REALISME MAGIS

Oleh: Indra Tjahyadi

realismo MagicoRealisme magis lebih merupakan sebuah bentuk sastra daripada suatu genre sastra yang dapat dibedakan. Ia dikarakterisasi oleh 2 (dua) perspektif yang saling bertentangan,  yaitu: di satu sisi berbasis pada sebuah cara pandang rasional atas realitas, dan di sisi lain berbasis pada penerimaan pada hal-hal yang bersifat supranatural sebagai sebuah realitas yang prosaik. Meskipun demikian, realisme magis berbeda dari fantasi murni. Hal ini dikarenakan realisme magis ditata dalam bentuknya yang normal, sebuah dunia modern dengan deskripsi otentik atas manusia dan masyarakat.

Secara tipikal, karya-karya realisme magis, senantiasa menghadirkan karakter-karakter yang hidup di dunia realitas keseharian dan karakter mimpinya sendiri. Meskipun demikian, realisme magis juga dapat didefinisikan sebagai suatu keasyikan atau ketertarikan yang teramat sangat dalam memprlihatkan hal-hal yang biasa atau yang terjadi sehari-hari menjadi sesuatu yang tidak sekedar biasa atau bahkan aneh.

Angel Flores berpendapat bahwa realisme magis melibatkan peleburan hal-hal riil dengan hal-hal fantastik, atau dalam kata-katanya,”suatu penggabungan atau peleburan dari realisme dan fantasi”. Dalam realisme magis kehadiran hal-hal supranatural kerap kali terhubung pada hal-hal purbawi atau mentalitas magis orang Indian, yang hidup dalam semesta gabungan dengan rasionalitas Eropa. Mencermati pikiran tersebut maka bukanlah hal mengherankan apabila Ray Vrezasconi, seperti juga kritikus-kritikus lainnya, pernah menyatakan bahwa realisme magis adalah sebuah ekspresi dari realitas Dunia Baru yang pada satu saat mengkombinasikan elemen-elemen rasionalitas peradaban-tinggi Eropa dan elemen-elemen irasional suatu peradaban primitif Amerika

Menurut Gonzales Echeverria, realisme magis menawarkan sebuah pandangan dunia yang tak berdasar pada alam atau hukum-hukum fisik juga realitas objektif. Sehingga dalam realisme magis seorang penulis berusaha untuk melawan kenyataan dan mencoba untuk kembali menyingkapnya dengan jalan mencari apa yang menjadi inti misteri dalam kehidupan, obyek, serta perilaku manusia.

Dalam realisme magis seorang sastrawan atau seniman bukannya hendak menghadirkan sesuatu fenomena sebagai sesuatu yang keseharian. Sebab, melalui realisme magis seorang sastrawan atau seniman menciptakan ilusi atas “sesuatu yang tak nayata”, berusaha untuk memalsukan pelarian dari hal-hal natural, dan menyampaikan suatu tindakan yang seandainya pun dapat hadir sebagai suatu yang dapat dijelaskan akan datang dan melintas sebagai suatu keanehan.

Hal ini menimbulkan kesan, bahwa dalam realisme magis seorang sastrawan atau seniman menggubah realitas sehari-hari menjadi sesuatu yang ajaib, gaib, penuh dengan nuansa-nuansa mistis. Meskipun demikian, bagaimana pun juga karya-karya realisme magis masih berdasar pada realitas. Sebab karakter, fenomena dan kejadian atau peristiwa dalam realisme magis adalah sesuatu yang dapat dikenali dan dapat dipikirkan sebagaimana layaknya.

Akan tetapi dalam realisme magis, realisme hadir tidak seperti biasanya, atau berdasar pada konvensinya saja, melainkan sebagai suatu “mukjizat” atau menyerupai sesuatu yang senantiasa mempunyai hak-hak istimewa dalam perubahan atas realitas. Hal ini lebih didorong, bahwa tujuan seorang sastrawan atau seniman dalam realisme magis adalah untuk merangsang timbulnya perasaan aneh dengan cara memunculkan penjelasan yang tidak logis. Sejalan dengan pikiran tersebut, adalah bukan hal yang mengherankan apabila Franz Roh, seorang kritikus seni berkebangsaan Jerman, sampai berpendapat  bahwa realisme magis adalah suatu cara dari representasi dan merespon realitas dan menggambarkan gambaran teka-teki realitas.

Realisme magis mempunyai taktik penulisan yang digunakan untuk mengubah wujud realitas sehari-hari menjadi suatu bentuk yang berbeda. Strategi penulisan realisme magis terletak pada usaha untuk memperlihatkan suatu atsmosfer supranatural dalam setiap penciptaannya. Dan hal ini dikerjakan dengan tanpa adanya usaha penyakalan atau pengingkaran terhadap alam.

Dalam realisme magis, kesadaran keajaiban penciptaan merupakan kesadaran keajaiban penciptaan yang tidak biasa, tak terduga, dan senantiasa merujukkan diri pada fenomena-fenomena yang tak mungkin terjadi. Akan tetapi dalam realisme magis, hal ini tidaklah terjadi secara alamiah, melainkan karena disebabkan oleh manipulasi yang disengaja atas realitias dan persepsi seorang sastrawan atau senimannya sendiri dalam usahanya guna menciptakan karya-karyanya. Juga diakibatkan oleh besarnya ketertarikan sastrawan atau seniman tersebut pada hal-hal supranatural. Dalam beberapa kasus karya-karya realisme magis, hal ini menimbulkan banyaknya hal-hal aneh yang bermunculan. Hal ini memunculkan kesan, bahwa karya-karya realisme magis mengabaikan segenap efek emosional dan keacuhan manusia atas kengerian yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa yang aneh,

Di Amerika Latin pada tahun 1940-an realisme magis merupakan suatu cara untuk mengekspresikan mentalitas Amerika dan gaya sastra yang otonom. Dan pada kisaran tahun 1940-an s/d 1970-an realisme magis digunakan untuk mendeskripsikan serta mendefinisikan suatu tendensi naratif di Amerika Latin.

TheShedGabrielGarciaMarquezSecara umum,  karakterisasi realisme magis meliputi: (a) Hibriditas, (b) Ironi Berkenaan dengan Perspektif Penulis, (c) Sikap Bungkam Penulis dan (d) Supranatural dan Natural.

Hibriditas: realisme magis menggabungkan banyak tehnik yang menghubungkannya pada post kolonialisme, dengan hibriditas menjadi ciri khas utama. Sehingga secara spesifik realisme magis adalah diilustrasikan dalam arena yang tidak harmonis sebagaimana pertentangan urban dengan orang-orang desa, dan Barat dengan hal-hal yang asali. Alur dari realisme magis bekerja menggabungkan isu dari daerah-daerah pinggiran, pencampuran dan perubahan. Sebab dalam realisme magis seorang penulis membentuk ini untuk menyingkap tujuam utama realisme magis, yaitu: suatu realitas yang lebih nyata dan dalam dari yang diilustrasikan oleh tehnik realis konvensional.

Ironi Berkenaan dengan Perspektif Penulis: penulis harus memiliki arah ironi dari pandangan dunia magis pada realisme untuk tidak menjadi kompromi. Dalam artian, bahwa secara simultan seorang penulis haruslah secara kuat merespon hal-hal magis, atau hal-hal magis tersebut larut ke dalam cerita rakyat yang sederhana atau fantasi yang lengkap, terpisah dari yang riil dan bukannya menyinkronkan dirinya dengannya. Istilah “magis” terhubung pada kenyataan bahwa cara pandang yang dilukiskan teks secara eksplisit tidak mengadopsi sesuai dengan kandungan pandangan dunia realis. Sejalan dengan pikiran tersebut Gonzales Echeverria berpendapat, bahwa tindakan dari memberikan jarak atas dirinya sendiri dari sebuah kepercayaan dipegang oleh suatu keyakinan kelompok sosial menjadikan hal tersebut menjadi tidak mungkin dipikirkan sebagaimana sebuah representasi masyarakat tersebut.

Sikap Bungkam Penulis: sikap bungkam penulis menunjukkan pada keperluan akan opini yang jernih tentang keakurasian suatu persitiwa dan kredibilitas pandangan dunia yang diekspresikan oleh karakter dalam teks. Tehnik ini mempromosikan penerimaan dalam realisme magis. Sebab dalam realisme magis, tindakan sederhana dari menjelaskan hal-hal supranatural akan memusnahkan posisi persamaannya memandang sebuah pandangan konvensional yang bersifat personal dari realitas. Karena hal tersebut akan tidak kurang valid, dunia supranatural akan terbuang dan dibuang saebagai sebuah tertimoni yang salah.

Supranatural dan Natural: dalam realisme magis hal-hal supranatural tidak dipamerkan sebagai suatu keraguan. Semantara pembaca menyadari bahwa hal-hal rasional dan irasional adalah bertentangan dan dua kutub yang saling berkonflik satu sama lainnya, mereka tidak dikacaukan karena hal-hal supranatural menyatu dengan norma-norma dari persepsi narator dan karakter dalam dunia fiksi.

Sepanjang ragam tema dalam realisme magis, ide atas teror mengambil-alih kemungkinan corak baru dalam realisme magis. Semisal figur terkemuka yang otoriter, seperti polisi, tentara, juga orang-orang sadis yang mempunyai kekuatan untuk menyiksa dan membunuh.

Selain itu, waktu juga merupakan tema lain yang menonjol dalam realisme magis. Yang kerap kali dipertontonkan sebagai orbit peredaran yang tetap dari sebuah garis lurus. Dalam pemahaman, bahwa apa yang telah terjadi ditakdirkan untuk terjadi lagi. Hal ini terjadi karena karakter-karakter dalam relaisme magis jarang sekali, apabila pernah ada, menyadari akan janji hidup yang lebih baik. Ini merupakan akibat dari ironi dan paradoks yang senantiasa berakar pada pengulangan-pengulangan sapirasi-aspirasi sosial dan politik. Menurut Angel Flores, dalam realisme magis “waktu” mengalir tanpa pembatasan atas waktu. Hal ini, menurutnya, membuat dalam realisme magis apa yang hadir sebagai sesuatu yang tidak nyata dapat hadir sebagai sesuatu yang nyata. Dan apa yang hadir sebagai sesuatu yang nyata dapat hadir lebih daripada sekedar nyata.

Karnavalistik adalah tema yang lain lagi dari realisme magis. Karnavalistik adalah suatu refleksi yang bersifat karnaval dalam sastra. Konsep karnavalistik ini adalah perayaan akan tubuh, jiwa dan relasi antar manusia. “Karnaval” memperlihatkan manifestasi kultural yang mengambil tempat dalam relasi yang berbeda pada Amerika Utara dan Amerika Selatan, Eropa dan Karibia. Dan juga, kerap kali, termasuk unsur-unsur bahasa dan pakaian, sebagaimana keadaan seorang gila, orang-orang bodoh atau badut. Juga pengaturan penduduk dan partisipasi pada tarian-tarian, musik ataupun teater. Hal ini terjadi karena realisme magis Amerika Latin mengekplorasi sisi terang kekukuhan hidup dan karnaval. Juga realitas revolusi dan pergolakan politik yang tidak ada habisnya pada bagian-bagaian tertentu dunia. secara spesifik hal ini disebabkan karena Amerika Selatan dikarakterisasi oleh pergolakan politik yang tak ada habis-habisnya dari suatu idealitas politik.

hi-garcia-marquez-cp-9677714-8colGabriel Garcia Marquez, seen reading one of his books in 2010

 

Contoh terbaik bagi realisme magis adalah novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez yang berjudul “Seratus Tahun Kesunyian”. Dalam novelnya tersebut, Gabriel Garcia Marquez menangani realistas di mana batas dari sesuatu yang riil dan fantastik menjadi kabur secara alami. Ini merupakan tehnik penulisan yang unik dari realisme magis. Dan Gabriel Garcia Marquez, melalui novelnya tersebut, secara sukses mendemonstrasikannya dengan integrasi yang begitu terampil dari fantasi dan realitas dengan deksripsi atas hal-hal aneh dari peristiwa dan karakter-karakter tokoh yang diciptakannya.

Maka, adalah bukan hal yang mengherankan apabila M.H. Abrams dalam “A Glossary of Literary Term” sampai berpendapat, bahwa Gabriel Garcia Marquez dalam karya-karya yang diciptakannya menggunakan realisme magis secara tajam dalam mempresentasikan peristiwa-peristiwa keseharian dan mendeskripsikannya secara detail bersamaan dengan hal-hal fantastik dan elemen-elemen yang menyerupai mimpi, sebagaimana bahan-bahan dasar yang digunakan oleh mitos ataupun dongeng-dongeng.

Dalam novelnya “Seratus Tahun Kesunyian” tersebut, Gabriel Garcia Marquez bercerita dalam sebuah nada narasi yang serius dan natural, dan hal ini sanggup untuk menciptakan sebuah karya realisme magis, di mana segalanya mungkin dan begitu terpercayai. Dan agar penyatuan hal-hal fantastik atau sesuatu yang mustahil sempurna ke dalam peristiwa realistik, dalam novelnya “Seratus Tahun Kesunyian”, cara paling efektif yang digunakan oleh Gabriel Garcia Marquez adalah mengantarkannya sebagaimana apabila hal tersebut merupakan sebuah kebenaran yang tak dapat disangkal. Mencermati hal ini, bukanlah hal yang mengherankan apabila Lindsay Moore dalam sebuah esainya berpendapat, bahwa novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez menggabungkan banyak motif supranatural dan realisme.

Pengapungan di udara dan karpet terbang .adalah sebagian kecil dari motif-motif supranatural yang berusaha ditampilkan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam novelnya “Seratus Tahun Kesunyian” yang terkenal itu. Selain itu, motif supranatural juga ditampilkan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam novelnya tersebut lewat tokoh Malquiades, seorang gypsi yang memiliki kekuatan supranatural, yang diciptakannya dalam tradisi karnaval grotesk dan realisme supranatural.

Karakter tokoh Malquiades juga dapat dikatakan merupakan contoh hibriditas yang terdapat dalam novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez tersebut. Dan peristiwa-peristiwa kedatangan Malquiades di Macondo dengan membawa benda-benda asing yang berasal dari luar daerah tersebut, seperti balok es atau kaca pembesar, juga dapat dikatakan sebuah peristiwa yang berakar pada gagasan hibriditas. Selain itu, hibriditas juga dapat dilihat pada obsesi-obesesi dan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh karakter-karakter tokoh lainnya seperti Ursula, Kolonel Aureliano Buendeia, atau pun Jose Arcadio Buendeia.

Selain itu, novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez juga mengandung paradoks jasmaniah yang kuat dan demikian memuakkan, juga perayaan. Baik apakah itu perayaan akan sebuah ambivalensi dan gelak tawa, dan rekonstruksi atas kondisi manusia, yang kesemuannya tersebut mencontohkan karakteristik realisme magis. Sejalan dengan hal ini, Dr. Umar Junus berpendapat, bahwa novel Gabriel Garcia Marquez yang berjudul “Seratus Tahun Kesunyian” dapatlah dikatakan begitu kompleks.

Sebab, menurutnya, selain menampilkan watak-watak tokoh yang begitu ramai dan rancak dengan pengalaman pengembaraannya masing-masing, novel Gabriel Garcia Marquez tersebut mengangkat pula pelbagai persoalan budaya selama 100 (seratus) tahun, yang juga disertai akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pengembaraan watak-watak tokohnya, juga pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya. Akan tetapi, hal ini bukannya menghasilkan efek sampingan pada pembacaan atas novel tersebut.

Kesukaran pembaca untuk membedakan apakah dia berada di dunia nyata atau fantasi dalam membaca novel karya Gabriel Garcia Marquez merupakan akibat yang ditimbulkan yang disebabkan oleh kaburnya batas antara realitas dan fantasi serta hal-hal supranatural dalam novel tersebut. Sehingga, mengutip perkataan Dr Umar Junus, “akibatnya kita tidak pernah yakin apakah kita benar-benar paham bacaan kita”. Meskipun demikian, hal ini dapatlah dikatakan merupakan alasan utama dari novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez tersebut, yaitu berusaha menarik perhatian, meyakinkan, sekaligus menggoda pembaca.

Cara pandang ironi merupakan cara pandang yang kerap kali digunakan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam karya-karya yang diciptakannya, seperti pada novel-novelnya yang berjudul “Seratus Tahun Kesunyian”tersebut. Akan tetapi, tidak hanya pada novelnya terseut cara pandang ironi digunakan oleh Gabriel Garcia Marquez, akan tetapi juga pada novel-novel ciptaannya yang lain, seperti “Tumbangnya Sang Diktator” atau juga “Love In the Time of Cholera”.

Selain itu, merujuk pada Prof Madya Dr Rozy Suliza Hashim, seorang Pensyarah Universiti Kebangsaan Malaysia, bahwa novel “Seratus Tahun Kesunyian” tersebut, dapatlah dikatakan, memberikan gambaran tentang Amerika Latin, yaitu tentang sejarah pahit yang dimilikinya, perang saudara yang kerap dialaminya, juga keadaan politiknya yang senantiasa tidak menentu. Ini juga merupakan salah satu tema yang membentuk gaya realisme magis. Disamping gagasan atas teror yang berasal dari karakter-karakter tpkph terkemuka yang korup, yang pada novel “Seratus Tahun Kesunyian” diperlihatkan oleh Gabriel Garcia Marquez lewat, salah satunya, karakter tokoh Kolonel Aureliano Buendeia.

franz rohPada akhirnya, istilah realisme magis pertama kali diperkenalkan oleh Franz Roh, seorang kritikus seni berkebangsaan Jerman, pada tahun 1925, yang menyadari realisme magis sebagai sebuah kategori seni. Realisme magis pada mulanya hadir sebagai suatu istilah kritik seni, yang baru di kemudian hari diperluas juga pada sastra.

Franz Roh pertama kali menggunakan istilah ini guna untuk melakukan karakterisasi sebuah kelompok seni lukis yang dikenal sebagai “Post Ekspresionis”. Sehingga bukanlah hal yang mengherankan apabila oleh kritik seni, realisme magis pada mulanya digunakan untuk mendeskrepsikan pencampuran akan hal-hal yang biasa dengan yang fantastik.

Angel Flores menempatkan Jorge Luis Borges sebagai nenek moyang dalam sastra realisme magis. Meskipun demikian, selain Borges, nama-nama seperti Ben Okri, Isabel Allende, Syl Cheney-Coker, Kojo Laing, Allejo Carpentier, Toni Morrison, Kwsme Anthony Appiah, dan Mario Vargas Llosa. Akan tetapi, Gabriel Garcia Marquez dan Carlos Fuentes adalah nama-nama sastrawan yang mempunyai pengaruh yang kuat dalam perkembangan realisme magis di kemudian hari.

***

sumber :

Seluruh essai ini saya copy paste dari blog Zaman Baru. Ilustrasi dan foto tidak ada dalam postingan aslinya. Saya hanya menambahkan ilustrasi & foto agar menarik.🙂

 

@htanzil