Printed-Books-Vs-EBooksJAKARTA, KOMPAS — Di tengah serbuan teknologi digital, pasar buku cetak tetap stabil. Pengalaman membaca teks atau gambar yang tercetak di atas kertas dianggap masih menarik bagi banyak kalangan, bahkan tak tergantikan oleh buku digital. Ini peluang bagi para penulis dan penerbit untuk terus menyajikan karya-karya terbaik.

“Tren penjualan buku di dunia internasional sekarang malah kembali naik meski sedikit. Di Indonesia, pasar cenderung stabil,” kata Manajer Eksekutif Penerbit Buku Kompas (PBK) Patricius Cahanar di sela-sela “Temu Penulis dan Editor” yang digelar PBK di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (19/11).

Selain Patricius, acara itu juga menghadirkan pembicara lain, yaitu wartawan Kompas Salomo Simanungkalit, Vice President of Product Apps Foundry Scoop Ellen Nio, dan Richard Leonardy dari Staf Marketing PBK. Diskusi dipandu oleh Kepala Redaksi PBK Yunas Santhani Azis. Hadir juga sejumlah penulis dan editor buku.

Menurut Patricius, pasar buku cetak internasional sedikit naik lagi berkat hadirnya buku-buku laris (bestseller). Adapun di Indonesia, pasar buku berjalan sesuai permintaan (book on demand). “Kami (PBK) menjual sekitar 20.000 eksemplar buku per bulan selama tahun 2015. Itu angka yang stabil, sama dengan tahun 2014,” katanya.

Dalam diskusi, Richard Leonardy menjelaskan, di toko-toko di seluruh Indonesia, ada sekitar 1.000 judul buku yang ditawarkan ke pasar setiap bulan. Tema yang selalu diminati antara lain buku anak-anak, teks sekolah, dan fiksi. Penjualan buku jenis tertentu meningkat pada musim-musim khusus, seperti buku sekolah yang laris pada awal tahun ajaran baru.

Digital dan cetak

Patricius menilai, buku digital hadir sebagai alternatif bacaan, tetapi belum terlalu memengaruhi pasar buku cetak. Diperkirakan, pasar buku digital masih sekitar 5 persen dari total pasar buku di Indonesia. Di mancanegara, terutama di Eropa, pasar buku digital tumbuh 10 persen sampai 15 persen. “Buku cetak dan buku digital masing-masing memiliki pangsa pasar tersendiri,” ujarnya.

Sejarawan Inggris, Peter Carey, yang menghadiri acara itu, menuturkan, membaca buku cetak merupakan pengalaman yang memberikan sensasi, atmosfer, dan kenangan tersendiri, yang bahkan tak tergantikan dari membaca buku digital. Untuk buku-buku referensi, orang akan cenderung mengoleksi buku cetak agar bisa disimpan di perpustakaan. “Buku cetak akan terus bertahan karena kita membutuhkannya,” kata peneliti dan penulis buku Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) itu seusai diskusi.

Dalam diskusi, Ellen Nio mengungkapkan, buku cetak dapat memanfaatkan pemasaran secara online atau dalam jaringan (daring), sebagaimana ditawarkan Scoop sejak tahun 2010. Sistem ini bakal memperkuat pemasaran konvensional lewat toko-toko atau komunitas. Para penerbit bisa bergabung untuk bersama-sama mengembangkan pasar lewat jaringan yang lebih luas dan mudah diakses publik.

“Penulis biasanya mengenali audiens (pembaca)-nya. Penerbit tinggal berkoordinasi dengan para penulis untuk meningkatkan pembaca,” katanya.

Tema kemanusiaan

Salomo Simanungkalit menceritakan pengalamannya meliput Frankfurt Book Fair di Jerman, pertengahan Oktober 2015. Saat itu, Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan yang diberi paviliun khusus untuk memamerkan banyak buku karya penulis Indonesia serta menyajikan berbagai pergelaran seni budaya. Gerai kita banyak dikunjungi para pelaku industri buku internasional.

Indonesia mengusung banyak buku, terutama buku fiksi bertemakan tragedi 1965, perkembangan Islam, jender, dan kelompok minoritas. “Buku sastra banyak diperbincangkan. Tema kemanusiaan, seperti terkait peristiwa 1965, menarik publik. Itu sama dengan kisah kemanusiaan dalam Perang Dunia II yang selalu menarik dan tak habis dituliskan,” katanya. (IAM)

Sumber : Kompas, ed. 20 Oktober 2015