Berikut adalah catatan Mudris Amin mengenai kota Bandung dari kacamata Remy Sylado (sastrawan) berdasarkan dua buku karya Remy yaitu  Perempuan Bernama Arjuna 2: Sinologi dalam Fiksi (Nuansa Cendekia 2014),  dan Kamus Isme-isme (Nuansa Cendekia 2014). Catatan ini dimuat di situs buruan.co pd tgl 27/11/2014.

Selamat membaca,

###

Remy-Sylado-1Bandung masa kini adalah realitas metropolitan. Predikat metropolitan ini merupakan predikat resmi negara di mana kota ini bukan sebatas Kota Besar.

Metropolitan adalah sebuah fenomena khas yang selain karena memiliki kekuatan industri, keragaman kehidupan, tingkat mobilitas sosial dan budaya yang tinggi. Dengan itu pula Bandung memiliki daya tarik dari banyak hal.

Di luar kenyataan industrialisasi itu, Bandung memang patut untuk selalu diapresiasi karena daya tariknya dari sisi sejarah kebangsaan Indonesia.

Berjalan-jalan di Ibukota Provinsi Jawa Barat ini, mungkin sekian banyak hal akan bisa ditulis. Tetapi kali ini saya ingin menulis Bandung dengan tidak langsung mengangkat fakta yang saya alami, melainkan dari sebuah potret literatur karya Remy Sylado, seniman yang punya nama asli Yapi Tambayong.

Remy, selain menguasai sejarah secara detail, juga pernah tinggal di Bandung di era tahun 1960-hingga 1970an. Bahkan di kota ini, Remy Sylado punya sejarah besar dengan kiprahnya mengawal majalah musik Aktuil yang telah melegenda di kalangan pemusik dan pecinta seni Indonesia.

Di novelnya yang fenomenal Parijs van Java tahun 2004 lalu,  Remy bahkan secara khusus mengapresi kehidupan sejarah Bandung di zaman Hindia Belanda. Novel itu dikenal sangat bermutu dan bahkan harus dijadikan bacaan penting bangsa Indonesia, khususnya urang-urang Bandung.

Novel  Parijs van Java adalah fiksi-sejarah yang memuat kisah-kisah kehidupan tentang warga pribumi Bandung, kisah Soekarno selama di kota kembang, kehidupan kaum Indo, mentalitas pribumi, etnik Tionghoa dan lain sebagainya begitu memikat untuk diserap sebagai sumber pengetahuan masa kini.

duaremyNah, sekarang, ada buku-buku lain dari Remy Sylado yang berkisah tentang kehidupan kota Bandung ini.  Yang terbaru adalah Novel Perempuan Bernama Arjuna 2: Sinologi dalam Fiksi dan buku lain adalah Kamus Isme-isme, yang memuat sejumlah entri lokal dari tanah pasundan.

Mari satu persatu kita telaah pandangan Remy Sylado dari kedua buku tersebut:

Bandung Sebagai Mooi Indie


Dalam benak Remy, Bandung adalah kota yang menyediakan lanskap pemanja mata. Bagi Remy, agaknya, Bandung adalah bagian dari mooi indie (Hindia Molek). Hasil pencitraan para pebisnis wisata terhadap eksotisme Hindia:

“…Punclut, di mana sebagian besar pemandangan kota Bandung di bawah sana tampak permai dari atas sini.”

“Di jalan panjang bagian utara Bandung banyak rumah yang dibuat restoran dengan menu pilihan Barat dan Timur, tapi tidak ada yang benar-benar masakan Cina seperti di selatan kota. Padahal Jean-Claudevan Damme ingin masakan Cina yang benar asli. Maka, akhirnya kami ke bawah, ke Jl. Raya Barat, atau resminya sekarang Jl. Jendral Sudirman.”

“…di restoran di gedung Mall Citylink di Jl. Terusan Otto Iskandardinata, duduk di bagian paling atas yang terbuka dan dari sini terlihat bagian utara Bandung, penuh lampu-lampu, membuat pemandangannya permai di malam begini.”

“Bandung memang kota yang romantis nian untuk memadu cinta-kasih-sayang tersebut. Ini sudah dikatakan oma-opa sejak zaman baheula, zamannya kuda gigit besi. Dan, setahu saya pula, dari bacaan lama, pernah dikatakan oleh seorang pengembara, lupa namanya, bahwa pada zaman kolonial dulu, ada nyanyian dalam bahasa kereseh-peseh yang khas seleranya serdadu-serdadu Belanda pribumi tentang eloknya Bandung bagi pengantin baru.

Bandoeng is goed
voor pas getrouwde paar

Terjemahannya/Bandung cocok/ untuk pengantin baru.”

Bayangan yang demikian timbul ketika Remy memposisikan diri sebagai turis, sebagai pungunjung, sebagai penikmat. Ia melihat dan merasakan lanskap Bandung sebagai sesuatu yang eksotis, yang menentramkan hati, sekaligus menghibur. Karena itu ketika penikmat itu kehilangan kenimatannya ia akan mengumpat.

“….di Bandung, kelakuan pengendara-pengendara motor itu memang ugal-ugalan: kayak monyet-monyet dikasi baju”

”…Sekarang kami sedang menuju ke Lembang, dan macet.”

Turis selalu membayangkan segala sesuatunya berjalan nyaman, tak ada gangguan:

“Lumayan, pada malam begini Bandung tidak dibikin terosol oleh-pengendara-pengendara motor yang menyelap-nyelip ugal-ugalan.”

Pembayangan tentang keindahan dan eksotisme itu sebenarnya khas Barat. Pada mulanya di jaman kolonial, pembayangan itu timbul karena sebuah pencitraan media; lukisan, fotografi, dan kartu pos. orang-orang Barat melihat Timur dengan lanskap dan penghuni-penghuninya sebagai sesuatu yang eksotik, berbeda, dan unik—yang tak dijumpai di negeri asalnya.

Dengan memaparkan Bandung yang molek seperti itu, Remy dengan demikian, sedang memposisikan sebagai turis yang egoistik pada keindahan semata. Ia tidak mau tahu dengan segala persolan-persoalan yang ada di balik keindahan tersebut. Sebagai turis ia tak akan tinggal lama dalam keindahan itu. Ia harus mengambil jarak untuk kembali bisa menemukan kerinduan pada keindahan yang dibayangkan.

Sebagaimana turis, ia tak bisa menjadi bagian keindahan itu sendiri. Ia hanya jadi penonton. Ia hanya akan memadatkan kenangan pada keindahan-keindahan itu dalam selembar foto dan sehalaman cerita. Ia tak bisa menjadi pemeran keindahan itu sebab dengan demikian ia akan kehilangan dirinya sebagai penikmat

Bandung Sebagai Kontradiksi
Tapi dalam kenyataanya Remy tidak demikian. Ia memahami Bandung dalam setiap jengkal kontradiktif di dalamnya. Hal ini bisa kita lihat dalam Perempuan Bernama Arjuna 2, di situ Remy menulis:

“Oh, ya, omong-omong, saya lihat banyak orang Bandung yang tampaknya sangat gandrung bernostalgia ke zaman kolonial Belanda yang kareseh-peseh itu. Dan, karena semangatnya hanya melulu nostalgia ke masa lalu itu, serta kurang periksanya pada peta sejarah, bahwa di zaman itu orang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa terpelajar, maka ironisnya orang sekarang ini, yang merasa diri berpendidikan tapi tidak mengerti bahasa Belanda, seenaknya menulis kata bahasa Belanda untuk sebuah nama mal di Jalan Sukajadi secara keliru.

Tadi siang kami jalan-jaan di mal yang salah tulis itu, yaitu “Paris van Java”. Nah, itu ngawurnya, maunya berkareseh-peseh tapi malu bertanya sesat di jalan. Sebab, harusnya kalau memakai kata van maka bahasa Belanda untuk Paris adalah Parijs. Jadi ejaannya yang betul adalah Parijs van Java, dilafalkan sebagai ‘pareis fan iafa’. Ini julukan yang direka oleh orang Belanda pada zaman kolonial dalam mempromosikan kota ini sebagai tujuan wisata: yaitu wisata kuliner lantas wisata seks.”

Dengan paparan seperti itu, Remy ada di di balik keindahan yang disaksikan para pelancong. Baginya julukan Parijs van Java yang nampak membanggakan itu ternyata mengandung persoalan etik bagi Bandung sendiri. Sebagaimana disampaikan di atas, bayangan keindahan itu merupakan bagian pencitraan turisme kolonial yang tidak sepenuhnya pas diterapkan kembali.

Tapi di sisi lain, Remy yang ada di balik keindahan itu, mungkin tak bisa menampik adanya fakta:

“Sampai sekarang ini toh ditengah-tengah pusat kota Bandung tetap berdiri kompleks pelacuran bernama resmi Saritem, konon kependekan dari bahasa Jawa yang sudah populer sejak zaman Bung Karno kuliah di ITB, yaitu ‘sari tempik’, dan oleh para preman zaman kiwari dijuluki sebagai ‘bursa heunceut’, atau lebih jenaka lagi disebut oleh penganut life style sebagai ‘purenva’, singkatan dari “pusat rental vagina”. Itu memang penamaan yang betul.Sebab sesungguhnya pelacur bukan ‘menjual diri’ tapi ‘menyewakan tubuh’.

“Tapi, dalam bahasa Bandungnya perempuan-perempuan profesional itu disebut ungkluk  atau ublag.”

Pandangan semacam ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang terlibat langsung dalam dinamika sebuah kota. Ia memahami akan sebuah kontradiksi-kontradisksi di dalamnya. Dengan demikian ia menjadi pengamat yang lebih obyektif dalam melihat kota itu sendiri:

“Kasihan, para moralis yang biasanya adalah juga para munafik – yang menjadi munafik karena jaim oleh jabatan publiknya – menyebut pelacur-pelacur itu ‘sampah masyarakat’. Itu kelewatan. Padahal siapapun yang pernah kuliah di Bandung, tentu diam-diam memandang pelacur-pelacur itu sebagai penolong sejati yang paling bermanfaat di saat pikiran dan perasaan mendadak sumpeg oleh birahi yang menggila dan membuyarkan konsentrasi belajar. Maka, atas dasar ingatan itu, apa salahnya menyebut para pelacur sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’? Ya, pahlawan syahwat.Mereka selalu siap sedia dalam semua waktu membuka celana buat ente.

“…di Bandung sini, istilah itu disebut ‘ngewe’. Di Surabaya disebut ‘ngencuk’. Di Makassar disebut ‘gandrang’. Di Manado disebut ‘cuki’. Di Jakarta disebut ‘ngentot’.”

Pengamatan yang obyektif sebagai sosok yang berdinamika di balik kemolekan Bandung juga nampak dalam buku Kamus Isme-isme. Di buku itu Remy menulis:

“… Seperti kata orang, jangan harap ada nama jalan di Bandung –sebagai ibukota provinsi orang Sunda, yang terkait dengan cerita sejarah di balik Amukti Palapa, sumpah Gajah Mada untuk antaralain menaklukkan Sunda – yang dengannya bernama Jl. Gajah Mada, Jl. Hayam Wuruk, Jl. Majapahit

“Anehnya, di Bandung sampai hari ini banyak nama jalan yang memakai nama orang Belanda, bangsa yang menjajah Indonesia sampai 1949”

Masih di buku yang sama, Remy melihat perilaku unik dari warga kotanya. Bagian dari kemolekan yang mengandung pelbagai persoalan. Remy yang tinggal di bandung sejak akhir 1960an tahu persis dinamika sosial di kota ini. Dalam buku itu, Remy mencatat:

“Bondonisme, perilaku gadis-gadis muda meniru bondon. Kata ‘bondon’ lahir di Bandung pada 1980-an untuk menyebut pelacur-pelacur amatir, artinya gadis sekolah antara pelajar SMA dan mahasiswa PT, yang melakukan fornikasi atau hubungan seks bebas tanpa mengharapkan uang jasa mesum seperti lumrahnya lonte-lonte profesional. Sebelum lahir kata ‘bondon’ pada 1970-an penjaja seks amatir ini disebut ‘gongli’. Para gongli saat itu mejeng di Jl. Tamblong, dan bondon sekarang sekali-dua tempo mejeng di Jl. Dago, mencegat mobil yang macet pada malam Minggu lantas menyingkap sedikit blusnya dan menunjukkan puting payudaranya. Tindakan ini dijadikan syarat investasi untuk melaksanakan maksiat.”

Masih di buku yang sama Remy mencatat sejumlah persoalan warga kota yang mungkin kini hanya ada di dalam obrolan warung:

“Glamgolisme, perilaku premanisme khas Bandung yang pada 1970-an berkeliaran pada malam hari sekitar alun-alun. Kata glamgoli oleh anggotanya merupakan singkatan dari ‘gelandangan malam golok liar’. Di luar dari aksi kejahatan amatiran yang mereka lakukan, mereka juga dikenal sebagai pendukung pertama musik melayu yang kemudian bernama ‘dangdut’.”

Catatan Remy atas kata di atas sama saja dengan membuka kembali ingatan orang atas dinamika kota. Fenomena glamgoli di era 1970an membuat orang akan mengasosiasikan dengan fenomena terakhir tentang geng motor Brigez di Bandung. Keduanya mungkin setipikal hanya nama dan waktu yang berbeda. Dengan demikian Remy tidak sekadar pelancong, ia juga pencatat aktif dinamika Bandung meski dirinya bukan orang “asli” Kota Kembang.

Bandung Sebagai Kreativitas
Sebagai orang yang berdinamika di Bandung, Remy mencatat secara khusus hal ihwal kreativitas para seniman di kota ini. Dalam catatan Remy, pengaruh Altruisme di Indonesia paling kuat di Bandung. Pada 1970an para seniman lukis penganut Hippies mengekspresikan seni merekan melalui grafiti-grafiti yang menyolok di tembok-tembok pinggir jalan kota.

Para seniman ini adalah penganut Hippies ini di Amerika pelakunya dikaitkan dengan paham Altrurisme, perhatian yang bersifat suka dan senang untuk mempeduli kepentingan orang lain, lawan dari egoisme.

Di Amerika penganut aliran ini dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi ganja, marijuana, dan sejenisnya. Tapi di sisi lain mereka kritis tehadap kebijakan politik negara. Salah satu kritikan para seniman itu adalah slogan “make love not war” terkait dengan campur tangan Amerika di Perang Vietnam.

Selain kreatfitas seni lukis, Remy juga mencatat dirinya sendiri sebagai salah satu penggerak dunia music di Bandung. Ketika dirinya di aktuil bahkan muncul istilah Bandungsentrisme. Menurut catatan Remy,  istilah kritis tersebut muncul pada 1970-an terhadap kebiasan Aktuil memuat berita kelompok-kelompok musik rock yang ada di Bandung.

Istilah lain yang muncul adalah “cuapisme, istilah pop yang lahir dari latar lisan di kalangan anak muda di Bandung 1960-70an untuk menunjuk bobot percakapan yang sekedar ikut-ikutan dan tidak penting”. Istilah ini kemudian diangkat dan dipopulerkan di majalah music Aktuil dengan kolom bernama “Seksi Cuap” yang diasuh oleh Remy.

Dalam catatan Remy, dinamika musik di Bandung juga diwarnai dengan hal-hal rancu. Seperti yang terjadi pada pertengahan tahun 1970an ketika anak muda Bandung menyebut music rock yang keras dan ritmik dengan kata gron.  Kata ini sebenarnya berasal dari kata ‘gound’, maksudnya ‘underground’.

Bahkan, banyak lagu yang sebenarnya bukan bergenre underground disebut ‘gron’ asal dimainkan di panggung dengan amplifier besar. Fenomena ini, dalam ingatan Remy, melahirkan istilah Gronisme.

Istilah lain yang diungkap Remy adalah “Tigajurusisme”. Istilah ini muncul sebagai reaksi atas musik-musik harmoni “tiga jurus”, yaitu pasangan grip-grip atau akord-akord macam C-F-G7, G-C-D7, D-G-A7, dst.

Belakangan kelompok band Metal Hidrolik (maksudnya, musik metal yang dapat dikolaborasikan dengan aliran musik apa pun, seperti cara kerja hidrolik yang naik-turun) asal Bandung, Kuburan Band menciptakan lagu Lupa yang salah satu lirik reffreinnya mirip dengan tigajuriisme itu, “

Tulisan Remy dalam Kamus Isme-isme  yang memuat entri-entri lokal,  menunjukan betapa Remy masuk ke dalam dinamika kreatifitas Bandung. Entri-entri itu menjadi pengingat sekaligus sumber pengetahuan bahwa apa yang tersedia di Bandung saat ini punya akar di masa lalunya.

Dalam ingatan Remy, Bandung telah melahirkan tokoh-tokoh penting Indonesia. Soekarno yang mencetuskan Marhaenisme adalah produk Bandung. Bahkan kata ‘marhaen’, sebagaimana diketahui, berasal dari nama Marhaen petani miskin di sekitar Bandung.

Menurut Remy, kata ‘marhaen’ itu merupakan pemadatan atas dua timbangan ideologis versi Soekarno yakni: sosio-nasionalisme dan sosio–demokrasi. Sukarno menemukan pijakan ideologisnya di kota Bandung, selain juga pijakan asmara bersama Inggit Garnasih.

Demikian pula dengan seorang poliglot bumiputera Sosrokartono, kakak RA Kartini adalah produk Bandung. Dalam catatan Remy, Sosrokartono yang menguasai dengan aktif 37 bahasa, yaitu 17 bahasa Eropa, 9 bahasa Timur, dan 11 bahasa daerah Indonesia itu dulu tinggal di Jl. Pungkur, pas di depan Mal Kebon Kelapa Bandung sekarang.

Di Bandung pula nama Remy Sylado harus dicatat. Ia yang menyebarkan virus mbelingisme dengan  puisi mbelingnya di majalah Aktuil. Puisi yang masih seksi  dibaca hingga hari ini. Seseksi Bandung di benaknya.

sumber :

http://www.buruan.co/bandung-dalam-kacamata-remy-sylado

###

@htanzil