Rasanya semakin banyak buku yang jadi buku idamanku, terutama buku-buku bertema sejarah dan budaya. Kali ini saya memilih buku ini di WW ke-23 :

hINDIA bELANDAHindia Belanda dan Perang Dunia I by Kees Van Djik, Banana 2013, 732 hlm

Kemarin di Pesta Buku Bandung 2014 (27  Febr – 5 Maret 2014) buku ini dijual di stand Komunitas Bambu.  Dari segi penampilan buku ini termasuk sexy dengan ketebalan 732 hlm, sayangnya buku ini dibandrol dengan cukup mahal untuk buku setebal itu, yaitu  Rp. 212.500,- . Karena saat itu uang saya sudah habis untuk membeli buku-buku lain dan tidak ada layanan ‘gesek’ kartu kredit di stand komunitas Bambu maka saya harus cukup puas hanya dengan menimang-nimangnya saja.🙂

Berikut deskripisi buku ini :

Perang Dunia I baru saja pecah, tapi pemerintah kolonial di Hindia Belanda justru bernapas lega. Sektor ekspor kolonial tidak ambruk dan perang menawarkan prospek ekonomi baru; perwakilan gerakan nasionalis islam memanjatkan doa untuk keselamatan Belanda dan tidak memanfaatkan kesempatan menyulut kerusuhan. Lebih lanjut, pemerintah kolonial, yang terkesan akan pameran kesetiaan semacam itu mulai menjalankan langkah pembentukan ‘milisi Bumiputra’, bafatentara Jawa untuk membantu menghadang kemungkinan invasi Jepang.

Namun ada sejumlah masalah lain: para jemaah haji terlantar di Mekah, kecenderungan pro-Jerman oleh sebagian besar orang Islam Indonesia karena keteriibatan Turki dalam perang, dan di atas segalanya status Hindia Belanda sebagai stasiun penyelundupan yang dipakai kaum revolusioner India dan agen Jerman untuk menyingkirkan kekuasaan Inggris di Asia,

Pada 1917 optimisme tahun-tahun pertama perang menghilang. Pembatasan dagang, perang laut, kurangnya tonase di seluruh dunia menyebabkan peluang ekspor menyusut. Propaganda Komunis telah meradikalkan gerakan nasionalis. Pada 1918 terlihat bahwa koloni sepertinya akan menyerah. Ekspor berhenti. Kelaparan adalah bahaya di depan mata. Makin banyak keresahan di kalangan penduduk kolonial, angkatan darat, dan angkatan laut. Penguasa kolonial meminta bantuan gerakan kebangsaan, menawarkan konsesi politik yang sangat besar, yang kemudian segera terlupakan begitu perang berakhir. Kemerdekaan politik dan ekonomi, yang didapatkan Hindia Belanda yang muncul karena buruknya saluran komunikasi dengan negara induk, juga menghilang.

Kees van Dijk mengkaji bagaimana pada 1917 atmosfer optimisme di Hindia Belanda berubah menjadi keresahan dan ketidakpuasan, dan bagaimana setelah Perang Dunia I situasi kembali stabil seperti suasana politik dan ekonomi sebelum perang.

Tentang Penulis

keesKees van Dijk (1946) sudah bekerja sebagai peneliti di KITLV/lnsititut Kerajaan Belanda untuk Studi Asia Tenggara dan Karibia sejak 1968 dan menjadi guru besar sejarah Islam di Indonesia di Universitas Leiden sejak 1985. Buku-buku yang pernah diterbitkannya antara lain adalah Rebellion under the banner of Islam; The Darul Islam in Indonesia (Leiden, KITLV Press 1981) dan A Country in despair: Indonesia between 1997 and 2000 (Leiden, KITLV Press 2001)

###

Apa itu Wishful Wednesday?
Ini adalah meme blog yang digagas oleh Astrid Lim di blog bukunya ‘Book to Share’ dimana peserta yang ikut meme blog ini memposting buku apa yang ingin dimiliki saat ini. Karena judulnya Wishful Wednesday maka postingannya tentu saja di hari Rabu.

Tertarik ikutan? ini cara-caranya :

wishful-wednesday31. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)

2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)
@htanzil