Beranda

Natsir, Tokoh Bangsa yang Kutu Buku

1 Komentar

muhammad-natsirDi Bandung, sekolah Belanda dan dunia pergerakan membentuk jiwa perlawanan Natsir. Kutu buku yang suka menunggu orkes Homan.

”Engkau dari MULO mana tadinya?” ”Dari MULO Padang.” ”Eh, pantaslah!”

Pertanyaan itu singkat tapi terasa melecehkan. Hal itu selalu ditanyakan meneer Belanda di sekolah saat bercakap dalam bahasa Belanda dengan Mohammad Natsir. Karena terkesan mengejek, anak muda itu menyimpan kesumat.

Meski sama-sama dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), kemampuan bahasa Belanda Natsir tak sefasih teman-teman dari Jawa. Bahasa Belanda Natsir tak parah-parah amat: menulis dia oke, tapi kalau bercakap-cakap, dia tak lancar. Sekolah Natsir di Padang memang memakai bahasa Indonesia sebagai pengantar.

Padahal, layaknya sekolah Hindia Belanda di masa itu, hampir semuanya berbahasa pengantar Belanda. Begitupun di Algemene Middelbare School (AMS) di Bandung. Pada 1927, saat Natsir masuk sekolah ini, AMS, sekolah menengah umum—setingkat sekolah menengah atas sekarang— tergolong sekolah elite dan mahal.

Berdiri pertama kali pada 1919, AMS diperuntukkan bagi lulusan MULO yang ingin melanjutkan sekolah tapi tak mungkin ditampung di Hogere Burger School, yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda, Eropa, atau elite pribumi. Sekolah ini hanya ada di Jawa. Dan hanya anak orang berpangkat tinggi yang bisa masuk.

Natsir termasuk yang beruntung. Nilai-nilainya tergolong bagus, sehingga anak pensiunan juru tulis ini mendapat beasiswa Rp 30 masuk AMS Afdeling A-II. Jurusan ini hanya diberikan di AMS Bandung, khusus studi sastra dan humaniora Barat. ”Sekolah itu satu-satunya yang memberi pelajaran bahasa Latin, kebudayaan, dan filsafat Yunani,” kata Tisna, 86 tahun, warga Jalan Cihapit, Bandung. Tisna masuk AMS pada 1939.

Di Bandung, Natsir tinggal di rumah eteknya, Latifah, di Jalan Cihapit. Jalan itu—tak berapa jauh dari sekolahnya di Beliton Straat—sekarang Jalan Belitung. Cukup 15 menit saja berjalan kaki lewat jalan besar.

Tiga bulan pertama di AMS adalah ujian berat bagi Natsir. Sadar selalu diejek karena tak fasih bercakap Belanda, ia melecut diri. Tiap sore, dia belajar bahasa Latin. Selepas magrib, ia melanjutkan pelajaran sekolah. Nyaris tak ada hari libur.

Tiap hari, selepas sekolah, ia membenamkan diri di perpustakaan Gedung Sate untuk melahap buku-buku di bibliotek. Targetnya: satu buku satu minggu. Beberapa bagian dibacanya keras-keras di rumah. Ia juga memberanikan diri terus-menerus bercakap bahasa Belanda.

Di saat kemampuan bercakapnya bertambah, ia ikut lomba deklamasi bahasa Belanda yang digelar sekolah pada akhir tahun. Mengambil satu syair karangan Multatuli berjudul ”De Bandjir”, ia berlatih dengan kawannya, Bachtiar Effendy. Kawannya satu kampung yang duduk di kelas IV-B (khusus eksakta) ini berbahasa Belanda dengan baik. Dia juga dikenal pandai berdeklamasi.

Saat hari lomba tiba, Natsir sengaja memakai baju adat Minang. Sepuluh menit berdeklamasi, tepuk tangan riuh menyambut. Di mukanya tampak Meneer gurunya. Tetap dengan senyum dan tepuk tangan sinis.

Natsir mendapat juara I lomba itu. Hadiahnya buku karangan Westenenk, Waar Mensen Tigger Buren Ziyn (Manusia dan Harimau Hidup Sejiran). Natsir puas karena sudah membayar kesumatnya. ”Setidaknya nama MULO Padang yang selama ini diejek sudah tertebus,” tulis Natsir dalam suratnya kepada anak-anaknya, 50 tahun lampau.

Meski begitu, hati Natsir masih sedikit ”panas” jika melihat gurunya itu. Di kelas V-A (kelas II sekolah menengah atas), ia bertemu lagi dengan si Meneer. Kali ini ia mengajar ilmu bumi ekonomi. Di tengah pelajaran ia suka menyindir pergerakan politik kaum nasionalis. Maklum, siswa AMS pada tahun itu, 1927-1929, suka ikut bicara soal politik. Dan si Meneer tak suka.

Suatu kali, Meneer memberikan pelajaran pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Ia menyuruh muridnya menulis makalah. Butuh dua pekan bagi Natsir untuk menyelesaikan tugas paper-nya itu. Tiap hari ia membenamkan diri di perpustakaan Gedung Sate, mencari literatur tentang pabrik gula itu. Dikumpulkannya jurnal terbitan kaum pergerakan. Juga notula perdebatan dalam Volksraad—semacam Dewan Perwakilan Rakyat.

Pada harinya, Natsir mempresentasikan analisisnya di muka kelas. Ia menyodorkan bukti bahwa tidaklah benar Jawa menerima keuntungan dari pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yang untung, kata dia, tetap saja kaum kapital dan pejabat bupati yang memaksa rakyat menyewakan tanahnya kepada pabrik dengan harga rendah.

Empat puluh menit menyampaikan analisisnya dengan bahasa Belanda yang rapi, seluruh kelas sunyi-senyap. Natsir melirik gurunya. Meneer itu diam. Natsir puas.

Hidup dalam didikan sekolah Belanda, Natsir melek terhadap dampak buruk penjajahan. Jiwa perlawanannya menyala-nyala. Ketertarikannya pada politik mulai bertumbuh. Apalagi, beberapa bulan sebelumnya, ia bertemu dengan A. Hassan, pria keturunan India asal Singapura yang kemudian menjadi ahli agama di organisasi Persatuan Islam. Kepada Hassanlah, Natsir datang menimba agama, menulis, dan berdiskusi.

Masa-masa itu Natsir juga memasuki Jong Islamiten Bond (JIB) cabang Bandung. JIB didirikan Haji Agus Salim dengan Wiwoho Purbohadijoyo. Di situlah awal perkenalan Natsir dengan Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, dan Kasman Singodimedjo, yang belakangan menjadi tokoh politik Masyumi, partai yang didirikannya. Di sana juga ia mengenal Nur Nahar, perempuan yang kelak menjadi istrinya. Natsir menjadi Wakil Ketua JIB Bandung pada 1928-1932.

Sebagai aktivis politik, Natsir juga rajin berinteraksi dengan tokoh pergerakan waktu itu. Ia pun mendengarkan pidato Soekarno. Juga pada rapat umum Partai Nasional Indonesia yang diselenggarakan 17 Oktober 1929 di gedung bioskop Oranje-Casino, Bandung. Saat itu, Soekarno dengan sengaja mengundang para pemimpin organisasi Islam yang ada di Bandung.

Namun Natsir tak sepaham dengan Soekarno soal cara memandang Islam. Ia memilih berjuang dengan caranya, menulis di majalah bulanan Pembela Islam yang tersebar ke seluruh Indonesia. Oplahnya 2.000 eksemplar. Cukup banyak untuk ukuran masa itu.

Amien Rais, yang bergaul lama dengan Natsir, mengatakan Natsir muda sesungguhnya seorang kutu buku. Ia melahap buku-buku filsafat Barat, baik kuno maupun modern. Ia membaca buku sejarah, sastra, dan rajin mengikuti berita internasional dari berbagai jurnal.

Natsir juga merajang habis karya-karya Snouck Hurgronje di perpustakaan, di antaranya Netherland en de Islam, buku yang memaparkan strategi Hurgronje dalam menghadapi Islam. Buku ini membuat Natsir bertekad melawan Belanda melalui pendidikan.

Jika sedang tak membaca atau sekolah, sesekali Natsir menonton bioskop. Kadang ia bervakansi ke Jaarbeurs—pasar malam yang digelar setahun sekali di Bandung. Di awal kedatangannya di Bandung, saban Sabtu, Natsir pergi berjalan kaki ke kota. Ia biasanya mampir makan sate di Kedai Madrawi di depan kantor polisi. Lalu berkeliling sebentar di alun-alun dan Pasar Baru. Setelah puas, pulanglah ia ke Cihapit dengan berjalan kaki. Kali ini ia memutar lewat Hotel Homan. Di trotoar di depan hotel itu, ia menunggu orkes Hotel Homan yang selalu memainkan Beethoven tiap Sabtu petang. Lalu ia pulang sambil merindukan biolanya yang tertinggal di kampung.

sumber :

Copy Paste dari MENUNGGU BEETHOVEN DI HOMAN,  Note Facebook  Alfathri Adlin

Tulisan tsb bersumber dari buku ini :

Natsir-tokoh bangsa

 

Natsir, Politik Santun di antara Dua Rezim, KPG, Jan 2011

 

 

 

@htanzil

Iklan

Saya Pilih Mengungsi : Pengorbanan Rakyat Bandung Untuk Kedaulatan

1 Komentar

SAYA PILIH MENGUNGSIBuku ini merupakan buku yang membahas peristiwa Bandung Lautan Api (BLA), 24 Maret 1946.   Buku ini adalah buku yang paling  utuh dalam membahas peristiwa yang menginspirasi terciptanya lagu perjuangan “Halo-Halo Bandung” yang kini kerap dinyanyikan untuk membangkitkan gelora semangat perjuangan baik dalam acara resmi kenegaraan maupun dalam pertandingan-pertandingan olah raga.

Semenjak   peristiwa BLA 68  tahun yang lalu hanya ada satu buku tipis yang secara khusus mengisahkan peristiwa bersejarah ini yaitu buku Setaoen Peristiwa Bandoeng yang ditulis pada 1947 oleh Samaoen Bakry, seorang wartawan yang kemudian menjadi Wakil Residen Banten. Buku tersebut pernah diterbitkan kembali sesuai dengan aslinya oleh Pengurus Harian BPC Siliwangi pusah pada 1996 dan menjadi sumber primer bagi penulisan buku ini. Semenjak itu tak satupun buku yang secara khusus membahas tentang peristiwa BLA muncul. Dan yang lebih menyedihkan, peristiwa BLA ini tidak tercantum dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (1990) yang terdiri dari enam jilid.

Karenanya kita patus bersyukur atas terbitnya buku “Saya Pilih Mengungsi” yang ditulis oleh sebuah tim yang terdiri dari para akademisi sejarah dari generasi muda. Buku yang diberi kata pengantar oleh Jenderal Besar TNI (Purn) A.H. Nasution ini   pertama kalinya diterbitkan oleh Penerbit Bunaya dua belas tahun yang lalu, tepatnya pada 2002.  Kini buku ini kembali dicetak ulang   atas kerjasama antara Balai Pengelolaan Kepurbakalaan dan Nilai Tradisional Disbupar Jabar dengan  Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Society for Heritage Conversation).

blabuku

Apa isi buku ini? Mari kita tengok deskripsi dan daftar isinya :

Judul : Saya Pilih Mengungsi : Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan

Penulis : Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo

Penyelia/Supervisor : Soewarno Darsopajitno

Kata Pengantar : Jenderal Besar TNI (Purn.) A.H. Nasution

Penerbit : PAguyuban Pelestarian Budaya Bandung

Cetakan : II, Des 2013

Tebal : 254 hlm

“Saya memahami apabila orang yang tidak mengetahui dan mengalami secra jelas prolog dari Peristiwa Bandung Lautan Api akan berintepretasi bermacam-macam atau berbeda-beda. Karena itu, saya salut dan mendukung upaya maksimal yang dilakukan penulis serta keinginan para pakar sejarah untuk menggali lebih jauh sebuah peristiwa sejarah dengan benar, jujur, dan apa adanya”

~ A.H. Nasuiton

 

Sebuah buku yang menungkap gamblang fakta sejarah dan fenomena-fenomena menarik seputar Bandung Lautan Api.

Peristiwa Bandung Lautan Api, tanggal 24 Maret 1946, dalam peta sejarah Indonesia, hanyalah sebuah titik kecil di antara peristiwa heroik besar lainnya. Hal ini salah satunya dapat dilihat dari tidak tercantumnya peristiwa buku ini Sejarah Nasional Indonesia (1990) yang terdiri dari enam jilid. Selain itu peristiwa pembakaran kota Bandung yang tidak tampak bekasnya secara fisik pada bangunan-bangunan tua, menyebabkan pertanyaan: Bagaimanakah Peristiwa Bandung Lautan Api sebenarnya terjadi? Lalu, mengapa penduduk Bandung bersedia mengungsi tidak seperti rakyat Surabaya yang mau bertempur sampai mati?

Sebagai warga Bandung, para sukarelawan dari Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Society for Heritage conservation) berusaha menggali fakta sejarah ini. Uniknya penulis buku ini merupakan orang-orang muda yang justru lahir jauh setelah Peristiwa Bandung Lautan Api berlangsung.

Buku ini ditulis dengan pendekatan sejarah yang memiliki nilai plus karena menggali fakta, data, dan informasi dari sumber asli. Berbagai wawancara dengan pelaku sejarah dan saksi mata sejarah, mulai dari rakyat biasa yang ikut mengungsi, pelajar, pejuang, wartawan, sampai dengan diplomat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dala, dalam proses kerja penyusunan Jejak Perjuangan Bandung Lautan Api. Bahkan secara khusus wawancara juga dilakukan dengan tokoh pengambil keputusan dalam Peristiwa Bandung LAutan Api, Jenderal Besar TNI (Purn.) A.H. Nasution. Buku ini menjadi penting dibaca oleh para generasi muda, para pendidik, siswa maupun mahasiswa, dan peminat sejarah.

Daftar Isi :

Pengantar Jenderal Besar TNI (Purn) A.H. Nasution

Pengantar Legiun Veteran H. Soewarno Darsoprajitno

Kata Sambutan Kepala Disbudpar Provinsi Jawa Barat

Kata Sambutan Ketua Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung

Prakata penulis

Bagian I : Pendahuluan

– Sistematika Penulisan

Bagian II : Sekilas Bandung

– Alam Bandung

– Kondisi Sosial Politik Bandung

Bagian III: Penguasaan Bandung

– Dari Mataram ke Belanda

– Runtuhnya Hindia Belanda

– Di Tangan “Saudara Tua”

– Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

– Insiden Seputar Proklamasi

– Pemerintah, BKR, dan Badan Perjuangan

– Organisasi Militer di Kota Bandung

Bagian IV : Ultimatum Inggris

– Pasukan Inggris di Indonesia

– Pasukan Inggris di Bandung

– Ultimatum Pertama

– Nilai Keberanian

– Ultimatum Kedua

– Reaksi Penduduk bandung

– Pembakaran Kota Bandung

Bagian V : Pengosongan Bandung

– Mengungsi ke Luar Bandung

– Siapa yang Tidak Mengungsi?

Bagian VI : Di Pengungsian

– Penduduk Sipil

– Bersiasat di Pengungsian

– Dapur Umum Laswi

– “Halo-Halo Bandung”

Bagian VI : Pulang ke Bandung

– Keinginan untuk Pulang

– Gangguan Selama Perjuangan Pulang

– Di Bandung kembali

– Pulang ke Rumah

– Kondisi Sosial Ekonomi Setelah Mengungi

Bagian VIII : Penutup

– Perjuangan yang Lebih Rasional

– Reaksi Raykat Terhadap Upaya Menegakkan Kembali Kekuasaan Belanda

– Dampak Peristiwa Bandung Lautan Api terhadap Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

– Daftar Pustaka

– Narasumber

– Sumber Foto

– Glosarium

– Tim Penulis

###

@htanzil