MASA GELAPMasa Gelap Pancasila by Tan Swie Ling, Cet I, Penerbit Ruas (Imprint Komunitas Bambu), Maret 2014, 138 hlm

SINOPSIS

Pancasila memang masih ada, tetapi terus dan tengah hebat-hebatnya dikhianati. Kalau ada masa ketika Pancasila diinjak-injak, maka inilah saatnya. Sebab itu, penulis buku ini menyatakan Pancasila tengah berada di zaman gelap.

Asal-usul zaman gelap Pancasila itu dilihat penulis dari para elite yang melupakan sejarah pemikiran kebangsaan. Buku ini mengurai apa dasar pembentukan Pancasila, apa tujuan pembentukannya, bagaimana proses pembentukannya, apa masalah yang menghadang, siapa saja yang terlibat saat pembentukannya, dan lain-lain. Selain itu, proses sejarah Pancasila tersebut juga dihubungkan dengan berbagai konflik yang terjadi dari dulu hingga sekarang.

Melalui penelusuran sejarah, penulis ingin mengingatkan bahwa zaman gelap Pancasila sudah saatnya diterangi sehingga menjadi obor yang menyuluh, memandu perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita luhur perjuangannya dan semakin dekat dengan tujuan ataupun cita-cita kemerdekaan Indonesia.

PRAKATA

Kondisi kehidupan bangsa dan negara kini terasa semakin jauh dari tujuan ataupun cita-cita kemerdekaan. Anarkisme, konflik, suku, agama, ras dan antargolongan, lemahnya semangat persatuan, rendahnya moral dan akhlak, korupsi dan politik transaksional yang menjadi-jadi serta merosotnya disiplin juga wibawa hukum menunjukkan makin jauhnya kehidupan bangsa dan negara dari segala ada yang disuluh-pedomankan oleh Pancasila.

Pancasila, yang andaikan matahari, kini inci demi inci sedang bergeser  menuju ke arah kondisi terbenam; padam. Apakah gerangan penyebabnya?

Bersama segenap warga bangsa yang sama-sama tersemangati pesan Ketua Panitia Kecil Perancang UUD 1945, Profesor Soepomo, yang pada Rapat Besar BPUPKI 15 Juli 1945 berkata: “Dalam sistem kekeluargaan, sikap warga negara bukan sikap yang selalu bertanya ‘Apakah hak-hak saya?’, akan tetapi sikap yang menanyakan ‘Apakah kewajiban saya sebagai anggota keluarga besar ialah negara Indonesia ini?’ Inilah piliran yang harus senantiasa diinsafkan oleh kita semua.”

Sehubungan dengan upaya melaksanakan kewajiban anggota keluarga besar sebagaimana pesan Profesor Soepomo tersebut, penulis insaf. Bertalian dengan pencarian dan pengutaraan penyebab bergesernya “matahari” Pancasila ke arah kondisi terbenam dan padam seperti yang sedang bersama kita alami sekarang ini, tidak tertutup kemungkinan akan timbut terjadinya konsekuensi yang penulis tidak harapkan. Namun demikian, seandainya toh hal itu terjadi, penulis berharap serta berdo’a semoga konsekuensi itu tidak terjadi oleh kesalahpahaman akibat salah persepsi atas maksud penulis, yang tidak lain adalah semata-mata sebuah ketulusan serta kemurnian hati. Hati yang sangat merindukan dapat kembali merasakan hangat dan terangnya cahaya Pancasila. Cahaya Pancasila obor penyuluh perjalanan bangsa Indonesia mencapai cita-cita luhur perjuangannya.

Waktu itu Bung Karno pun berpesan: “Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi suatu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi suatu bangsa, satu nasionaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sejahtera dan aman, dengar ketuhanan yang luas dan sempurna, janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan.”

Sebuah pesan yang dalam telinga penulis seolah gema yang bunyinya: “bukan pertentangan, bukan pertentangan dan sekali lagi bukan pertentangan”, betapa pun tingginya egoisme kita masing-masing, apa pun wujud egoisme itu; tidak terkecuali “agoisme agama”. Sebagaimana hal ini secara lugas dikemukakan oleh Sang Penggali Pancasila dalam pidato 1 Juninya, duimana dikatakan dalam menguraikan prinsip kelima, prinsip ketuhanan: “Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme agama’.

Berpijak pada segala yang terurai di atas, dengan segala kekurangan serta kerendahan hati, penulis mempersembahkan buku tentang Masa Gelap pancasila. Semoga berkenan di hari para pembaca.

###

DAFTAR ISI

Pengantar Penulis

Prakata

Daftar Isi

Bab I.  Latar Belakang Kesejarahan

Bab II  Modal, Dampak dan Peran serta Daya Kerja pada Tatanan Kehidupan Masyarakat

Bab III  Kapitalisme-Imperialisme-Kolonialisme-Nasionalisme

Bab IV  Metamorfosis Kapitalisme ke Imperialisme dan Kolonialisme

Bab V  Nasionalisme dan Kendala yang Mengiringi

Bab VI  Empat Kendala Nasionalisme

Bab VII  Kapitalisme dan Lahirnya Bangsa Modern

Bab VIII  Sisi Terang dan Sisi Gelap Kapitalisme

Bab IX  Tugas Sejarah Bangsa

Bab X  Karakter Bangsa Indonesia

Bab XI  Bangsa Indonesia

Bab XII  Mengapa Pancasila Menolak Neoliberalisme?

Bab XIII  Tiba Waktunya Bicara Pancasila

Bab XIV  Pidato Lahirnya Pancasila

Bab XV  Penyebab Redup Terbenamnya Matahari Pancasila

Bab XVI  Problematik Bangsa

Bab XVII  Pancasila dan Hak Asasi Manusia

Bab XVIII  Pembunuhan Massal 1965-1966, Sebuah Peristiwa Politik

Bab XIX  Pemahaman HAM di Negeri Kita

Bab XX  Restorasi…Ke mana?

Catatan Kaki

Indeks

Tentang Penulis

 

Tentang Penulis

Tan-Swie-LingTan Swie Ling (76 thn),  terlahir dari keluarga misin di Wiradesa, Pekalongan , pada 12 September 1938.  Pada 1966 Tan terseret dalam penjara G30S. Selama lebih dari 13 tahun ia hidup bersama mantan tukang beling, tukang becak, sempai dengan para jenderal serta menteri. Selama di penjara, Tan mengalami siksaan fisik secara sadis. Setelah bebas, ia menerima segala macamdiskriminasi, ancaman, dan pemerasan selama Orde Baru,  sebuah kondisi yang semakin mematangkan kemandirian hidupnya.

Pada 1998. Tan mulai kembali melakukan aktivitas sosial politik dan menerbitkan majalah bulanan  Sinergi Warga Bangsa hingga 2002. PAda 1999-2000 ia merumuskan konsep “Aspirasi Masyarakat Korban Istilah Asli dn Tidak Asli” sebagai argumentasi amandemen pasal 6 UUD 1945. Pada 2003 ia mendirikan sekaligus mengetuai Lembaga Kajian Sinergi Indonesia. Lembaga tersebut juga menerbitkan majalan bulanan Sinergi Indonesia. Tan sendiri menjabat sebagai Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi pada 2003-200. Tan juga adalah penulis buku G30S 1965  PERANG DINGIN & KEHANCURAN NASIONALISME ; Pemikiran Cina Jelata Korban Orba, Komunitas Bambu 2010.

@htanzil