anomali-industri-buku-1021x580Tetap kecil, bergerilya, dan buku bagus. Tiga jurus selamat dari krisis ekonomi dalam industri buku.

YOGYA di siang terakhir bulan Oktober 2015 terasa lambat. Hujan seperti lupa datang membuat siang yang terik terasa panjang. Hawa panas menjalar hingga ke dalam ruang kafe Djendelo Koffie yang berada di lantai dua toko buku Togamas, Jalan Affandi. Tidak ada pendingin udara, sementara kipas yang dipasang tidak cukup membantu. Di sana, siang itu, saya, Sheny Wardani, dan Ade Ma’ruf berbincang tentang ekonomi Indonesia belakangan yang, seperti bagaimana hari ini terasa berjalan, melambat.

Sheny adalah manajer Togamas, jaringan toko buku yang ada di sembilan belas kota. Ade sendiri pemilik penerbit bernama Octopus. Saya berjanji temu dengan keduanya siang itu untuk mencari tahu dampak perlambatan ekonomi terhadap industri perbukuan di Yogyakarta.

Menurut Sheny, waktu jual buku menjadi lebih pendek untuk buku dan alat tulis sekolah. Biasanya sejak mulainya tahun ajaran baru hingga dua bulan kemudian menjadi masa jual toko buku untuk kebutuhan sekolah. Tahun ini masa jual tersebut hanya berlaku sebulan.

Perlambatan ekonomi membuat kebutuhan orang-orang bergeser atau, dalam istilah ekonomi, daya beli menurun. Mereka akan mengerem konsumsi yang tak penting-penting amat dan memprioritaskan konsumsi elementer. Toko buku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi perlambatan ekonomi. Jadi yang ia lakukan ialah menjaga agar pelanggannya tidak lari ke toko lain.

Saya segera menyangka keuntungan Togamas di Yogyakarta menurun tahun ini. Ternyata tidak. Ada dua Togamas di Yogyakarta, satu lagi berada di bilangan Kotabaru yang terhitung pusat kota. Keuntungan Togamas Affandi masih tumbuh di atas 20%, sedangkan cabang Kotabaru bahkan tumbuh 37%. Namun, pertumbuhan pendapatan Togamas secara nasional memang turun, menjadi kurang dari 10%.

Kata Ade, penurunan tersebut juga terjadi di jaringan toko buku terbesar di Indonesia, Gramedia. Dua hari sebelumnya, para penerbit dan distributor buku diundang bertemu oleh Gramedia cabang Yogyakarta. Ade sendiri menolak datang. Dari cerita rekan-rekannya yang datang, Gramedia melaporkan bahwa keuntungan dari penjualan buku tiap tahunnya menurun sekitar 2˗3%. Yang meningkat justru penjualan barang-barang nonbuku seperti tas, alat tulis kantor, dan lain-lain.

“Wajar kalau kemudian Gramedia ke depannya menjadi Toko Gramedia, bukan lagi Toko Buku Gramedia,” ujar Ade.

Dalam pertemuan itu Gramedia mengusulkan agar para penerbit memperbanyak judul terbitan mereka, tetapi mengurangi jumlah eksemplar tiap judulnya. Ade menilai usul ini akan mematikan penerbit besar. Sementara penerbit sekelas Octopus masih bisa bertahan karena semua pekerjanya freelance. Mulai dari editor hingga desainer sampul buku.

BEBERAPA menyebutnya perlambatan ekonomi, beberapa lainnya memakai istilah kelesuan ekonomi. Istianto Ari Wibowo, peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) Universitas Gadjah Mada, memilih kata yang tak kalah muram: krisis.

Tiga kata itu dipakai untuk melukiskan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Tahun 2014 lalu, ekonomi Indonesia tumbuh 6,46%. Pada kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 4,72%. Lalu menjadi 4,67% di kuartal kedua

Inflasi dalam definisi krisis, menurut Anto, merupakan “sesuatu yang sewajarnya”. Neraca perdagangan selalu tidak berimbang. Indonesia mengekspor barang mentah dan mengimpor barang jadi. Akibatnya, devisa terkuras. Jumlah dolar yang beredar di Indonesia berkurang—membuat nilai dolar menguat dan rupiah melemah.

Dalam situasi macam ini, perusahaan-perusahaan besarlah yang terkena dampaknya karena mereka banyak berurusan dengan dolar, tak terkecuali industri perbukuan. Harga bahan baku sangat sensitif pada naik turunnya dolar.

Kenaikan bahan baku membuat harga produk hilir juga melambung selama krisis. Konsumen menjadi selektif dalam memilih konsumsi. Skala prioritas diterapkan mulai dari kebutuhan terpenting. Masalahnya, buku bukan barang konsumsi pilihan. “Sekunder jelas enggak. Dia barang yang jelas enggak masuk list,” kata Edi Mulyono, pemilik penerbit Diva Press.

Diva Press termasuk yang terimbas krisis. Tahun ini pemasukan mereka turun 10% dibanding tahun lalu. Penyebab mulanya adalah biaya produksi yang membengkak, akibat dolar mahal. Harga kertas naik. Terutama jenis book paper yang selalu impor. Plastik pembungkus buku dan laminasi sampul pun demikian, juga tinta. “Tinta itu sensitif sama dolar,” cetus Edi.

Biaya produksi naik, tetapi sulit menaikkan harga buku. Rentan tidak laku. Strateginya kemudian adalah dengan mengategorikan buku-buku yang “pantas” dinaikkan harganya. Buku-buku yang minim kompetitor dinaikkan harganya 10%. Buku-buku lain temanya disesaki penerbit lain, harganya tetap.

Tahun ini, sekitar empat puluh karyawan tetap Diva Press mengundurkan diri. Alasannya macam-macam: menikah dan ikut pasangannya atau ingin bekerja di tempat lain. Suasana ekonomi yang tidak sedang bersahabat membuat Edi tak ingin langsung mencari karyawan baru. Tenaga-tenaga freelance juga dihentikan untuk sementara waktu. Diva Press merasa perlu untuk memprioritaskan karyawan tetapnya. Akibatnya, target terbitan dan oplah berkurang. Tahun lalu, Edi bisa memasang target hingga enam puluh judul buku per bulan. Tahun ini, hanya empat puluh sampai empat puluh lima judul saja.

Mata rantai industri buku yang tak hanya melibatkan penerbit dan toko buku membuat pihak lain ikut terkena dampaknya, yaitu distributor. Pihak yang satu ini menjembatani penerbit dan toko buku. Akibatnya, kondisi ekonomi mereka tak bisa lepas dari suka dan duka penerbit.

Ifa, pemimpin CV Solusi Distribusi, ikut mengeluhkan kondisi ini. Selain mengonfirmasi apa yang Ade ceritakan soal Gramedia, ia juga menuturkan bahwa tahun ini pertumbuhan keuntungan perusahannya tak lebih dari 10%. Menurun drastis dari tahun lalu yang mencapai hampir 35%. Alur sebabnya sederhana: suplai dari penerbit yang berkurang membuat suplai mereka ke toko buku juga berkurang. Tambahan, daya beli masyarakat menurun.

“10% itu belum dimakan inflasi juga, kan? Makanya untuk tahun ini kita agak stuck,” tuturnya.

Penerbit-penerbit kecil tak begitu merasakan dampak krisis. Octopus milik Ade Ma’ruf yang hanya menerbitkan 25 judul buku per tahun, dengan pekerja-pekerja freelance, sampai berseloroh pada saya bahwa ekonomi melambat atau tidak “sebenarnya ya begini-begini saja”. Hal tersebut juga berlaku bagi penerbit-penerbit independen. Irwan Bajang misalnya, pemimpin redaksi Indie Book Corner, mengatakan bahwa dampak inflasi hanya sebentar saja ia rasakan. Penjualan buku mereka dari tahun ke tahun terus saja meningkat.

Bajang dan Indie Book Corner-nya bekerja dalam sebuah tim kecil yang hanya beranggotakan tujuh orang. Selain Bajang sebagai pemimpin redaksi dan istrinya sebagai kepala editor, penerbitan itu memiliki tiga orang editor, seorang desainer, seorang tenaga pemasaran, dan seorang lagi sebagai administrator. Jumlah judul buku yang mereka terbitkan dari tahun ke tahun terbilang stabil. Tahun 2013 mereka menerbitkan 91 judul, tahun berikutnya 87 judul, dan tahun ini hingga akhir Oktober terhitung 84 judul telah mereka terbitkan.

“Karena kami kecil,” kata Bajang, “jadi lebih bisa beradaptasi.”

“SAYA sih termasuk orang yang enggak percaya kalau masyarakat itu enggak suka buku,” tegas Edi. Persoalannya sekarang, menurutnya, adalah daya beli orang-orang. Ketika ruang dan masa pajang dalam toko buku terbatas sementara stok belum terjual habis, penerbit harus mencari alternatif agar produknya sampai ke tangan konsumen. Solusinya, jemput bola. Diva Press masuk ke berbagai acara dan pameran untuk buka lapak. Untuk soal ini, salah seorang mitra Diva Press adalah Imam.

Imam khusus memasarkan buku-buku Diva Press ke lembaga-lembaga pendidikan layaknya kampus, sekolah, dan pesantren. Ia dan beberapa orang kawannya berkeliling dari satu kota ke kota lainnya, ke Malang, Banyuwangi, Semarang, Jember, sebut saja namanya. Mereka membawa buku-buku Diva Press, mendirikan tenda, dan menjajakan buku-buku itu di sana.

Tak kurang dari dua belas pameran dilakoni Imam setiap tahunnya. Biaya operasional untuk berkeliling dan menyebarkan informasi ditanggung bersama oleh Imam dan pihak Diva Press. Ia enggan menyebutkan nominal pembagiannya. Di tiap tempat yang ia datangi, rata-rata ia mendapatkan laba kotor sebanyak Rp15 juta, bersihnya sekitar 20%. Jumlah itulah yang harus ia bagi dengan kawan-kawannya. Sekali waktu, ia pernah dapat omzet sekitar Rp40 juta.

Ketika saya tanya apakah kondisi ekonomi sekarang ini berpengaruh pada hasil jualannya, ia bilang tidak. Konsumen Imam adalah pelajar atau mahasiswa yang kebanyakan masih minta uang pada orang tua mereka.

“Coba kamu pas jadi mahasiswa, apa pengaruh?”

Saya menggeleng.

Ia bilang lagi bahwa musuhnya hanyalah siklus bulanan. Ketika ia mengunjugi satu per satu kampus yang ada di Malang, misalnya dalam waktu dua bulan, ia harus menyadari bahwa kampus yang didatanginya pada akhir bulan tak akan seramai lapaknya di awal bulan.

Sempurnakah strategi Diva Press? Bagi Sheny tidak. Ia bilang, penjualan buku-buku terbitan Diva Press di Togamas menurun sebab kebijakannya yang banyak obral. Dengan banyak pameran, banyak obral, orang-orang kemudian hanya akan menunggu buku-buku Diva Press di acara-acara tertentu dan menolak membelinya di toko buku konvensional.

“Cuma aku enggak tahu, Pak Edi sadar enggak, ya?”

Ketika saya konfirmasikan hal ini dengan Edi, ia hanya bilang bahwa memang penerbit tidak dapat sepenuhnya bergantung pada toko buku. “Penerbit yang hanya menggantungkan penjualannya pada toko,” kata Edi, “lama-lama akan habis.”

Ia juga tak sembarangan membawa semua buku terbitannya ke pameran atau obral. Ada klasifikasinya. Edi membaginya menjadi dua macam buku, reguler dan nonreguler. Buku-buku reguler adalah buku-buku yang masih dijual di toko buku, sementara yang nonreguler adalah buku-buku yang nyaris atau sama sekali tidak lagi terpajang di sana.

Buku-buku nonreguler inilah yang dibawa oleh Diva Press ke berbagai pameran untuk dijual. Memang ada buku-buku reguler yang turut diangkut, tapi jumlahnya hanya 10% dan harganya pun mengikuti harga toko diskon seperti Togamas atau Social Agency. Buku-buku reguler itu, kendati jumlahnya kecil, harus dibawa ke pameran “untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa ‘kami punya buku baru, lo!’.”

SAYA mengunjungi satu lagi penerbit di Yogyakarta, Bentang Pustaka. Di bangunan semacam saung, di taman di sebelah utara kantor redaksi penerbit itu, Salman Faridi, CEO Bentang, menemui saya.

Pada awal perbincangan, Salman yang baru saja pulang dari Festival Buku Frankfurt itu memiliki kisah yang sama seperti Edi dan Sheny. Bahwa bahan baku naik, daya beli masyarakat menurun, dan sebagainya. Bahkan, pada saat inflasi, Bentang sedang berada dalam proses negosiasi untuk membeli hak terjemah beberapa buku dari penerbit-penerbit luar negeri.

Akan tetapi, Bentang menjadi anomali. Ketika saya tanya berapa persen keuntungannya turun, Salman menjawab bahwa tahun ini pertumbuhan keuntungan Bentang justru naik sebesar 30%. Padahal, tahun lalu, penerbit ini hanya naik sekitar 2% saja.

Sejak tahun 2012, Salman sudah merasakan tanda-tanda bahwa ekonomi akan semakin memburuk. Sejak saat itu ia bereksperimen dengan persoalan produktivitas buku. Ia akhirnya menemukan bahwa jumlah judul yang diproduksi bukanlah sesuatu yang mesti dinomorsatukan. Bentang, menurutnya, bisa saja memproduksi seratus judul buku per bulan. Namun, masalahnya bukan pada produksinya, melainkan soal penjualannya.

Penjualan Bentang berfokus pada toko buku, berbeda dengan gerilya Diva Press. Menurut Salman, tantangan untuk menjual buku di luar toko buku teramat besar, sementara hasilnya bagi Bentang begitu kecil.

“Yang lebih realistis sebenarnya adalah menambah jaringan distribusi buku, terutama di luar Jawa.”

Bentang tidak mematok jumlah judul buku sebagai target, melainkan jumlah halaman. Tahun ini, rata-rata setiap bulannya Bentang menerbitkan buku setebal tiga ribu halaman. Dengan ketebalan yang demikian, buku yang diterbitkan berjumlah sekitar tiga belas hingga empat belas judul. Tiga ribu halaman itu pun tak selalu bisa dicapai 100%, kadang hanya 70% atau 80%-nya saja.

Bentang juga membuat kampanye melalui jejaring sosial dan memperbaiki kualitas buku. “Konten itu harus bagus. Itu tidak bisa ditawar. Tidak ada kategori lumayan satu atau lumayan dua. Harus bagus!” tegasnya. Seleksi pun menjadi hal yang sangat ketat dalam redaksi Bentang. Naskah-naskah yang tidak sempurna diterima Bentang akan langsung dikembalikan kepada penulisnya.

Penerbit yang diakuisisi Grup Mizan sejak 2004 ini tidak memiliki percetakan sendiri. Urusan cetak-mencetak mereka serahkan kepada pihak luar. Redaksinya hanya berjumlah dua puluh delapan orang. Semuanya pemain inti sehingga tidak terlalu dipusingkan dengan beban menggaji. Mereka juga cukup diuntungkan dengan basis penulis yang secara nasional sudah terkenal. Sesuatu yang, menurut Salman, tidak mereka bangun dalam waktu semalam.

Salman mengklaim bahwa Bentang menerbitkan buku bagus, bukan buku laku. Larisnya produk bukan jaminan bahwa ia bagus secara kualitas. Membaca pasar dan mengedukasi pasar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Ia mengisahkan salah satu penjualan terbaik Bentang, Laskar Pelangi. Buku tersebut muncul di tengah demam teenlit, cerita-cerita cinta remaja. Laskar Pelangi kemudian justru menciptakan tren baru.

Ia juga bercerita tentang pertemuannya dengan salah satu penerbit di Jerman, S. Fischer Verlag. Verlag menerbitkan buku-buku nonfiksi “berat”, yang menurut Salman berkualitas baik, dengan ketebalan di atas 400 halaman. Salman bertanya, bagaimana mereka bisa memasarkan buku tersebut? Jawaban dari Verlag, mereka diuntungkan oleh penerbit lain yang menerbitkan buku-buku komersil.

Apakah maksud Salman adalah bahwa buku-buku berat selalu punya pasar? Tidak, poinnya bukan itu.

“Poinnya adalah, ketika Anda menerbitkan buku dengan konten yang bagus dan mungkin tidak terserap di pasar begitu banyak, setidaknya buku yang Anda lahirkan adalah buku yang berkualitas. Tidak ada keraguan tentang itu. Berbeda halnya dengan Anda menerbitkan sampah dan berharap laku. Ketika buku itu tidak laku, yang Anda dapatkan cuma sampah saja sebenarnya.”

Keyakinan Salman serupa dengan Sheny. Mereka optimis mengenai omzet penjualan buku selagi penerbit-penerbit di Yogyakarta masih memproduksi buku-buku bermutu. Sebab buku bermutu, menurut Sheny, “akan jadi candu.”[]

Sumber :

http://pindai.org