragam. Namun untuk menyelenggarakan perpustakaan secara mandiri juga butuh dana dan kerja yang tidak sedikit. Beberapa kelompok/komunitas sekarang menggeliat di berbagai kota untuk membangun taman-taman bacaan, ini patut kita dukung.

Kita bisa masuk di faktor ketiga dengan leluasa. Kita punya media blog, notes FB, bahasa lisan dan sebagainya. Memberi referensi buku adalah salahsatu cara efektif untuk membuat orang lain tergugah. Bukankah suatu hal yang menyenangkan ketika membuat orang lain ikut tertarik membaca buku yang telah kita baca?

Saat ini kita terhubung dengan komunitas blogger pembaca yang juga menulis. Data dari Divisi Keanggotaan per Juli 2013, anggota yang sudah terdaftar sebanyak 163 orang. Kalau kita anggap satu orang memiliki satu blog buku, maka paling tidak ada 163 blog yang menceritakan tentang buku pada dunia. Secara jumlah, hal ini menggembirakan. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perubahan gaya hidup pembaca yang menyediakan waktu luangnya untuk menulis blog (buku). Bila dibanding dengan blog di komunitas lain, blog buku kita masihlah tergolong sedikit.  Ada ribuan bahkan jutaan di luar sana yang terus menerus mengetikkan kata kunci di mesin pencari, mencari novel Layar Terkembang, Ronggeng Dukuh Paruk, Harry Potter, Chicken Soup, Petualangan Tintin, dan sebagainya. Dan siapa tahu ada (saya yakin ada!) orang-orang  mengikuti hasil pencariannya di blog teman-teman.

Saya melihat, langkah-langkah kecil mulai terbangun menuju perjalanan besar. Mari sama-sama kita menyadari tugas kita sebagai pengemban perubahan. Perubahan cara pandang orang-orang akan membaca, perubahan akan ketersediaan bahan bacaan, perubahan mengkritisi bahan bacaan.

Tetaplah bersemangat untuk menghadirkan dunia buku di dunia blog kita.

Saya pribadi bersama seluruh pengurus BBI mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1434H kepada teman-teman yang merayakan. Semoga kita semakin menyadari hakikat kita sebagai manusia yang berjuang melakukan pekerjaan suci di dunia,

Selamat berlibur dan selamat perjalanan bagi teman-teman semuanya. Hati-hati dalam perjalanan, semoga suatu waktu kita dapat dipertemukan dalam keadaan sehat. Amin

Salam hangat,
Koordinator Umum BBI 2013

Helvry
BBI 1301041
blog: http://blogbukuhelvry.blogpspot.com

BBI Idul Fitri

Kutipan Buku : St. Wiborada, Pelindung para pecinta buku

Tinggalkan komentar

wibirada relief

Relief kayu St. Wiborada (dilambangkan dengan buku dan tombak)

Pada tahun 923 Biara Saint Gall, Swiss diserang. Orang-orang Magyar ( sekarang Hungaria) berupaya membantai para biarawan dan membakar biara, yang berarti akan menghabisi ribuan karya yang selama ini dirawat dengan cermat. Perempuan berdarah Swabia yang bertugas menjaga perpustakaan tersebut, Wiborada, sebelumnya telah mendapat penampakkan tentang kejadian itu. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya ia lihat, tetapi sehari sebelum serangan, dimulai sejak dini hari 1 Mei 1926, dia mengubur buku-buku koleksi perpustakaan. Menurut kronik para penyerbu berhasil dihalau, tapi api menghabiskan seluruh bangunan biara, termasuk perpustakaan yang dijaga Wiborada. Terluka parah, Wiborada tergelteak di atas gundukan tanah tempat buku-buku perpustakaan naninya ditemukan utuh. Atas tindakannya ini, Wiborada memperoleh gelar santa. Dia menjadi santa pelindung para pecinta buku dan perempuan pertama yang dikanonisasi oleh gereja.  (hlm. 115)

Penghancuran Buku

Sumber : Para Penghancur Buku dari masa ke masa by Fernando Baez,
Margin Kiri, cet I, Juli 2013