om hwie-1
Oei Hiem Hwie, kawan Pramoedya Ananta Toer semasa diasingkan di Pulau Buru.
Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia
Sabtu, 30/04/2016 12:22 WIB
Jakarta, CNN Indonesia “Hwie, kamu mau enggak saya titipi?”

Sebaris kalimat tanya seorang kawan itu melayang di benakku dua hari menjelang kepulangan dari sebuah tanah buangan, akhir November 1978. Kawan itu tak sembarangan. Bukan sekadar kawan seperjuangan di pulau pengasingan, Buru. Dia seorang sastrawan, Pramoedya Ananta Toer, namanya.

Pak Pram, begitu aku biasa memanggilnya, menanyakan soalan itu saat aku menemuinya di sebuah komolek tahanan yang kami juluki “Mako” alias Markas Komando, pada suatu ketika berpuluh tahun lalu. Niatku sebenarnya berpamitan. Sebab sejak Desember 1977, kabar pembebasan tahanan politik dari Pulau Buru menjadi kenyataan. Aku sendiri termasuk gelombang ke-dua yang dilepas dari pengasingan.

Jika dihitung, masa tahananku di Buru lebih pendek dari Pak Pram. Aku masuk pada 1970. Setahun lebih lama dari Pak Pram. Pantai Sanleko jadi pendaratan pertamaku di pulau itu.

Bersama ribuan tahanan politik lain, aku dinaikkan kapal Tobelo dari Nusakambangan. “Enak enak, melok o ae [enak, enak, sudah ikut saja],” begitu iming-iming mereka kala itu. Sempat terdengar aku akan dibawa ke Pulau Buru, tapi itu hanya selentingan saja. Aku pun tak tahu ke mana aku akan dibawa. Aku ikut saja.

Dulunya aku seorang wartawan untuk sebuah media bernama Trompet Masjarakat. Aku banyak menulis soal Soekarno. Aku juga tergabung di dalam Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi yang disebut-sebut berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Aku ditangkap di Malang, tak lama setelah peristiwa 1965. Pertama, aku dibawa ke bekas pabrik makanan di Batu, Kamp Gapsin. Beberapa bulan di sana, aku dipindah ke kamp tentara di Lowokwaru. Selama lima tahun sebelum dibawa ke Nusakambangan, aku terus “diping-pong” Malang-Surabaya.

Nasibku masih beruntung, tak terlalu banyak dipukul. Wartawan dan mahasiswa yang dianggap kalangan intelektual, memang tidak terlalu disiksa. Yang jelas-jelas anggota PKI, siksaannya tiada ampun. Dipukul, bahkan dibunuh.

om hwie-2
Naskah Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di atas kertas semen masih disimpan rapi oleh Oei Hiem Hwie di Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya. 
Aku kenal Pak Pram sejak menjadi wartawan. Ketika akhirnya kembali bertemu di Buru, aku tak langsung bertemu muka dengannya. Kami beda unit. Pak Pram di unit 3, aku di unit 4. Hubunganku dengan Pak Pram mulai dengan surat-menyurat. Kutitip pesan surat kepada tapol lain yang kebetulan akan ke unit 3.

Kami baru saling bertemu saat Pak Pram sudah dipindah ke Markas Komando (Mako) karena dinilai punya keterampilan. Tempatku kerja kebetulan dekat dengan Mako. Pak Pram bahkan pernah berkunjung ke barakku, meski sepulangnya dimarahi karena interaksi antartapol dilarang.

Tapi belakangan, aturan itu melonggar. Tapol boleh berkunjung ke “gubuk” Pak Pram di Mako. Kami bahkan pernah berfoto.

Diberi kepercayaan Pak Pram menyimpan naskahnya, suatu kehormatan bagiku. Naskah itu sudah seperti “anakku” sendiri. Aku ikut merawatnya sejak naskah-naskah itu diproduksi di Mako.

Aku pernah menjadi kurir yang menghubungkan Pak Pram dengan tapol-tapol lain yang diajaknya berdiskusi lewat surat. Misalnya, Profesor Saleh Iskandar di Unit 5. Dari dialah Pak Pram mendapat referensi soal fakta-fakta sejarah. Aku juga pernah menemui Hersri Setiawan, Profesor Puradisastra, Sartono, juga Oey Hai Djoen.

Saran-saran dari mereka biasanya aku tulis. Esoknya saat bertemu Pak Pram, kuserahkan tulisan-tulisan itu. Pak Pram terbuka terhadap masukan mereka, memasukkannya sebagai tambahan dalam naskah-naskahnya. Sampai sekarang pun salinannya masih kusimpan rapi.

Aku juga yang menyediakan kertas untuk Pak Pram saat dia masih menulis dengan tangan. Bekas karung semen aku bersihkan dari debu maupun butir-butir semennya, lalu kupotong seukuran folio. Di atas kertas itu Pak Pram menuliskan Bumi Manusia, salah satu dari tetralogi Pulau Buru yang terkenal itu.

Penanya meminjam penjaga yang berhati baik, atau titip kepada tapol yang ke Namlea.

Naskah itulah yang dipercayakan Pak Pram padaku. Kondisinya masih ditulis tangan di atas kertas kecokelatan. Saat dipanggil satu per satu untuk apel di depan barak lalu digiring ke Mako, naskah itu kumasukkan ke dalam besek. Aku harus berhati-hati agar tak kena geledah barang bawaan sebelum pulang.

Besek berisi naskah Pak Pram kumasukkan lagi ke dalam tas plastik yang isinya perlengkapan makan. Sebelumnya, kututup naskah-naskah itu dengan cor semen. Dahulu, cor semen itu bekas penutup septic tank. Salinan naskah Pak Pram terkadang disembunyikan di bawahnya agar tersamar dan tidak kena geledah penjaga.

Naskah tua Pram, juga surat-surat dan harian nasional disimpan rapi oleh Oei Hiem Hwie, kawan Pram di Surabaya, dalam lemari kaca kedap udara. 
 
Naskah yang Hilang
Pernah pada suatu malam yang apes, septic tank lupa ditutup dengan cor semen. Aku saat itu sedang sakit perut dan tidak membantu tapol lain mengetik naskah untuk digandakan. Biasanya, aku yang mendikte dan Paimin seorang tapol dari Tegal yang mengetiknya.

Tapi malam itu berbeda. Di tengah pengetikan, Wakil Komandan Unit masuk dan merampas naskah yang ada. Termasuk Arus Balik, Mata Pusaran, dan Arok Dedes. Paimin, aku, dan Pak Pram kena damprat. Aku pun dipindah kerja dari ladang di dekat Mako, jadi lebih jauh.

Pak Pram sempat marah padaku. Tapi bukan karena naskahnya dirampas. Dia marah justru karena kealpaanku membahayakan tapol lain.

Nasib naskah yang dirampas itu, entah bagaimana. Arus Balik dan Arok Dedes, tapol lain masih punya salinannya dan bisa diterbitkan. Sekarang pun masih bisa dibaca.

Arok Dedes, dititipkan Pak Pram ke seorang pastor yang punya hak untuk tidak digeledah. Naskah itu berhasil dibawa ke Jakarta dan diterbitkan. Tapi Mata Pusaran, entah dikemanakan oleh penjaga setelah dirampas.

Pernah suatu ketika, seorang Belanda menemukan naskah yang bercerita soal masa-masa menjelang jatuhnya Majapahit itu, di pasar rombeng. Tapi hanya sebagian. Dibelilah naskah itu, dibawa ke Pak Pram. Tapi Pak Pram tak bisa meneruskannya. Alhasil, Mata Pusaran pun tak pernah diterbitkan.

Kembali soal cor semen, balok itu juga berfungsi merekatkan kertas naskah Pak Pram setelah dilem sagu. Sekarang di tanganku, cor itu kembali menyamarkan naskah Pak Pram. Naskah dan cor yang beratnya minta ampun itu kubungkus dengan baju-baju kotorku.

Kertas ada di paling bawah. Atasnya cor semen, atasnya lagi rantang dan wadah gula.

Aku deg-degan saat melewati penjagaan. Untung bawaanku tidak digeledah. Naskah itu pun selamat. Selama dua tahun naskah itu kusimpan rapi setelah aku sampai di Malang, Jawa Timur, kota kelahiran yang sudah 13 tahun kutinggalkan sejak “diciduk” aparat.

Pada 1980, aku bertemu Pak Pram di rumahnya di Utan Kayu, Jakarta. Pak Pram sendiri dibebaskan dari Pulau Buru pada 1979. Kuserahkan naskah itu padanya. Tapi Pak Pram berkata, “Jangan dibalikin. Kamu foto kopi saja, saya kamu kasih yang foto kopiannya.”

Sampai sekarang, sudah 38 tahun naskah itu bersamaku. Masih kujaga di ruang kaca kedap udara bersama surat-menyuratku dengan Pak Pram sejak masih di unit masing-masing. Ada pula naskah asli Pak Pram tentang Ensiklopedi Citrawi Indonesia, tulis tangan dan ketikan.

Etalase kaca berkode Z itu tak pernah kubuka agar kualitas kertas tidak rusak terkena udara. Tahun ke tahun memang warnanya jadi kekuningan, bahkan kecokelatan. Tapi kumasukkan juga pengawet agar tahan lama.

Selain naskah asli itu, aku punya rak khusus untuk Pak Pram di Ruang Koleksi Khusus di Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya yang kini kukelola. Tetralogi Buru yang kini sudah dicetak berulang-ulang, masih kusimpan edisi perdananya dengan tanda tangan Pak Pram.

Aku juga masih punya buku Nyanyian Sunyi Seorang Bisu, yang berisi catatannya selama di Buru. Buku itu tak banyak beredar lagi sekarang. Naskah Di Atas Lumpur yang tak pernah diterbitkan pun, ada di tanganku.

Pak Pram memang telah meninggal 10 tahun lalu. Tapi karyanya masih abadi, naskahnya masih tersimpan rapi, selama masih ada yang mau mengenang dan mengurusnya. Aku banyak belajar dari naskah-naskah itu.

Seperti Pak Pram pernah berpesan padaku sewaktu di Buru, “Hwie, jangan banyak mikir, nanti kendat [bunuh diri]. Belajar saja.”

Oh ya, aku lupa mengenalkan diri. Namaku: Oei Hiem Hwie. Usiaku 81 tahun. Aku sekarang orang bebas.

***
Sumber :