Berikut pendapat Ajip Rosidi, sastrawan senior terhadap Tetralogi Bumi Manusia – Pramoedya AT seperti yang ditulisnya dalam surat pribadinya kepada NH Dini pada tanggal 10 Juli 1983. Saya kutipkan yang terkait dengan karya Pram saja.

Kepada Nh. Dini

Osaka, 10 Juli 1983

Dini yang baik,

………………………………………….

Kuhabiskan dua naskah Pram jilid tiga dan empat sambungan Bumi Manusia itu. Kukira jilid ke ketiga yang paling baik, dalam arti padat dan komposisinya paling rapi. Kesemuanya merupakan suatu karya yang luar biasa, yang memberikan gambaran tentang bangkitnya nasionalisme di tanahair kita. Aku tak tahu seberapa jauh keontetikan historisnya; tetapi tokoh utamanya memang seorang tokoh sejarah, dan juga tokoh-tokoh yang lainnya. Peran utamanya, R.M. Tirto Adisoerjo memang mendapat kontur tebal yang meyakinkan. Tapi sebagaimana biasa dalam hal demikian, lantas ada tokoh lain yang menjadi pucat. Padahal masih diperlukan penelitian sejarah, apakah memang sebesar itu peranan tokoh utama dan apakah tokoh-tokoh lain seperti Tjokroaminoto, Soetomo, dll. memang sepucat itu.

Tapi tanpa meributkan soal-soal akurasi yang otentik sepanjang yang berkenan dengan data-data historis dan tokoh-tokohnya, namun keempat buku itu telah memberikan  suatu gambaran yang lengkap dan meyakinkan tentang kehidupan Hindia Belanda sejak akhir abad yl, sampai awal abad ini (1918).

tetralogi-buru-hasta-mitra

Betapapun karyanya itu merupakan karya besar yang penting yang disumbangkannya kepada kesusasteraan Indonesia. Sayang dilarang! Dan aku hampir tak percaya pernah membaca bahwa Abang (Mochtar Lubis – red) tidak membaca karya-karya Pram yang sudah terbit dengan alasan: Tak mau membuang waktu dengan membaca karya komunis! Aku lupa lagi di mana aku membaca pernyataan Abang itu. Tapi kalau benar, aku sungguh heran.

Pram tak mau memberikan naskahnya kepadaku. Entah kenapa. Tapi aku sendiri pun tak tahu bagaimana jalannya, namun ternyata keempat naskah itu jatuh juga ke tanganku. Dua yang pertama kubaca ketika aku di tahun 1979 pergi ke Buru. Dan sekarang aku mendapatkannya di Jepang ini. Tahu-tahu ada saja yang membawanya buatku – setelah melalui entah berapa kali pemotokopian. Hurufnya tentu sudah kabur-kabur.

…………………………

Wassalam,

Ajip Rosidi

 

Sumber :

Jpeg

Yang Datang Telanjang : Surat-Surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002

Penyunting : JJ Rizal

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia m 2008

Tebal : 772 hlm  ; Dikutip dari  hlm 219-220