Beranda

[Kutipan Buku] Inferno by Dante Alighieri menurut Dan Brown

2 Komentar

Berikut tentang Inferno karya Dante Alighieri,  yang saya kutip dari  buku Inferno by Dan Brown :

Inferno, yang diagungkan sebagai salah satu karya terkemuka dalam sastra dunia, adalah bagian pertama dari tiga buku yang menyusun Divine Comedy-nya Dante Alighiery – puisi epik 14.233 baris yang menggambarkan turunnya Dante secara brutal ke dunia bawah, perjalanan melewati penebusan, dan kedatangannya di surga pada akhirnya. Dari tiga bagian Comedy – Inferno, Purgatorio, dan ParadisoInferno-lah yang jauh lebih banyak dibaca dan diingat.

Inferno, yang disusun oleh Dante Allighieri pada awal 1300-an secara literal mengubah persepsi Abad Pertengahan tentang hukuman akhirat. Sebelumnya, konsep tentang neraka  tidak pernah memikat massa dengan cara yang begitu menghibur. Dalam sekejap, karya Dante membuat konsep abstrak mengenai neraka menjadi visi yang jelas dan mengerikan – mendalam, gamblang, dan tak terlupakan. Tidak mengherankan, setelah penerbitan puisi itu, Gereja Katolik mengalami peningkatan jumlah pengunjung yang luar biasa dari para pendosa ketakutan yang ingin menghindari versi terbaru dunia-bawah menurut Dante.

map of hellSeperti yang digambarkan di sini oleh Botticelli, visi mengerikan Dante mengenai neraka berwujud corong penderitaan di bawah tanah – pemandangan dunia bawah tanah berupa api, belerang, limbah, monster, dan iblis yang menunggu di bagian intinya. Lubang itu tersusun atas sembilan tingkat yang berbeda, Sembilan Lingkaran Neraka, dan para pendosa ditempatkan di dalam masing-masing tingkat sesuai dengan beratnya dosa mereka. Di bagian teratas, orang-orang cabul atau “penjahat hawa nafsu” diombang-ambingkan oleh angin badai abadi, simbol ketidakmampuan mereka mengendalikan nafsu. Di bawah mereka, orang-orang rakus dipaksa berbaring menelungkup di dalam lumpur busuk limbah dengan mulut dipenuhi tinja mereka sendiri. Lebih dalam lagi, orang-orang bi’dah diperangkap dalam peti mati terbakar, terpanggang api abadi selamanya. Dan seterusnya..semakin jauh seseorang turun, semakin buruk siksaannya.

Selama tujuh abad semenjak penerbitannya, visi neraka Dante yang terus bertahan telah menginspirasi penghormatan, penerjemahan, dan variasi oleh beberapa otak kreatif terhebat dalam sejarah Longfellow, Chaucer, Marx, Milton, Balzac, Borges, dan bahkan beberapa Paus pernah menulis karya berdasarkan Inferno-nya Dante. Monteverdi, Liszt, Wagner, Tchaikovsky, dan Puccini mengubah komposisi berdasarkan karya Dante, begitu juga salah seorang pemusik favorit Langdon yang masih hidup – Loreena McKernnitt, dunia modern video games dan aplikasi iPad tidak pernah kekurangan persembahan yang berhubungan dengan Dante.

(hlm 95-96)

Dante Alighieri telah berkembang menjadi slaah satu ikon pujaan sejati dalam sejarah, mencetuskan pembentukan perhimpunan Dante di seluruh dunia. Cabang Amerika yang tertua dibentuk pada 1881 di Cambirdge, Massachusetss, oleh  Henry Wadworths Longfellow. Penyair kelompok Fireside terkenal dari New England itu adalah orang pertama yang menerjemahkan The Divine Comedy, terjemahannya tetap menjadi salah satu yang paling dihormati dan banyak dibaca hingga hari ini.

(hlm 118)

Dengan menggunakan remote kecil di tangannya, Langdon memunculkan serangkaian gambar Dante, yang pertama adalah lukisan potret seluruh karya-karya Andrea del Castagno yang menggambarkan penyair itu berdiri di ambang pintu, menggenggam buku filsafat.

portrait-of-dante(1)“Dante Alighieri,” kata Langdon memulai. “Penulis dan filosof Florence ini hidup dari 1265 sampai 1321. Dalam lukisan potret ini, seperti dalam semua penggambaran lainnya, dia mengenakan cappucio merah di kepala – topi rajut ketat dengan kelepak telinga – yang, bersama-sama dengan jubah Lucca merah tuanya, telah menjadi gambar Dante yang paling banyak direproduksi.”

Langdon berpindah ke slide lukisan potret Dante karya Botticelli dari Galeri Uffizi, yang menekankan bagian-bagian wajah Dante yang paling mencolok, rahang tegas dan hidung bengkok. “Di sini, wajah unik Dante sekali lagi dibingkai oleh cappuccio merah, tapi Botticelli mengimbuhkan mahkota daun salam pada topi Dante sebagai simbol keahlian – dalam hal ini seni puisi – simbol radisional yang dipinjam dari Yunani kuno dan bahkan digunakan hingga hari ini dalam upacara-upacara untuk menghormati pujangga istana dan pemenang Nobel.”

(hlm 119)

“Seperti yang pasti Anda ketahui, Dante paling terkenal karena mahakarya sastra monumentalnya – The Divine Comedy – kisah yang sangat jelas dan mengerikan mengenai turunnya penulis itu ke dalam neraka, perjalanan melewati penebusan, dan pada akhirnya naik ke surga untuk bersatu dengan Tuhan. Berdasarkan standar modern, sama sekali tidak ada yang bersifat komedi mengenai kisah itu. Mahakarya itu disebut komedi untuk alasan yang benar-benar berbeda. Pada abad ke empat belas, sastra Italia, berdasarkan ketentuan, dibagi menjadi dua kategori : tragedi, merepresentasikan sastra tinggi, ditulis dalam bahasa Italia resmi; dan komedi, merepresentasikan sastra rendah, ditulis dalam bahasa sehari-hati dan ditujukan untuk masyarakat umum”

“Seperti yang mungkin bisa Anda tebak dari judulnya,” lanjut Langdon, “The Divine Comedy ditulis dalam bahasa sehari-hari – bahasa rakyat. Walaupun demikian, karya itu dengan cemerlang menggabungkan agama, sejarah, politik, filsafat dan komentar sosial dalam permadani fiksi yang, walaupun terpelajar, bisa dipahami seluruhnya oleh masyarakat. Karya itu menjadi pilar kebudayaan Italia sedemikian rupa sehingga gaya penulisan Dante dipuji sebagai kodifikasi bahasa Italia modern.”

Langdon terdiam sejenak untuk menghimpun kesan, lalu berbisik, “Sobat-sobat mustahil untuk melebih-lebihkan pengaruh karya Dante Alighieri. Di sepanjang semua sejarah, mungkin selain Kitab Suci, tidak ada satu pun karya tulis, seni, musik, atau sastra yang menginpirasi lebih banyak penghormatan, peniruan, variasi, dan anotasi daripada The Divine Comedy

(hlm 119-121)

 

Sumber :

Inferno by Dan Brown, Bentang Pustaka, cet II Oktober 2013

 

@htanzil

Wishful Wednesday #16 : Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng

6 Komentar

Di Wisful Wednesday ke 16 ini buku yang saya idam-idamkan adalah buku ini

onbijt-coverBuku ini merupakan buku tentang menu sarapan (onbijt) orang-orang Belanda di Bandung pada jaman kolonial.  Menarik kan? Saat Pameran Buku Bandung kebetulan penerbit buku ini yaitu Khazanah Bahari ikut berpameran, sayangnya saat saya berkunjung ke pameran buku ini sudah habis dan kabarnya stock di gudang penerbitpun habis dan hingga saat ini belum dicetak ulang.

Buku ini menjadi incaran saya untuk melengkapi buku-buku tentang Bandung yang hingga kini sudah mencapai 32 buah buku.  Buku-buku tentang Bandung yang saya miliki bisa dilihat di Album Buku Bandung

Berikut detail tentang Buku ini

Judul : Produsen Onbijt Walanda Bandoeng.

Penulis : Sudarsono Katam

Penerbit : Khazanah Bahari

Cetakan : I, 2012

Tebal : 166 hlm

Penelusuran sejarah ke masa Hindia Belanda mempertemukan kita dengan Maison Vogelpoel, Maison Bogerijen, Valkenet, Merbaboe, Lux Vincet, Het Soephuise, Hazes, Ellenbroek, dan lain-lain. Nama-nama itu sejak zamannya pun, sudah moncer sebagai produsen beragam jenis menu sarapan (ontbijt) orang Belanda. Setiap hari, dari dapur-dapur mereka mengepul aroma khas roti-roti hangat yang siap melengkapi santap pagi warga Kota Bandung. Begitu termasyhurnya reputasi mereka hingga ada yang beroleh predikat ‘pemasok’ (leveransir) resmi untuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Ratu Belanda – produksinya berupa kue khas kerajaan: Koningin Emma Taart dan Wilhelmina Taart.

Pada masa kita sekarang, Kota Bandung sudah menjadi kota tujuan wisata belanja, wisata sejarah-budaya, wisata alam, dan tentu saja juga wisata kuliner. Jika pelbagai produsen makanan dan minuman tempo doeloe itu tidak pernah hadir di kota ini, barangkali reputasi dan sejarah kota ini akan sama sekali berbeda dari yang ada sekarang. Tetapi, di manakah keberadaan mereka sekarang? Penulis buku ini berusaha untuk mengungkapkan dan menyajikan kembali kepingan-kepingan dari sejarah kecil (petite histoire) kota ini.

###

Apa itu Wishful Wednesday?
Ini adalah meme blog yang digagas oleh Astrid Lim di blog bukunya ‘Book to Share’ dimana peserta yang ikut meme blog ini memposting buku apa yang ingin dimiliki saat ini. Karena judulnya Wishful Wednesday maka postingannya tentu saja di hari Rabu.

Tertarik ikutan? ini cara-caranya :

wishful-wednesday31. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)

2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

@htanzil

Pentingnya Sastra di Sebuah Bangsa

Tinggalkan komentar

frankfurt-floor-small

Oleh : Dorothea Rosa Herliany

Frankfurt Book Fair merupakan pameran buku terbesar di dunia, juga salah satu event budaya paling penting di Eropa. Diselenggarakan sekali setahun, pada bulan Oktober (9-13 Oktober). Pameran ini menjadi perhatian ribuan media dan publik di negara-negara berbahasa Jerman, juga di seluruh Eropa, bahkan dunia internasional.

Ribuan penerbit dan perusahaan media dari seluruh dunia menghadirinya. Jumlah pengunjung sampai ratusan ribu. Pameran buku paling bersejarah (mulai menjadi tradisi sejak 500 tahun lalu ketika Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, penemu mesin cetak, menjual bukunya yang pertama Gutenberg Bible di Pameran Buku Frankfurt tahun 1456) itu merupakan tempat bertemunya ribuan agen, pustakawan, penerjemah, penerbit, pencetak, wartawan, budayawan, seniman, sarjana, dan tentu saja sastrawan dari seluruh dunia. Sastra akan menjadi fokus utama pameran buku ini.

Mengapa sastra yang menjadi fokus utama di sana? Karena dunia mengukur peradaban sebuah bangsa itu melalui novel yang ditulis para sastrawan. High level culture is high level novel. Mengapa? Sebab melalui bacaan itulah orang dari berbagai negara bisa mengetahui watak dan jati diri manusia dalam sebuah bangsa secara lebih jujur dan utuh. Ada watak dan peristiwa di dalamnya, juga pembaca bisa menenggelamkan diri ke dalam jiwa dan batin manusia Indonesia yang nyata.

Di dalamnya ada cita-cita manusianya, perjuangannya, cinta, iman, tanggung jawab, persahabatan, kebebasan, kehormatan, dan lain-lain. Hal ini tidak bisa ditemukan pada bacaan lain semisal buku politik, sejarah, bahkan antropologi atau buku seni lain. Melalui novel, segala permasalahan kemanusiaan yang lebih dalam dan lebih kompleks akan mampu diketahui oleh pembaca dengan lebih tenang dan jernih.

Puisi juga ada dalam posisi yang sama. Bahkan, isi puisi lebih menampilkan semangat, spirit, keindahan bahasa, dan kreativitas manusia dalam sebuah bangsa. Hanya bedanya, puisi itu di mana saja di dunia ini, ia hanya bisa dinikmati oleh sedikit orang saja. Lain dengan novel yang lebih banyak orang bisa menikmatinya.

Oleh karena itu, novellah akhirnya yang menjadi primadona. Film atau teater bisa saja mengambil peran yang sama dalam konteks ini, tetapi ia tidak bisa dibolak-balik, dibaca-baca ulang dengan mudah bagian-bagian pentingnya untuk direnungkan, sebagaimana watak sebuah buku. Sayangnya di Indonesia sastra sepertinya hanya dipandang dengan sebelah mata saja.

Tamu kehormatan

Bulan Juni 2013 sudah diputuskan Indonesia akan menjadi tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair 2015. Kesepakatan tentang kerja sama itu sudah ditandatangani antara pihak Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan pihak Jerman yang diwakili oleh Direktur Frankfurt Book Fair Juergen Boos.

Bagaimana Indonesia menyiapkan hal ini semua? Saya, kebetulan sedang di Berlin, sudah ditanya banyak pihak Jerman tentang hal ini. Sebab, berdasarkan Road Map to Indonesia as Guest of Honour at the Frankfurt Book Fair 2015, Indonesia seharusnya sudah membuat beberapa kegiatan, seperti menyiapkan program utama menyangkut penulis, penerjemah, seniman, dan penerbit pada sejumlah acara. Kemudian menerjemahkan buku dan membuat acara peluncuran pada Frankfurt Book Fair, mengundang para penulis Indonesia ke Frankfurt Book Fair 2013 dan 2014.

Indonesia juga harus menyajikan buku yang telah diterjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jerman, menyiapkan dana untuk program terjemahan buku sastra Indonesia, baik untuk keperluan pameran buku itu dan mungkin juga di berbagai kota Jerman, dengan melibatkan para sastrawan Indonesia. Para penulis juga mengunjungi pameran buku Leipzig atau pameran lain di Berlin yang berhubungan dengan festival sastra di Jerman untuk menjajaki kemungkinan bagaimana bisa menampilkan para penulis Indonesia, menyiapkan acara peluncuran buku disertai dengan acara seperti pembacaan karya.

lontar terjemahanSaya kira yang paling penting dan mendesak untuk dikerjakan Pemerintah Indonesia adalah menerjemahkan novel Indonesia kontemporer karena pengerjaannya akan memakan waktu. Karena itu harus dikerjakan sekarang! Sementara untuk bisa tampil di FBF 2015 minimal 30 judul novel sudah harus diterjemahkan dalam bahasa Jerman. Tak hanya itu, juga sudah perlu dicari sejak sekarang kontak kerja sama dengan penerbit di Jerman. Penerbit mana yang kiranya akan sedia menerbitkan terjemahan itu. Penerjemah sastra dari bahasa Indonesia ke bahasa Jerman saja hanya sedikit. Bisa disebutkan yang paling aktif dan sudah menjadi sahabat para sastrawan Indonesia bertahun-tahun, Berthold Damshäuser yang selama ini utamanya menerjemahkan puisi. Lalu Peter Sternagel yang menerjemahkan novel Saman dan Laskar Pelangi. Juga ada Katrin Bandel yang bisa banyak diharapkan karena dia bermukim di Indonesia atau Silke Behl di Jerman dan Dudy Anggawi yang tinggal di Jerman, tapi ulang-alik Indonesia. Selebihnya di luar itu? Susah menyebutkan penerjemah sastra lain.

Lalu setelah diterjemahkan, buku itu harus diterbitkan penerbit di Jerman. Tidak bisa diterbitkan sendiri oleh penerbit Indonesia lalu diboyong ke Jerman karena kaitannya dengan distribusi di negara-negara berbahasa Jerman (selain Jerman, juga Swiss dan Austria) atau Eropa pada umumnya. Manakah kiranya penerbit di Jerman yang mau menerbitkan buku sastra Indonesia hasil terjemahan itu nanti? Mungkin Horlemann yang selama ini memang fokus ke Asia Tenggara dan sudah cukup banyak juga menerbitkan karya-karya sastra Indonesia, seperti Armijn Pane, Mochtar Lubis, Rendra, Pramoedya Ananta Toer, dan Ahmad Tohari. Bisa pula penerbit yang masih baru mulai merintis terbitan buku-buku Asia, Regiospectra atau Union Publisher, penerbit berbahasa Jerman di Swiss yang menerbitkan lebih banyak lagi buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

Syukur kalau bisa diterbitkan Hanser Berlin, penerbit besar yang menerbitkan Laskar Pelangi yang di Indonesia belakangan kemenangannya di ajang Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin 2013 sempat memancing perdebatan di media Indonesia. Hanya itu kemungkinannya. Tapi, kalau saja biaya penerjemahan (dengan standar tarif Jerman) ditanggung Pemerintah RI, semuanya bisa cukup mudah, bisa kerja sama sebagaimana layaknya juga terjadi di Indonesia.

Frankfurt Book Fair jelas akan menjadi ajang pertukaran budaya Indonesia di Jerman. Eslandia, negara kecil dengan jumlah penduduk hanya 300.000 dan luas wilayah 100.000 kilometer persegi, sebuah negara bersalju dengan banyak gunung berapi, serta negara perikanan dan pertanian yang mengalami masalah ekonomi (mirip Indonesia), telah mempersiapkan diri dengan sangat baik saat tampil sebagai tamu kehormatan FBF 2011. Pameran buku benar-benar dikemas bernuansa buku, budaya, dan tradisi membaca di Eslandia. Sontak semua pengunjung menaruh perhatian pada Eslandia.

Bagaimana sebetulnya masalah pertukaran budaya antara Jerman dan Indonesia ini? Tanpa banyak diketahui umum pada tahun 1997 telah didirikan Komisi Indonesia-Jerman untuk Bahasa dan Sastra atas petunjuk Presiden RI dan Kanselir Jerman. Anggotanya antara lain lembaga kenegaraan Indonesia, Departemen Luar Negeri RI, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Bahasa. Sejak saat itu, pihak Jerman diwakili Goethe Institut, bisa kita lihat di pasaran buku pembaca Indonesia bisa menikmati puisi-puisi karya para penyair legendaris Jerman, mulai dari Rainer Maria Rilke, Bertolt Brecht, Paul Celan, Johann Wolfgang von Goethe, Hans Magnus Enzensberger, Friedrich Nietzsche, dan penyair Austria berbahasa Jerman, Georg Trakl.

logo-lontarPenerjemahan karya sastra dalam bahasa Inggris juga mengalami nasib sama. Selama lebih dari 25 tahun Yayasan Lontar dibiarkan aktif berusaha sendiri memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia luar. Tak pernah ada campur tangan pemerintah dalam soal itu. Agaknya benar sastra Indonesia merupakan yatim piatu, tak terurus. Apalagi membayangkan sastra Indonesia juga diterbitkan ke dalam bahasa-bahasa di dunia lain: Jepang, Mandarin, Korea, Spanyol, Rusia, dan Perancis misalnya. Lontar sudah memulai dalam bahasa Inggris.

Penerjemahan ke bahasa Jerman hingga 100 judul (jika memungkinkan memang jumlah ini yang disyaratkan FBF, plus buku nonsastra lain, seperti art, nature,  dan history), mungkin bisa ”dipercepat” dengan ”memanfaatkan” buku-buku hasil terjemahan Yayasan Lontar dalam bahasa Inggris meski itu bukan pekerjaan ideal tapi apa boleh buat? Waktu sudah tinggal sedikit dan pekerjaan masih banyak, bahkan saat ini belum dimulai.

Frankfurt Book Fair 2015 kiranya perlu menjadi titik tolak bagi Pemerintah Indonesia untuk lebih agresif memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia. Memang selama ini sudah ada langkah-langkah menyebarkan budaya Indonesia di berbagai negara dengan misalnya menyajikan tarian, musik gamelan, angklung, wayang kulit, dan seterusnya yang lebih merupakan budaya tradisional dan budaya lisan. Perlulah diperkenalkan bahwa Indonesia tak hanya itu, tapi juga merupakan bangsa yang telah berhasil mengembangkan budaya aksara modern, seperti telah lama terbukti melalui Kesusastraan Indonesia Modern.

Sumber :  Kompas, 6 Oktober 2013

Alice Munro Menangkan Nobel Sastra 2013

6 Komentar

 

press nobel

Seperti biasa, Akademi Swedia yang menetapkan pemenang hadiah Nobel Sastra bersikap penuh rahasia. Hingga keluar kata-kata “Kami telah Menetapkan” yang diumumkan Peter Englund  sekretaris lembaga Swedish Academy  pada 10 Oktober 2013 , tim juri  hampir tidak berkomentar, menambah rasa penasaran.

Pertama kali cerpen

alice_munro_304x304_afpKini untuk pertama kalinya seorang penulis cerpen memenangkan Nobel Sastra. Dalam cerpen-cerpennya, penulis asal Kanada, Alice Munro bercerita tentang kelemahan-kelemahan manusia.

Tim juri menyebutnya sebagai “Master” cerita pendek kontemporer. Pilihan penulis cerpen istimewa karena tim juri Nobel Sastra, dikenal mengutamakan karya panjang.

Seorang kritikus sastra  menggambarkan Muncro sebagai Chekov dari Kanada atas kepiawaiannya menyusun narasi.

Kritikus sastra asal Amerika Serikat, David Homel, mengatakan Munro -yang saat ini berusia 82 tahun- jarang tampil di depan umum. “Ia bukan tipe sosialita. Jarang tampil di depan publik dan tak suka berkeliling untuk mempromosikan bukunya,” ungkap Homel kepada kantor berita AFP.

Cita- cita masa kecil

Munro lahir pada 10 Juli 1931 di Wingham, Ontario dan tumbuh di daerah pedesaan.

Sang ayah, Robert Eric Laidlaw, dikenal sebagai petani dan peternak sementara ibunya adalah guru sekolah di satu kota kecil.

Munro memutuskan ingin menjadi penulis ketika berusia 11 tahun.

“Saya bisa sukses karena mungkin tak punya bakat lain,” kata Munro dalam wawancara yang diunggah ke YouTube.

Cerpen-cerpennya yang terkenal antara lain  Who Do You Think You Are? (1978), The Moons of Jupiter (1982), Runaway (2004), The View from Castle Rock (2006) and Too Much Happiness (2009). The collection Hateship, Friendship, Courtship.  Cerpennya yang berjudul Loveship, Marriage (2001) dibuat film berjudul Away from Her (2006) dengan director  Sarah Polley.  Sedangkan karya terbarunya adalah Dear Life (2012).

Menyisihkan penulis-penulis lain

Meski bukan satu-satunya tolak ukur dunia sastra, penghargaan ini merupakan salah satu yang mendapat sorotan besar. Bukan saja dari penulis dan media, tapi juga dari bandar judi.

Di Inggris, sejumlah nama muncul di peringkat atas taruhan calon pemenang nobel sastra, Alice Munro adalah salah satu di antaranya.

Selain dia, terdapat Svetlana Alexievich dari Belarus, yang menggunakan sisi pandang orang pertama “saya” dalam bercerita dan penulis Jepang, Haruki Murakami, yang namanya melejit berkat karya-karya seperti “Norwegian Woods” dan „1Q84“.

Tulisan-tulisan Murakami yang berusia 64 tahun, bercerita mengenai absurditas dan perasaan sepi dalam kehidupan modern dan memiliki jutaan pembaca. Sementara, Alexievich yang dengan karya-karya kesaksiannya sedang sangat populer di kawasan utara Eropa, dianggap berpeluang besar karena selain memiliki komitmen politik, tulisannya dekat dengan citarasa Eropa.

Perempuan ketigabelas

Munro menjadi penulis perempuan ke-13 yang memenangkan hadiah Nobel Sastra yang mulai diselenggarakan pada tahun 1901.

Sekretaris tetap Akademi Swedia, Peter Englund mengakui bahwa masih terlalu sedikit penulis perempuan yang mendapat hadiah ini. Penulis perempuan terakhir yang memenangkan Nobel Sastra adalah Herta Muller, penulis Jerman asal Romania, pada tahun 2009.Sejumlah penulis perempuan juga berada dalam daftar favorit, seperti Margaret Atwood, penulis Mesir Nawal el Saadawi, juga penulis Aljazair, Assia Djebar dan sejumlah orang lainnya.

Konteks politik

Englund mengaku bahwa para anggota tim penentu memiliki bias terhadap sastra Eropa dan memiliki kecenderungan untuk memilih penulis yang kurang terkenal.

Oleh sebab itu, nama Murakami juga banyak diragukan, apalagi berkisar pendapat bahwa konteks politik akan mendapat porsi lebih besar kali ini.

Karenanya, nama-nama penulis Korea Utara Ko Un, penyair dan penulis Suriah, Ali Ahmad Said Esber juga dikenal sebagai Adonis serta penulis Kenya, Ngugi wa Thiong’o juga dibicarakan.

Selain itu nama-nama penulis Albania, Ismail Kadare, Jon Fosse dari Norwegia dan penulis Belanda, Cees Nooteboom berada dalam daftar nama bandar taruhan pemenang Nobel Sastra.Persisnya apa pertimbangan untuk menetapkan pemenangnya baru akan diketahui 50 tahun lagi saat kurun waktu kerahasiaan dokumen-dokumen Nobel berakhir. Mungkin inilah yang memicu daya tarik terhadap hadiah Nobel Sastra. Yang pasti hanya bahwa usia rata-rata pemenang Nobel adalah 64 tahun.

 

Pemenang Penghargaan Nobel Kesusatraan menerima hadiah senilai delapan juta kronor atau kira-kira setara dengan Rp13,6 miliar.

alice munro karya2
Daftar karya Alice Monru
 

Dance of the Happy Shades and Other Stories. – Toronto : Ryerson, 1968

Lives of Girls and Women. – Toronto : McGraw-Hill Ryerson, 1971

Something I’ve Been Meaning to Tell You : Thirteen Stories. – Toronto : McGraw-Hill Ryerson, 1974

Who Do You Think You Are? : Stories. – Toronto : Macmillan of Canada, 1978. – Note: also published as The Beggar Maid : Stories of Flo and Rose. – New York : Knopf, 1979

The Moons of Jupiter : Stories. – Toronto : Macmillan of Canada, 1982

The Progress of Love. – Toronto : McClelland and Stewart, 1986

Friend of My Youth : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 1990

Open Secrets : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 1994

The Love of a Good Woman : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 1998

Queenie : A Story. – London : Profile Books/London Review of Books, 1999

Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 2001

Runaway : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 2004

The View from Castle Rock : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 2006

Away from Her. – New York : Vintage, 2007. – Note: contains the short story “The Bear Came Over The Mountain” which was later made into the motion picture Away from her

Too Much Happiness : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 2009

Dear Life : Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 2012

Collected short stories

Selected Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 1996

No Love Lost. – Toronto : McClelland and Stewart, 2003

Vintage Munro. – New York : Vintage, 2004

Carried Away : A Selection of Stories. – New York : Knopf, 2006

Alice Munro’s Best : Selected Stories. – Toronto : McClelland and Stewart, 2008

New Selected Stories. – London : Chatto & Windus, 2011

 

@htanzil

Sumber :

Tulisan ini merupakan copy paste dari 3 buah sumber yaitu :

http://www.dw.de/alice-munro-menangkan-nobel-sastra-2013/a-17149764

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/10/131010_nobel_kesusatraan_munro.shtml

http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2013/bio-bibl.html