Beranda

Nadine, Sastra, dan Politik

Tinggalkan komentar

gordimerNadine, Sastra, dan Politik

oleh :  Anton Kurnia

Nadine Gordimer mungkin tak terlalu populer bagi khalayak awam kita. Dia sastrawan Afrika Selatan pemenang hadiah Nobel Sastra 1991 yang baru saja wafat pada 13 Juli 2014 di Johannesburg dalam usia 90 tahun.

conservationistDia menulis cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya itu diterbitkan sebagai lebih dari 30 buku yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Karya utamanya antara lain novel The Conservationist yang memenangi Booker Prize 1974.

Perempuan kulit putih ini terutama dikenal karena menulis tentang anti-rasisme dan ketidakadilan sosial di Afrika Selatan akibat politik apartheid. Banyak karyanya mengambil tema politis tentang penindasan orang kulit putih atas mayoritas kulit hitam di negaranya sebelum naiknya Nelson Mandela sebagai presiden Afrika Selatan kulit hitam pertama pada 1994. Karena kecenderungan politik dan kritik keras dalam karyanya, sejumlah buku Nadine pernah dilarang beredar oleh rezim apartheid Afrika Selatan, termasuk novel The Late Bourgeois World (1966) dan Burger’s Daughter (1979).

Dalam pidato penyerahan hadiah Nobel Sastra 1991 di Stockholm, “Writing and Being”, Nadine menegaskan pendiriannya bahwa tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun. Hal itu tecermin dalam karya-karyanya.

Dunia begitu menghargai karya Nadine. Selain mendapat Nobel dan Booker Prize, dia meraih W. H. Smith Literary Award (1961), James Tait Black Memorial Prize (1971), hadiah sastra Grand Aigle d’Or dari Prancis (1985), Premio Malaparte dari Italia (1985), hadiah Nelly Sachs dari Jerman (1986), Primo Levy Literary Award dari Italia (2002), dan Mary McCarthy Award dari Amerika Serikat (2003).

Sebagai penulis yang punya kepedulian sosial, Nadine tak hanya angkat pena, tapi juga berpolitik aktif melalui African National Congress (ANC) bersama Nelson Mandela. Mereka berkawan akrab. Nadine menyunting pidato pembelaan terkenal Mandela yang menggetarkan saat diadili oleh penguasa apartheid kulit putih pada 1962, “I Am Prepared To Die”. Sebagai penghargaan kepada Nadine atas aktivitas politik dan komitmen sastranya, dia termasuk salah seorang yang pertama kali ditemui Mandela selepas pejuang hak asasi manusia itu bebas dari penjara 27 tahun.

Nelson-Mandela-and-Nadine-005Nelson Mandela and Nadine Gordimer in 1993. Photograph: Louise Gubb/© Louise Gubb/CORBIS SABA

Terkait dengan wafatnya Nadine, Nelson Mandela Foundation dalam pernyataan resminya menandaskan, “Kita kehilangan seorang penulis hebat, seorang patriot, dan pembela persamaan hak serta demokrasi kelas dunia.”

Tak hanya rekan sebangsanya, kalangan sastra internasional pun menyatakan berbelasungkawa atas kepergiannya. Pengarang Kanada yang juga sesama peraih Booker Prize, Margaret Atwood, menyatakan, “Sangat bersedih mendengar wafatnya Nadine Gordimer. Dia salah satu juru bicara terbesar hak-hak asasi manusia yang tak kenal rasa takut.”

Bagi yang pernah hidup dalam tindasan rezim otoriter, rasa takut dalam perjuangan yang berisiko nyawa serta pembungkaman paksa oleh negara bukan paranoia semata. Namun, bagi Nadine, bukan itu benar yang membuatnya ngeri. Dalam sebuah wawancara, dia pernah berkata, “Yang amat mengerikan adalah kesunyian dalam menulis. Jalan sunyi seorang penulis amat dekat dengan kegilaan.” Nadine telah pergi menyusul sahabatnya, Mandela, yang wafat akhir tahun lalu.

sumber :

http://www.tempo.co.id

###

Karya Nadine Gordinemer yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah kumpulan essai-essainya berjudul “Writing & Being : Kritik Sastra Poskolonial, Jalasutra 2004.

Berikut desksripsinya :

Writing and Being_Nadine Gordimer - Copy-500x500“Untuk siapa Anda menulis?” demikian sebuah pertanyaan yang kerap dilontarkan kepada para penulis, termasuk Nadine Gordimer, penulis terkemuka Afrika Selatan, peraih hadiah Nobel Sastra 1991, Booker Prize 1974, dan sejumlah anugerah sastra internasional lainnya. 
Pertanyaan itu memiliki banyak turunan: Dari manakah karakter dalam fiksi itu muncul? Apakah penulis harus berpijak pada realitas terdekatnya, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsanya, ikut serta menentukan arus perubahan kondisi sosial masyarakatnya? Apakah penulis harus memiliki kesadarn politik atau revolusi? Apakah tulisan memang memiliki makna bagi masyarakat dan pembaca yang tengah mengalami ketidakadilan, keprihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan? Sumbangsih apakah yang wajib diberikan penulis kepada umat manusia?
Nadine Gordimer dengan hati-hati, mendalam, menggugah dan tajam mencoba menguraikan pertanyaan berani itu. Mula-mula dia menelusurinya dari persoalan klasik tentang asal muasal penciptaan penulisan kreatif: fiksi atau realitas. Makin dalam, yang dibahasnya bertambah kompleks. Buku ini memperlihatkan sisi lain Gordimer sebagai esais kuat, komentator budaya dan sastra yang tajam, filosofis, dan revolusioner.
Esai-esai panjang dalam buku ini berasal dari rangkaian ceramah sastra terkemuka di Universitas Harvard, The Charles Eliot Norton Lectures, diberikan Gordimer pada 1991 sebagai penerima Hadiah Nobel. Gordimer mencoba menggunakan kesempatan ceramah itu untuk meletakkan hidup dan karyanya dalam dunia kacau yang kebanyakan betul-betul menguatkan tema tulisannya. Untuk menyempurnakannya, dalam edisi Indoensia ini disertakan Pidato Nobel Sastra yang ia berikan pada 7 Desember 1991, dengan sangat tepat oleh penulis diberi judul Weiting and Being (Tulisan dan Ada).
Buku ini merupakan apologia pro vita sua; catatan atas kemenangannya sebagai penulis, warga negaa, seorang umat manusa. Edward W. Said memuji buku ini karena kebesaran dan kepentingan atas karyanya sebagai penulis dan warga negara”, sementara menyebut Gordimer sebagai sosok politik dan moral yang mengesankan.”
Jika ingin mendapat kritik sastra yang tajam, kontekstual dengan wacana poskolonialisme, dengan argumen berani, kaya waasan dan bacaan, sekaligus penuh empati kepada masyarakat dan penulis tertindas, tak pelak lagi, kita harus memberikan perhatian dan apresiasi pada buku ini.
###

@htanzil

Iklan

Kretek by Mark Hanusz

2 Komentar

kretek amazon

DiLondon pada sebuah perjamuan diplomatik lebih dari 50 tahun lalu, seorang lelaki bertubuh pendek dan kurus untuk ukuran orang Eropa memantik rokok dan mengepulkan asap dari mulutnya. Dia mengenakan fez hitam, juga songkok di atas rambut putihnya. Aroma asap kretek merebak ke seisi ruangan itu. Seorang diplomat bule menghampirinya, ”Apakah gerangan rokok yang sedang Tuan isap itu?” tanyanya. ”Inilah Yang Mulia,” tutur lelaki itu, ”yang menjadi alasan mengapa Barat menjajah dunia.”

Peristiwa itu diceritakan kembali oleh Pramudya Ananta Toer dalam buku Mark Hanusz berjudul Kretek, The Culture and He-ritage of Indonesia’s Clove Cigarette.

Agus Salim, sesepuh yang diceritakan itu, adalah duta besar pertama RI untuk Inggris Raya. Cerita itu pernah ditulis untuk kali pertama dalam buku Peringatan 100 Tahun Agus Salim, terbitan 1984.

Di dalam buku ini juga disebutkan bahwa kretek secara umum terdiri dari ‘bungkus’ (yang biasanya menggunakan kertas sigaret atau daun jagung/klobot), tembakau, cengkeh, dan bahan spesial yang disebut saus. Saus ini fungsinya sebagai pemberi varian rasa pada rokok kretek yang terbuat dari bahan-bahan tembakau alami, herbal, dan buah-buahan. Selain itu, saus ini menjadi ciri khas rasa suatu merk rokok kretek. Diberi nama kretek karena bunyi cengkeh yang terbakar berbunyi keretek-keretek, dan secara lafal yang lebih mudah, huruf ‘e’ kemudian dihilangkan menjadi kretek.

Di dalam buku ini juga disebutkan bahwa tembakau dibawa oleh orang Belanda pertama kali ke Indonesia, yaitu pada tahun 1596 oleh Cornelis De Houtman di Banten. Sebelumnya, tidak ada kebiasaan merokok atau sejarah yang berhubungan dengan tembakau, namun 10 tahun sejak kedatangan Cornelis De Houtman tersebut, tembakau langsung populer di kalangan kerajaan Banten. Kata ‘tembakau’ sendiri lebih menyerupai bahasa Portugis “Tobacco” dari pada bahasa Belanda “tabak”, sehingga kemungkinan besar, bangsa Portugislah yang membawa tanaman ini masuk ke Indonesia.

Asal mula istilah “rokok” di Indonesia, yaitu ditemukannya tembakau dan kebiasaan merokok di daerah-daerah di kepulauan Maluku, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, Motir, dan Makian sekitar pertengahan abad ke-17. Saat itu, rokok terbuat dari daun tembakau lokal, yang dibungkus dengan daun pisang atau daun jagung (rokok dengan bungkus daun jagung ini kemudian disebut klobot) dan diikat dengan seutas benang. Namun, saat itu tidak ada istilah rokok atau merokok. Rokok ala Ternate itu kemudian disebut “Bungkus Ternate”.

Klobot Gudang Garam

Cengkeh sendiri sebelumnya hanya tumbuh di lima kepulauan Maluku, pada awal masa modern. Kala itu, harga cengkeh sangat mahal, setara dengan emas, akibat biaya pengiriman kapal. Cengkeh tidak hanya digunakan untuk rokok kretek, tapi juga rempah (bumbu) masakan.

“Bungkus Ternate” ini kemudian masuk ke Jawa sekitar pertengahan abad ke-18, dan mempengaruhi perkembangan cerutu orang India dan Burma. (Cerutu sendiri berasal dari bahasa Tamil, “shuruttu”). Sejarah ini pertama kali tercatat pada abad ke-18.

Di Sumatera sendiri, tanaman tembakau dan istilah ‘rokok’ diperkirakan dibawa masuk oleh pelaut dan pedagang Belanda yang secara berkala mampir ke Sumatera, pada sekitar akhir abad ke-17. Tidak seperti “Bungkus Ternate”, istilah rokok telah ada, yaitu berasal dari bahasa Belanda “roken” yang artinya merokok. Oleh karena itu, istilah rokok pada masa tersebut telah ada, yaitu ‘roko’ atau ‘rokok’ (roken). Perbedaannya dengan “Bungkus Ternate”, yaitu tidak menggunakan daun pisang atau jagung, melainkan menggunakan daun palem nipah.

Yang menarik di sini, istilah ‘bungkus’ tetap digunakan, yaitu rokok satu pak (sebungkus), dan rokok sebatang. Pada abad ke-19, istilah bungkus diganti menjadi ‘strootje’ atau ‘straw cigarette’ (batang rokok), dan klobot (rokok dengan bungkus daun jagung). Rokok pertama kali muncul di pasaran adalah pada tahun 1850. Sedangkan rokok kretek muncul pertama kali tahun 1880 (Haji Djamari).

Tipe-tipe kretek klobot pada waktu itu adalah sebagai berikut :

  • Sigaret Kretek Klobot, yaitu dilinting dengan tangan wanita (manual)
  • Sigaret Kretek Tangan, yaitu tahun 1913 oleh HM Sampoerna, menggunakan mesin giling kayu dengan tenaga kerja pria dan wanita (semi manual)
  • Sigaret Kretek Tangan Filter, yaitu pada tahun 1960 dan telah menggunakan mesinyang baik, misalnya seperti di Solo dan Kudus. Bedanya dengan Sigaret Kretek Tangan yaitu pada bagian tengah-tengah sigaret disisipkan filter (semi manual dengan filter)
  • Sigaret Kertas Mesin, merupakan revolusi dalam perindustrian rokok seperti hingga sekarang (otomatis)

Sedangkan lebih lanjut disebutkan dalam buku, Perusahaan Cap Bal Tiga milik H. Nitisemito, terkenal barangkali dengan sistem abon-nya. Sistem ini yaitu :

  • Kertas tembakau, tembakau, cengkeh, dan saus tetap disediakan oleh Cap Bal Tiga sebagai ‘resep’ rokok kretek.Bahan-bahan ini kemudian diberikan kepada pihak penengah (perantara) yang disebut abon. Para abon memberikan bahan-bahan ini kepada para bawahannya yang disebut kernet, untuk dilinting jadi satu menjadi rokok kretek. Proses ini biasanya membutuhkan waktu beberapa hari. Jika rokok kretek ini telah siap, para abon kemudian akan membawa kembali produk yang sudah jadi kepada perusahaan, dan mendapatkan komisi melalui jumlah rokok per batang yang dihasilkannya. Dengan cara ini, perusahaan dapat menghemat dari segi upah, tanggung jawab biaya, dan lepas dari beban ketenagakerjaan lainnya. Sistem ini pada masa itu kemudian banyak ditiru oleh perusahaan-perusahaan kretek sejenis lainnya.
  • Namun di sisi lain, sistem abon ini juga memiliki kecacatan yang selanjutnya membawa kerugian, bahkan keruntuhan bagi perusahaan Cap Bal Tiga. Hal ini, terutama dikarenakan sabotase yang dilakukan para abon. Abon sendiri sesungguhnya dibagi menjadi dua; satu yang mendapat komisi secara ketat dihitung berdasarkan per batang rokok yang berhasil dilinting oleh para kernetnya, dan kedua yaitu abon yang mendapatkan upah tetap, tak peduli berapa banyak rokok yang dihasilkannya. Tipe abon kedua ini, biasanya adalah orang terpercaya atau kerabat dekat pemilik perusahaan. Dengan demikian, kecurangan demi kecurangan tidak berhasil dielakkan, tidak hanya yang dilakukan oleh abon tipe pertama, namun terutama oleh abon tipe kedua. Hal yang biasanya terjadi yaitu, resep-resep yang diberikan perusahaan kemudian dikaburkan dan dibuat menjadi merk kretek baru oleh para abon.

Hal ini meruntuhkan kerajaan perusahaan Cap Bal Tiga dan memunculkan nama-nama pesaing baru, seperti Minak Djinggo, dan lain sebagainya.

BUDAYA KRETEK

Disebutkan dalam buku, terdapat cerita seorang Jawa bernama Saimun, yang sedari pagi belum makan apa-apa, dengan perut lapar, dan tersiram hujan sore hari ketika sedang berada di pinggir jalan. Ia menyalahkan hujan, lalu mampir ke sebuah warung dengan seorang penjaga wanita langganannya, yang bernama Itam. Dengan menggunakan bahasa Jawanya, ia memohon minta diberikan sebatang kretek lintingan. Setelah beberapa saat lamanya, wanita itu mengalah, dan memberikan pria itu sebatang kretek. Hanya dengan sebatang kretek itulah, Saimun melepas kesehariannya, dan kembali mengenang masa lalunya, masa kecilnya ketika orang tuanya belum tewas dibunuh segerombolan preman.

Budaya kretek di Jawa memang misterius. Seperti yang diceritakan Pramoedya Ananta Toer pada bagian kata pengantar. Walaupun masa mudanya masih susah dan tidak mampu membeli kretek karena cengkehnya yang mahal itu, ia pun tetap mengkonsumsi kretek, walau tanpa memperoleh faedah apa-apa. Para tamu pria yang datang ke rumah masa itu, juga jika tidak disajikan ‘hidangan’ kretek, terasa kurang lengkap. Tiap pertunjukan tarian dan kesenian Jawa, para pria dengan blangkon lengkap di kepala itu pun tetap menikmati kretek, bahkan sambil memainkan alat musik sekalipun. Para kacung, yang menunggu majikan di beranda, akan gembira sekali mendapatkan sebatang kretek dari tuannya. Mungkin karena hal itulah terdapat istilah “uang rokok”.

Budaya Jawa tidak dapat dipisahkan dari kretek, jika tidak, takkan terdapat kerajaan-kerajaan kretek yang begitu besar dan tumbuh di Jawa. Sebut saja Sampoerna (1913), Bentoel (1931), Jambu Bol (1937), Djarum (1951), Gudang Garam (1958), Surya, dan lain sebagainya. Kretek telah menempel di semua lapisan masyarakat.

 

money cengkehUang dua puluh ribuan yang menggunakan gambar cengkeh, pralambang lekatnya budaya kretek dengan Indonesia, dan image kretek Indonesia itu sendiri di mata dunia internasional


Candu Van Kudus

Sejarah rokok di Indonesia adalah sejarah Kudus. Dalam catatan Raffles dan Condolle disebutkan, kebiasan merokok di Jawa sudah ada sejak abad ke-17. Bahkan, Raja Mataram Sultan Agung yang memerintah pada 1613-1645 dicatat Onghokham dan Amen Budiman sebagai chain smoker (perokok berat). Akan tetapi, tak satu pun dari catatan sejarah itu yang memperkenalkan rokok secara komersial kecuali seorang haji asal Kudus bernama Djamahari pada akhir abad ke-19.

Kediri dan Malang, dua dari tiga kota industri rokok di Indonesia –termasuk Kudus– selalu berebut menyebut diri, ”Kamilah kota kretek Indonesia.” Namun, baik Kediri maupun Malang tak memiliki Haji Djamahari yang telah menjadi ikon rokok dan menjadi buah bibir masyarakat karena telah menyembuhkan sendiri penyakitnya sesudah mengisap rokok bercengkih.

Mereka pun tak memiliki Haji Ilyas dan Haji Abdul Rasul yang memproduksi rokok secara massal sebagai pendahulu-pendahulu sejarah kesaudagaran rokok di Kudus. Suatu sejarah panjang rokok kretek sampai pada juragan rokok Bal Tiga Nitisemito yang tersohor itu.

Kini, rokok telah tumbuh menjadi industrial idol negara. Pemasukan negara atas industri ini pada 2003 adalah Rp 27 triliun. Dari industri ini, Kudus menyumbang hampir Rp 6 triliun per tahun.

Ibarat gula, industri ini telah menjadi tempat kerubutan ratusan ribu tenaga kerja yang mengisap manis dari pahitnya tembakau dan cengkih. Bila dahulu Barat, seperti disebut the old man Agus Salim, menjajah dunia karena cengkih, maka industri rokok kini menjadi tempat penziarahan panjang angkatan kerja yang menanti kesempatan ngelinting tembakau dan cengkih dan tempat hidup bagi para petani penghasil rempah-rempah itu.

Rokok telah menjadi candu bagi tenaga kerja, petani, saudagar rokok, dan juga negara. Dan, kita seperti kata Fromberg dalam Opium to Java adalah pengisap candu sekaligus terisap oleh industri rokok dan negara. Itulah kenapa rokok selalu berada dalam ironi: dicaci sekaligus didamba.

Karena itu, ketika negara secara tegas memberlakukan ketentuan tar dan nikotin, sesungguhnya negara tidak sedang mencaci rokok karena negara mendambakannya. Negara hanya sedang berkompromi secara malu-malu dengan Barat yang dahulu menjajahnya untuk sebuah kepentingan bernama paru-paru manusia.

###

Tulisan di atas saya copy paste dari :

http://semangkukbakmie.blogspot.com/2007/11/sejarah-rokok-di-indonesia.html

Data buku :

KRETEK BUKU

 

 

 

 

 

 

 

 

(photo by Syech Prang)

Judul :  Kretek, The Culture and He-ritage of Indonesia’s Clove Cigarette

Penulis : Marx Hanusz

Kata Pengantar : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Equinox Publishing

Cetakan : I, 2004

Tebal : 224 hlm, Hardcover

###

@htanzil

 

[Kutipan Buku] Prakata & Daftar Isi : Masa Gelap Pancasila by Tan Swie Ling

Tinggalkan komentar

MASA GELAPMasa Gelap Pancasila by Tan Swie Ling, Cet I, Penerbit Ruas (Imprint Komunitas Bambu), Maret 2014, 138 hlm

SINOPSIS

Pancasila memang masih ada, tetapi terus dan tengah hebat-hebatnya dikhianati. Kalau ada masa ketika Pancasila diinjak-injak, maka inilah saatnya. Sebab itu, penulis buku ini menyatakan Pancasila tengah berada di zaman gelap.

Asal-usul zaman gelap Pancasila itu dilihat penulis dari para elite yang melupakan sejarah pemikiran kebangsaan. Buku ini mengurai apa dasar pembentukan Pancasila, apa tujuan pembentukannya, bagaimana proses pembentukannya, apa masalah yang menghadang, siapa saja yang terlibat saat pembentukannya, dan lain-lain. Selain itu, proses sejarah Pancasila tersebut juga dihubungkan dengan berbagai konflik yang terjadi dari dulu hingga sekarang.

Melalui penelusuran sejarah, penulis ingin mengingatkan bahwa zaman gelap Pancasila sudah saatnya diterangi sehingga menjadi obor yang menyuluh, memandu perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita luhur perjuangannya dan semakin dekat dengan tujuan ataupun cita-cita kemerdekaan Indonesia.

PRAKATA

Kondisi kehidupan bangsa dan negara kini terasa semakin jauh dari tujuan ataupun cita-cita kemerdekaan. Anarkisme, konflik, suku, agama, ras dan antargolongan, lemahnya semangat persatuan, rendahnya moral dan akhlak, korupsi dan politik transaksional yang menjadi-jadi serta merosotnya disiplin juga wibawa hukum menunjukkan makin jauhnya kehidupan bangsa dan negara dari segala ada yang disuluh-pedomankan oleh Pancasila.

Pancasila, yang andaikan matahari, kini inci demi inci sedang bergeser  menuju ke arah kondisi terbenam; padam. Apakah gerangan penyebabnya?

Bersama segenap warga bangsa yang sama-sama tersemangati pesan Ketua Panitia Kecil Perancang UUD 1945, Profesor Soepomo, yang pada Rapat Besar BPUPKI 15 Juli 1945 berkata: “Dalam sistem kekeluargaan, sikap warga negara bukan sikap yang selalu bertanya ‘Apakah hak-hak saya?’, akan tetapi sikap yang menanyakan ‘Apakah kewajiban saya sebagai anggota keluarga besar ialah negara Indonesia ini?’ Inilah piliran yang harus senantiasa diinsafkan oleh kita semua.”

Sehubungan dengan upaya melaksanakan kewajiban anggota keluarga besar sebagaimana pesan Profesor Soepomo tersebut, penulis insaf. Bertalian dengan pencarian dan pengutaraan penyebab bergesernya “matahari” Pancasila ke arah kondisi terbenam dan padam seperti yang sedang bersama kita alami sekarang ini, tidak tertutup kemungkinan akan timbut terjadinya konsekuensi yang penulis tidak harapkan. Namun demikian, seandainya toh hal itu terjadi, penulis berharap serta berdo’a semoga konsekuensi itu tidak terjadi oleh kesalahpahaman akibat salah persepsi atas maksud penulis, yang tidak lain adalah semata-mata sebuah ketulusan serta kemurnian hati. Hati yang sangat merindukan dapat kembali merasakan hangat dan terangnya cahaya Pancasila. Cahaya Pancasila obor penyuluh perjalanan bangsa Indonesia mencapai cita-cita luhur perjuangannya.

Waktu itu Bung Karno pun berpesan: “Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi suatu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi suatu bangsa, satu nasionaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sejahtera dan aman, dengar ketuhanan yang luas dan sempurna, janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan.”

Sebuah pesan yang dalam telinga penulis seolah gema yang bunyinya: “bukan pertentangan, bukan pertentangan dan sekali lagi bukan pertentangan”, betapa pun tingginya egoisme kita masing-masing, apa pun wujud egoisme itu; tidak terkecuali “agoisme agama”. Sebagaimana hal ini secara lugas dikemukakan oleh Sang Penggali Pancasila dalam pidato 1 Juninya, duimana dikatakan dalam menguraikan prinsip kelima, prinsip ketuhanan: “Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme agama’.

Berpijak pada segala yang terurai di atas, dengan segala kekurangan serta kerendahan hati, penulis mempersembahkan buku tentang Masa Gelap pancasila. Semoga berkenan di hari para pembaca.

###

DAFTAR ISI

Pengantar Penulis

Prakata

Daftar Isi

Bab I.  Latar Belakang Kesejarahan

Bab II  Modal, Dampak dan Peran serta Daya Kerja pada Tatanan Kehidupan Masyarakat

Bab III  Kapitalisme-Imperialisme-Kolonialisme-Nasionalisme

Bab IV  Metamorfosis Kapitalisme ke Imperialisme dan Kolonialisme

Bab V  Nasionalisme dan Kendala yang Mengiringi

Bab VI  Empat Kendala Nasionalisme

Bab VII  Kapitalisme dan Lahirnya Bangsa Modern

Bab VIII  Sisi Terang dan Sisi Gelap Kapitalisme

Bab IX  Tugas Sejarah Bangsa

Bab X  Karakter Bangsa Indonesia

Bab XI  Bangsa Indonesia

Bab XII  Mengapa Pancasila Menolak Neoliberalisme?

Bab XIII  Tiba Waktunya Bicara Pancasila

Bab XIV  Pidato Lahirnya Pancasila

Bab XV  Penyebab Redup Terbenamnya Matahari Pancasila

Bab XVI  Problematik Bangsa

Bab XVII  Pancasila dan Hak Asasi Manusia

Bab XVIII  Pembunuhan Massal 1965-1966, Sebuah Peristiwa Politik

Bab XIX  Pemahaman HAM di Negeri Kita

Bab XX  Restorasi…Ke mana?

Catatan Kaki

Indeks

Tentang Penulis

 

Tentang Penulis

Tan-Swie-LingTan Swie Ling (76 thn),  terlahir dari keluarga misin di Wiradesa, Pekalongan , pada 12 September 1938.  Pada 1966 Tan terseret dalam penjara G30S. Selama lebih dari 13 tahun ia hidup bersama mantan tukang beling, tukang becak, sempai dengan para jenderal serta menteri. Selama di penjara, Tan mengalami siksaan fisik secara sadis. Setelah bebas, ia menerima segala macamdiskriminasi, ancaman, dan pemerasan selama Orde Baru,  sebuah kondisi yang semakin mematangkan kemandirian hidupnya.

Pada 1998. Tan mulai kembali melakukan aktivitas sosial politik dan menerbitkan majalah bulanan  Sinergi Warga Bangsa hingga 2002. PAda 1999-2000 ia merumuskan konsep “Aspirasi Masyarakat Korban Istilah Asli dn Tidak Asli” sebagai argumentasi amandemen pasal 6 UUD 1945. Pada 2003 ia mendirikan sekaligus mengetuai Lembaga Kajian Sinergi Indonesia. Lembaga tersebut juga menerbitkan majalan bulanan Sinergi Indonesia. Tan sendiri menjabat sebagai Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi pada 2003-200. Tan juga adalah penulis buku G30S 1965  PERANG DINGIN & KEHANCURAN NASIONALISME ; Pemikiran Cina Jelata Korban Orba, Komunitas Bambu 2010.

@htanzil