Oleh : Deni Rachman

Bunh-Hatta-165x250Setiap tahun di Museum Konperensi Asia-Afrika (KAA) selalu digelar kegiatan membaca buku yang khas. Komunitas Asian African Reading Club (AARC) bekerja sama dengan Sahabat Museum KAA telah menyelenggarakan kegiatan membaca ini sejak tahun 2009 dan diapresiasi oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan usia. Mulai dari buku The Bandung Connection karya Roeslan Abdulgani yang diyakini sebagai buku babon sejarah KAA 1955, Asian Future Shock karya Michael Beckman, Tonggak-Tonggak di Perjalananku (otobiografi) karya Ali Sastroamidjojo (Ketua KAA 1955), Dibawah Bendera Revolusi karya Bung Karno, Langkah Menuju Kebebasan surat-surat karya Nelson Mandela, dan saat ini Indonesia Merdeka karya Bung Hatta.

Kekhasan tersebut terletak pada cara membaca dan membedah setiap buku-bukunya. Komunitas ini memakai cara tadarusan layaknya membaca tadarus Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Dengan cara bertadarus ini, masing-masing peserta membaca alinea demi alinea secara bergiliran sampai bab yang ditentukan itu berakhir. Mereka dapat menyimak dengan intonasi dan dialek para pembaca yang berbeda-beda. Dengan demikian selain dapat mengenali perbedaan cara membaca orang lain, peserta juga dapat menghargai orang yang sedang membaca dengan cara menyimaknya dengan seksama dan guyub. Seusai tadarusan, para pembaca ini menyimak pembahasan dari para nara sumber dan mengemukakan pendapatnya masing-masing di penghujung tadarusan. Buku yang tebal sekalipun dapat tuntas dengan cara membaca ala gotong royong ini.

Tadarusan yang sedang berlangsung saat ini yaitu buku Indonesia Merdeka, merupakan pembelaan Bung Hatta di muka pengadilan Belanda pada tahun 1928 ketika Bung Hatta memimpin organisasi pergerakan nasional Perhimpunan Indonesia. Pleidoi ini yang semula berjudul Indonesia Vrij disebarkan dalam bentuk brosur kemudian dimuat dalam buku Verspreide Geschriften (1952) dan dapat disuguhkan dalam bentuk buku berbahasa Indonesia pada tahun 1976. Usia isi buku ini sudah lebih dari 80 Tahun.

Siapa Bung Hatta, tentu kita sudah mengenal beliau sebagai Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia bersama Bung Karno. Sedangkan buah pemikirannya, sampai dengan tahun 1972 menurut Sri-Edi Swasono berjumlah 42 buku. Tulisan Bung Hatta pertama yaitu Economishce Wereldbouw En Machtstegenstellingen yang diucapkan pada saat ia menerima jabatan sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia pada tahun 1926 di Belanda.
Beberapa tulisan Bung Hatta yang tersebar dalam bentuk brosur, ataupun yang dimuat di Majalah Indonesia Merdeka (mulanya bernama Hindia Poetra), dan majalah Daulat Ra’jat (terbit tahun 1931) akhirnya diterbitkan dengan judul Verspreide Geschriften oleh C. P. J. van Deer Peet Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, Amsterdam (1952, Edisi bahasa Belanda). Dan setahun kemudian dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul Kumpulan Karangan sebanyak 4 Jilid. Buku otobiografinya yang terkenal yaitu Mohammad Hatta: Memoir (Tintamas, 1979) diterbitkan ulang oleh Penerbit Kompas menjadi Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi (2011).

Gagasan Utama Bung Hatta
Gagasan-gagasan Bung Hatta yang terpenting dari keseluruhan bukunya – yang bisa saya sebutkan sebagai yang prinsip – adalah mengenai Indonesia Merdeka dan Kedaulatan Rakyat. Gagasan Pertama, Indonesia Merdeka merupakan periode awal masa perjuangan Bung Hatta meliputi: masa pergerakan di Belanda, mendirikan PNI Baru, menjadi Penasihat Pemerintahan Jepang, sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tak henti dan lelahnya, beliau berjuang melalui aktivitas berserikat, berdiskusi, dan menulis demi satu tujuan: Indonesia Merdeka. Fokus Bung Hatta demi terwujudnya Indonesia Merdeka mengenyahkan segala penderitaan selama dibui maupun tekanan dari pihak bangsa sendiri. Sosok Bung Hatta yang kalem tapi tegas secara terang-terangan menyebut diksi “Indonesia” dan “Indonesia Merdeka” ke dalam Perhimpunan Indonesia, majalah Indonesia Merdeka serta pleidoinya di Belanda pada tahun 1928. Ketika Bung Hatta membawa 16 peti bukunya dari Belanda menuju Pelabuhan Tanjung Priok, hanya satu saja barang cetakan yang disita dan ditakuti Pemerintah Kolonial yaitu seri majalah Indonesia Merdeka.

Demi menyongsong cita-cita Indonesia Merdeka itu, pria kelahiran Bukittinggi ini telah menyiapkan suatu perangkat yaitu gagasannya yang Kedua: Kedaulatan Rakyat. Lagi-lagi Bung Hatta dengan beraninya menyebut kata Daulat Ra’jat yang kemudian menjadi nama majalah yang diterbitkan oleh PNI Baru (bukan latah ikut membuat partai, tapi bentuknya berupa kursus-kursus politik). Indonesia Merdeka menjadi bahan bacaan wajib bagi para pementor dalam kursus-kursus tersebut selain pledoi Bung Karno Indonesia Menggugat, Daulat Ra’jat, dan tulisan Hatta mengenai Tujuan & Politik Pergerakan Nasional Indonesia.

Bung Hatta menempuh jalan yang berbeda dari tipe agitasi ataupun orasi-orasi yang menurutnya sukar ditanamkan secara sadar. Menurutnya rakyat harus mendapat pendidikan yang baik tentang bagaimana mengurus dirinya sendiri. Rakyatlah yang didaulat untuk turut serta dalam pergerakan maupun kelak dalam mengisi kemerdekaan. Bung Hatta memupuk Kedaulatan Rakyat itu dalam bentuk Politik (dalam kursus maupun diskusi,orasi, tulisan) dan kemudian Ekonomi yang digaungkannya dalam bentuk Koperasi. Kedaulatan Rakyat dalam bidang Ekonomi inilah yang menjadi roda kehidupan Republik Indonesia masa depan.

Aktivitas Literasi Bung Hatta
Brosur, majalah, maupun buku merupakan media efektif dalam menuangkan gagasan dan kritik sang Proklamator ini. Lawan-lawan politiknya digerus dengan kata-kata yang sopan tapi tegas. Kekritisan Hatta dan akrabnya beliau dengan media cetak tidak terlepas dari keintiman Hatta dengan buku sedari bangku sekolah.

Perihal keintiman ini pernah menjadi bahan perbincangan sang isteri, Rahmi Rachim kepada salah seorang tamunya. Rahmi menjelaskan bahwa ia sebenarnya adalah isteri ketiga dari Hatta. Menurut Rahmi, isteri pertama Bung Hatta yaitu buku, kedua ibadatnya, sedang yang ketiga adalah Rahmi. Keterangan ini mungkin diberikan sambil berlelucon, akan tetapi di sini dapat kita mengambil pengertian bawa bagi Bung Hatta yang teramat penting dalam hidupnya, ialah buku, kemudian sembahyang, kemudian barulah isterinya (artikel pada Madjalah Buku Kita, Edisi No.8, Th.1, 1955).

Bung Hatta juga yang paling apik merawat buku-bukunya yang teramat banyak itu. Dalam menyusun bukunya tak boleh ada yang tunggang balik, susunannya harus rapi, dan disimpan dalam almari yang selalu beres dan bersih. Ia menganggap buku sebagai rukun vital dalam hidupnya. Buku menjadi pendamping, penggembira, dan penyubur keyakinan politik dan agamanya terutama pada saat-saat ia dalam pengasingan/ penjara. Kawan-kawan terdekatnya tak sedikit yang meminjam pula. Tapi hati-hati, Hatta termasuk yang paling streng dan tak mau serampangan. Ada lagi satu cerita unik dari seorang Digulis. Jika ada kawannya yang meminjam dan lantas akan mengembalikannya kembali, tak segan-segan Bung Hatta akan menanyakan perihal isi buku tersebut. Apakah sudah dipahami betul? Kalau sudah, kawannya diminta menerangkannya. Demikian seterusnya semua isi buku itu Bung Hatta tanyakan. Jika belum paham, buku itu harus dibawa kembali sampai bisa menerangkannya kembali kepadanya. Jika buku kembali dalam keadaan rusak/ kotor, ia akan menghukum kawannya dengan tidak boleh meminjamnya lagi selama satu bulan atau lebih.
Bung Hatta pertama kali berkenalan dengan buku di Jakarta pada tahun 1919. Sepulang mendaftar sekolah di Prins Hendrik School, Bung Hatta pergi membeli buku pelajaran ke toko buku Kolff & Co dan toko buku Visser & Co (di Bandung cabang Toko Buku Visser tepat di depan Gedung Merdeka sekarang). Sedangkan, buku di luar pelajaran yang membuat Hatta terkesan dan mulai kecanduan membaca yaitu tiga macam buku yang dibelinya di toko buku antik sebelah societeit “Harmonie”. Buku pertama, berjudul Het Jaar 2000 karangan Bellamy yang langsung dilahapnya seharian.

hetjaar2000

  In het jaar 2000 – Edward Bellamy,  1919

(Buku pertama yang dibeli Hatta)

 

Buku kedua, De Socialisten karangan H. P. Quack sebanyak 6 Jilid yang mengurai sejarah Sosialisme sejak zaman Yunani. Karena berat dan berjilid-jilid tamat dibaca kurang lebih satu tahun. Dan buku ketiga, De Staathuishoudkunde yang ditraktir oleh Ma’ Etek Ayub karya N. G. Pierson menguraikan perihal teori-teori ekonomi.
Bung Hatta membagi waktu membaca buku yang agak berat dan berbau pelajaran di waktu malam hari. Sedangkan buku roman atau buku tambahan lainnya, ia baca pada sekira pukul 4 atau setengah 5 sore hari.

Keintiman Hatta dengan buku terbawa juga selama kuliah di negeri Belanda. Ia sangat bersuka cita ketika dalam masa liburannya ke Jerman, bisa memborong buku di toko buku Otto Meissner. Perbedaan kurs gulden dan Mark Jerman (1 Mark Jerman saat itu hanya 60 sen Belanda) memungkinkan Hatta memborong buku-buku tersebut. Kepiawaian Bung Hatta dalam bahasa Jerman, Belanda, dan Inggris tampak dalam koleksi bukunya yang ia beli. Hingga pada tahun 1932, beliau berhasil memboyong kurang lebih 2m3 sebanyak 16 peti buku ketika pulang ke Indonesia. Dan butuh waktu 3 hari untuk menyusunnya kembali ke dalam almari baru di rumah Ma’ Etek Ayub di Jakarta.

Selama pengasingan misalnya di Banda Naira Maluku Bung Hatta tetap melakukan aktivitas membaca dan menulis. Des Alwi yang merupakan anak angkat Hatta selalu dapat tugas menyortir bacaan yang tiba. Mana untuk Oom Hatta dan mana yang punya Oom Rir (panggilan untuk Sutan Sjahrir). Hatta menyimak De Locomotief, Surat Kabar Pemandangan dan Java Bode. Sebagai imbalan, Des Alwi mendapatkan perangko-perangko dari setiap amplop kiriman dan boleh membaca Bruintje Beer dan Flash Gordon. Des Alwi mendapat pelajaran bahasa Jerman dan bahasa Melayu Tinggi dari Hatta. Salah satu buku les bahasa itu yaitu Matahari Terbit (Jilid 1-6) karya Buya Hamka. Buku-buku roman/fiksi seperti Abu Nawas, Don Quixote, Alice in Wonderland menjadi hiburan tersendiri bagi Des Alwi dan penduduk sekitar Hatta diasingkan.

Hatta, buku, menulis, ruang, dan waktu perjalanan hidupnya begitu sudah menjadi senyawa. Dalam bui Glodok tahun 1934 lahir Krisis Ekonomi dan Kapitalisme, Dari tempat pertapaan di Boven Digoel lahir konsep Alam Pikiran Junani, Di Banda Naira lahir Perdjandjian Volkenbond, Rasionalisasi, dan beberapa tulisan ekonomi yang kemudian dikumpulkan dalam buku Beberapa Fasal Ekonomi Jilid 1-2. Pada tanggal 18 November 1945, bukulah jua yang menjadi mas kawin Hatta ketika meminang Rahmi Rachim.

Begitu besar perhatian Bung Hatta kepada buku, baik dari bagaimana ia dengan disiplin merawatnya lalu mencerna isi buku-buku itu secara kritis. Dari sanggahannya yang paling kentara di antaranya mengenai gagasan demokrasi Barat ala Rosseau yang dibangun atas dasar individualisme. Berbeda dengan demokrasi Indonesia (Kerakyatan) yang berdasarkan atas asas kekeluargaan dan kolektivisme. Kebiasaan baik dan semangat inilah yang harus bisa tertular kepada para ‘pembaca’ Bung Hatta dan umumnya generasi angkatan muda sekarang. Semoga

Deni Rachman, pegiat di Asian African Reading Club (AARC) dan Koordinator Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika (Periode 2011-2012).

sumber : http://www.bandungmagazine.com/news/bung-hatta-dan-buku