citra perempuanCitra Kaum Perempuan di Hindia Belanda

Penulis: Tineke Hellwig
Penerbit: YOI, 2008
Tebal: 134 halaman

Secara keseluruhan, buku ini menganalisis citra kaum perempuan pada zaman Hindia Belanda melalui novel sebagai karya sastra.

Tineke mengawali bukunya dengan menceritakan sejarah Hindia Belanda. Penemuan Asia Tenggara pertama kali oleh seorang Portugis, Affonso de Albuquerque. Kedatangan bangsa Belanda pertama, dipimpin Cornelis de Houtman, pada 1596. Pendirian Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Tindakan Jan Pieterszoon Coen mendirikan markas besar VOC di Pulau Jawa, tepatnya di Jacatra (yang kemudian diubah menjadi Batavia). Serta, perkembangan VOC selanjutnya.

Menjelang akhir abad ke-18, VOC bangkrut. Tetapi, penjajahan terus berlanjut. Tineke menceritakan kehidupan sosial di Hindia Belanda yang terbagi atas golongan-golongan. Golongan atas adalah orang Belanda atau Eropa. Golongan menengah terdiri atas orang Indo dan Tionghoa. Lalu, penduduk pribumi sebagai golongan bawah.

Tineke kemudian menceritakan mengenai perempuan yang berada di Hindia Belanda. Dengan tujuan akhir untuk menciptakan komunitas yang stabil dan permanen di kepulauan nusantara, kompeni membatasi imigrasi perempuan dari negeri Belanda. “Selama 250 tahun pertama, hanya sedikit perempuan Eropa menetap di tanah jajahan ini,” tulis Tineke.

Begitupun dengan perempuan Tionghoa. ”Sampai bagian akhir abad ke-19, jarang sekali perempuan Tionghoa bermigrasi ke Hindia Belanda,” lanjut Tineke.

Akibatnya, dalam pola yang mirip, lelaki Belanda (dan Eropa) serta lelaki Tionghoa menikahi perempuan lokal.

Masalah yang timbul selanjutnya, bagi lelaki Belanda (dan Eropa), adalah masalah agama. Lelaki kristen dilarang menikahi perempuan nonkristen.

”Dalam era VOC, orang Eropa selalu memerlukan izin untuk menikah. Garis pemisah utama dalam masa ini ialah agama, bukan ras,” cerita Tineke, ”Karena keadaan itu, banyak laki-laki yang tak pernah mengawini perempuan Asia, melainkan hidup dengannya sebagai gundik atau nyai.”

Setelah VOC tidak ada lagi, larangan bagi orang kristen mengawini perempuan yang bukan kristen tetap berlaku. Sehingga, pergundikan tetap berlanjut. Selain pergundikan, pelacuran pun merajalela.

Memasuki Bab Empat, Tineke menguraikan bahasa teks dan para pengarang karya sastra yang akan ia analisis. Bahasa teks terdiri atas bahasa Belanda dan bahasa Melayu. ”Jelas bahwa karena perbedaan dalam bahasa, isi buku ditujukan kepada khalayak pembaca yang sama sekali berbeda,” tutur Tineke.

Ada sebelas pengarang yang dianalisis karya sastranya oleh Tineke. Lima orang menulis karyanya dalam bahasa Belanda yaitu Louis Couperus (1863-1928), P.A. Daum (1850-1898), Annie Foore (1847-1890, nama aslinya Francoise Ijzerman-Junius), Melati Van Java (1853-1927, nama aslinya Nicoline Maria Christine Sloot), dan Therese Hoven (1860-1941).

Sisanya, menulis dalam bahasa Melayu. Empat orang diantara pengarang berbahasa Melayu ini merupakan pengarang Tionghoa yaitu Gouw Peng Liang (1869-1928), Th. M. Phoa Sr. (1883-1928, Phoa Tjoen Huat), Thio Tjin Boen (1885-1940), dan Njoo Cheong Seng (1902-1962).

Dua pengarang terakhir adalah Herman Kommer (1873-……) dan G. Francis (1860-…..)

Tineke kemudian meringkas karya sastra dari sebelas pengarang yang telah disebutkan di atas. De Stille Kracht (Kekuatan Gaib) milik Louis Couperus, De Familie van de Resident (Keluarga Sang Residen) milik Melati Van Java, Indische Toestanden (Keadaan di Hindia) dan De Ware Schuldige (Yang Sesungguhnya Bersalah) milik Therese Hoven, Willie’s Mama dan Geketend (Terbelenggu) milik Annie Foore, Nummer Elf (Nomor Sebelas) milik P.A. Daum, Tjerita Njai Dasima milik G. Francis, Tjerita Njai Paina milik H. Kommer, Tjerita Controleur Malheure milik Th. H. Phoa, Njai Warsih milik Thio Tjin Boen, Tjerita Nona Diana milik Gouw Peng Liang, dan terakhir Nona Olanda Sebagi Istri Tionghoa milik Njoo Cheong Seng.

Ada 21 tokoh perempuan dari 13 karya sastra di atas. Tineke memberikan pandangannya terhadap 21 tokoh perempuan tersebut. Pada paragraf terakhir, pada bab terakhir, Tineke menulis, ”Jelas bahwa hubungan kolonial dalam masyarakat Hindia menyebabkan banyak perasaan tidak puas dan memerlukan sangat banyak usaha penyesuaian. Karena kekuasaan kolonial dapat diidentifikasikan dengan lelaki kulit putih, maka perempuan menduduki tempat yang lebih rendah. Ini benar bagi perempuan Eropa, dan lebih-lebih bagi perempuan pribumi dan Indo. Kita sudah sangat terbiasa dengan pandangan lelaki kulit putih, berkat studi-studi sejarah dan studi-studi sastra. Mungkin telah tiba waktunya untuk menduduki titik pandang kritikus dan berpaling pada perspektif-perspektif lain, yaitu perspektif kaum perempuan, apakah yang berkebangsaan Eropa, Indo ataupun Indonesia.

###

Sumber :

Facebook Dunia Buku

@htanzil