sudarsono-katam1Niat tulus tercetus. Di balik meja, Sudarsono Katam menulis sejarah Bandung. Bukan hanya narasi, buku-buku yang ditulisnya sejak 2003 itu disertai foto pelengkap dokumentasi.

 

Usianya tak lagi muda. Namun, pria kelahiran 10 Agustus 1945 ini tetap bersemangat cerita tentang perjalanan kehidupan Kota Kembang dari masa ke masa.

“Saya menulis buku tentang Bandung tidak ada keinginan atau harapan lain-lain. Saya nulis buku itu untuk mengingatkan warga Bandung dan penduduk baru yang nanti akan ke Bandung,” kata Katam kepada INILAHCOM di kediamannya, Jalan Tanjung No 1 Kota Bandung.

Menulis sejarah kota yang diinjaknya sejak 1954 sebagai penyaluran hobi. Menulis memang bukanlah sesuatu yang baru. Sebab, sejak bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada 1978-2002 dia terbiasa menulis laporan pusat penelitian. Namun, bahasa yang digunakan saat itu bahasa ilmiah.

Setelah pensiun pada 2002 silam, kegiatan menulis itu pun lebih intensif. Hasilnya, satu tahun berikutnya dia menghasilkan buku berjudul “Album Bandoeng Tempo Doeloe”. Saat itu, Katam menulis bersama Lulus Abadi yang memahami seluk-beluk arsitektur.

Alumnus Jurusan Teknik Pertambangan Umum Institut Teknologi Bandung (ITB) itu terbilang produktif menghasilkan buku. Dalam rentang waktu lebih dari sepuluh tahun itu, Katam menulis 12 judul buku.

“Kalau dihitung-hitung, ada 12 judul buku yang sudah saya tulis. Itu diterbitkan oleh tiga penerbit berbeda,” ujarnya mengingatkan.

Dari sekian banyak buku itu, di antaranya “Kereta Api di Priangan Tempo Doeloe”, “Gedung Bank Indonesia Bandung: Dari Masa ke Masa”, “Gedung Sate Bandung”, “Insulinde Park”, “Tjitaroemplein”, “Oud Bandoeng dalam Kartu Pos”, “Gemeente Huis”, dll.

Beda halnya dengan karya yang ditulis Haryoto Kunto si Kuncen Bandung, buku Sudarsono Katam lebih ‘berwarna’. Sebab, di dalam bukunya penuh dengan foto dokumentasi. Buku “Album Bandoeng Tempo Doeloe” ini terbilang masterpiece-nya. Buktinya, tepat pada usia ke-200 tahun Kota Bandung, bukunya yang terdiri dari ribuan foto hitam putih itu dicetak ulang.

Dia membenarkan hal itu. “Dalam buku-buku saya, jika dibandingkan antara narasi dan foto, itu lebih banyak presentasi foto. Biarkan foto yang berbicara,” ucap pria yang hobi filateli dan mengumpulkan koleksi numismatika itu.

Penampilan Katam tak seperti biasnya orang yang sudah berusia lanjut. Hingga kini, dia masih memanjangkan rambut yang sudah berwarna putih semua. Ihwal rambut kuncir itu dia mengaku sudah dilakukan sejak menjadi karyawan Batan Bandung. Tak hanya itu, dia pun berperilaku ‘mbeling’.

“Prinsip saya, jangan ganggu saya sepanjang kerja tidak terbengkalai atau gagal. Dulu waktu di Batan pun saya dikenal karyawan bengal. Dan meja kerja saya tidak pernah ada tumpukan map dan kertas. Saya terbiasa untuk tidak menunda atau menumpuk pekerjaan. Kalau tentang rambut dikuncir ini, Dirjen sekalipun tidak berani menegur,” ujarnya seraya mengatakan dia pun terbiasa dengan manajemen waktu yang ketat.

Rencananya, beberapa bulan ke depan dia akan menulis buku terakhir. Bersama Lulus Abadi, rekannya saat menulis buku “Album Bandoeng Tempo Doeloe”, dia akan menyusun karya pamungkas. Bocorannya, buku itu mengenai Villa Isola yang kini menjadi ikon Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). (tan)

###

Sumber tulisan :

 

Si Bengal Penulis Buku Bandung