Saat membaca buku Total Bung Karno 2 karya Roso Daras (Imania, 2014) saya baru tahu kalau penulis buku biografi pertama Bung Karno itu bukan Cindy Adams seperti yang banyak disangka orang melainkan seorang warga keturunan Tionghoa Im Yang Tjoe yang dengan dengan judul Soekarno Sebagi Manoesia. Biografi ini diterbitkan oleh penerbit Boekhandel ‘Ravena’, Solo, Java, 1933 saat situasi politik di Hindia sedang panas-panasnya dan bung Karno baru saja keluar dari penjara Sukamiskin, Bandung.

Siapa sesungguhnya Im Yang Tjoe?  Nama yang sama sekali tidak dikenal.  Jika kita mencermati deretan nama-nama penulis dan wartawan keturunan Tionghoa maka  kita tidak akan menemukan nama Im Yang Tjoe. Hal inilah yang  membuat sinolog  Prof Dr Myra Sidharta, guru besar UI, tergerak untuk menelusuri penulis misterius tersebut. Dari hasil penelusurannya maka terkuak bahwa Im Yang joe adalah nama pena dari seorang wartawan yang bernama asli Tan Hong Bun.

Tan Hong Bun sendiri ternyata pernah dekat dengan Bung Karno dan pernah dipenjara bersama sang proklamator. Selain menulis biografi Bung Karno, ia juga menulis buku Orang-orang Tionghoa Terkemuka di Tanah Jawa yang membuat namanya menjadi terkenal. Di masa tuanya Tan Hong Bun meraih kesuksesan bukan karena bukunya atau kedekatannya dengan bung Karno melainkan karena usahanya yang ulet dalam mengembangkan jamu dalam kapsul dengan merek dagang Pil Kita. Jamu/obat pelopor untuk penguat stamina bagi para pekerja keras yang melegenda dan hingga kini masih terus diproduksi.

Demikian sedikit tentang Im Yang Tjoe (Tan Hong Bun) sang perintis biografi Bung Karno. Pada tahun 2008 buku biografi karyanya ini ditulis ulang oleh wartawan senior Peter A. Rohi

Berikut ulasan dari buku biografi Soekarno yang saya peroleh dari situs http://mencarimaknahidup.wordpress.com

soekarnosebagaimanoesia_11168Judul : Soekarno Sebagi Manoesia

Penulis : Im Yang Tjoe (Ditulis ulang oleh Peter A. Rohi)

Penerbit : Panta Rei, 2008

Tebal : 82 hlm

Buku ini merupakan biografi singkat mengenai sosok Soekarno, presiden Republik Indonesia yang pertama.Buku setebal 82 halaman ini menggambarkan tokoh Soekarno berbeda dengan buku-buku biografi kebanyakan. Buku aslinya, yang ditulis oleh Im Yang Tjoe ini diterbitkan pada tahun 1933. Jauh sebelum Soekarno dilantik sebagai presiden Republik Indonesia. Hal ini menandakan bahwa sosok Soekarno telah dikenal selama masa perjuangannya dan telah menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang. Siapakah Im Yang Tjoe? Pertanyaan itulah yang sebenarnya belum banyak mendapat penjelasan. Im Yang Tjoe hanya dikenal sebagai wartawan pada masa pergerakan melawan kolonial, berdarah Tionghoa, yang telah lama kenal Soekarno dan mengamati sepak terjang perjuangannya. Tidak banyak buku mengisahkan Im Yang Tjoe atau menyertakan tulisan-tulisannya sebagai sumber penulisan biografi tentang Soekarno.

 

Buku ini tidak sekedar menggambarkan Soekarno sebagai founding father Indonesia dengan pikiran-pikiran politisnya, melainkan berusaha memaparkan dengan narasi dan deskripsi yang detail tentang siapa itu Soekarno dari sisi humanisnya. Mulai dari kehidupan masa kecilnya yang tumbuh dan berkembang di sebuah desa di Tulungagung, bagaimana ia dibesarkan oleh kakeknya, Raden Hardjodikromo hingga Soekarno dewasa lengkap dengan paparan jejak idealis dan perjuangannya.
Penggambaran yang ditulis Im Yang Tjoe sangat jelas, teramat jelas bahkan. Ia bisa menjelaskan masa kecil Soekarno, bukan cerita yang umum, tetapi sangat spesifik hingga pembaca bisa tahu siapa tokoh wewayangan yang menjadi idola Soekarno, bagaimana ia di mata kawan-kawannya saat kecil, apa yang melatarbelakangi munculnya gagasan Marhaen yang selalu diajarkan oleh Soekarno hingga dewasa. Pemaparannya dilakukan dengan narasi yang mampu membawa pembaca menyelami bagaimana Im Yang Tjoe memaknai sosok Soekarno.
Tidak hanya memberi deskripsi tentang kehidupan Soekarno Im Yang Tjoe juga menceritakan orang-orang di sekitar Soekarno, ibundanya, ayahandanya, kakeknya, dan teman-teman seperjuangannya. Seolah Im Yang Tjoe menuliskannya dari manuskrip yang memang telah menceritakan detail kehidupan Soekarno. Salah satu keunggulan lain yang mebuat buku ini ”enak” untuk dibaca adalah bagaimana Im Yang Tjoe menarasikan sebuah paparan biografis yang sarat muatan sejarah dengan nuansa dramatis seperti gaya penulisan karya-karya fiksi. Lengkap dengan penggambaran bagaimana setting saat itu, suasana, waktu, tempat semuanya bisa dibayangkan oleh pembaca.
Sisi humanis lainnya yang diangkat Im Yang Tjoe dari sosok Soekarno adalah ia sebagai seorang Pecinta. Dalam buku ini diceritakan bagaimana jalan cinta Soekarno dengan istri pertamanya Oetari dan istri keduanya Inggit Garnasih. Diceritakan pula bagaimana Soekarno patah hati hingga terpuruk yang malah membawanya pada pengalaman spiritual, dimana Soekarno menemukan Tuhan. Dalam buku ini, Im Yang Tjoe menggambarkan Soekarno sebagai orang yang tak beragama pada akhirnya, hanya mengenal Tuhan sebagai DIA.
Sayangnya penggambaran ini memiliki banyak celah untuk dipertanyakan. Uraian detail yang dipaparkan saya anggap sebagai interpretasi Im Yang Tjoe tapi sayangnya saya agak ragu menyebut itu sebagai benar hasil interpretasi. Minimnya data dan keterangan darimana Im Yang Tjoe mendapat deskripsi sedemikian jelas membuat fakta dalam tulisannya bisa kembali dipertanyakan. Seperti ketika Soekarno mengadu pada ibunya tentang perpisahannya dengan istri pertamanya, Oetari, dalam buku ini. Im Yang Tjoe bisa mengutip perkataan langsung ketika Soekarno berkeluh kesah pada ibunya. Dari pemaparan itu terdapat kesan bahwa Im Yang Tjoe benar-benar ada di situ, di dekat ibu dan anak itu. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah benarkah Im Yang Tjoe ada di sana saat itu? Validitas kutipan itu juga bisa kembali dipertanyakan karena Im Yang Tjoe tidak menyebut sumber data itu atau jika memang ia ada di sana saat itu, Im Yang Tjoe tidak menjelaskan posisinya dalam kejadian tersebut.
Tetapi terlepas dari itu tulisan ini bisa menjadi referensi bagi setiap orang yang ingin mengetahui sosok Soekarno jauh dari kejayaannya yang memang trelihat oleh kebanyakan orang. Karena buku ini terbit tahun 1933 dan merupakan uraian kehidupan awal Soekarno.
Satu hal yang konsisten dari buku ini adalah berusaha menggambarkan Soekarno sebagai pejuang rakyat kecil. Seseorang yang rela berkorban untuk pergerakan atas nama rakyat. Hal itu digambarkan dari retorika Soekarno yang dilampirkan ketika Soekarno diadili karena dianggap memberontak setelah mendirikan PNI. Juga digambarkan bagaimana konsistennya Soekarno menolak kolonial dengan menolak tawaran kerja dari pemerintah Kolonial Belanda untuk tetap menjaga idealisnya. Tetapi lagi-lagi saya menemukan bahwa buku ini murni interpretasi pribadi Im Yang Tjoe. Hanya ada Soekarno dan Im Yang Tjoe yang mengamatinya. Tidak terdapat kutipan dari pihak lain atau referensi sumber lain. Entah karena pada saat itu hanya buku inilah tulisan tentang biografi Soekarno atau memang sebenarnya buku ini lebih berperan sebagai buku diary atau catatan pribadi Im Yang Tjoe tentang Soekarno. Allahu a’lam Bishawab.

sumber :

http://mencarimaknahidup.wordpress.com/2009/11/29/soekarno-sebagai-manoesia/

 

@htanzil