aniesJakarta – Pekan lalu muncul kabar razia terhadap buku bertema komunisme. Pelarangan atas peredaran buku dengan tema tertentu adalah hal yang miris ketika disandingkan degan minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan tindakan razia tersebut sebagai perilaku yang tidak relevan dengan kondisi kekinian. Sebab sebetulnya ide komunisme sendiri sudah ditinggalkan oleh masyarakat dunia.

“Membakar, melarang buku itu kuno. Hari ini ide itu sudah ketinggalan. Kita jangan kemudian jadi lengah. Tapi tunjukkan ide yang lebih baik, tunjukkan gagasan yang lebih maju,” ujar Mendikbud Anies di acara Pesta Pendidikan di fx Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (39/5/2016).

Anies menambahkan, tindakan pelarangan buku komunisme adalah sebuah ekspresi minder. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk menunjukkan bahwa Pancasila adalah rumusan dan ideologi yang paling tepat untuk bangsa ini.

Di acara yang sama, Najwa Shihab juga ikut berpendapat tentang pelarangan buku tersebut. Menurutnya, jika minat baca masyarakat Indonesia masih rendah, seharusnya tidak perlu ada pelarangan buku.

“Saya kok miris ya. Orang kok lagi kurang baca, kok malah dilarang baca. Pelarangan baca adalah kemubaziran akut. Membatasi informasi adalah kesia-siaan,” ujar Najwa.

Najwa menyadari bahwa komunisme adalah isu sejarah yang sangat sensitif sehingga menimbulkan reaksi beragam di masyarakat. Namun, menurutnya, pelarangan buku, apa pun tema di dalamnya, sama saja melarang pikiran.

“Percuma melarang buku, karena orang masih dapat menemukan di mana-mana. Saat ini, kita ketinggalan dengan negara lain dalam hal minat baca. Jika orang Jepang dalam setahun dapat menghabiskan 25 buku, Singapura 15 buku, Indonesia seharusnya dapat memunculkan orang-orang yang dapat menumbuhkan orang sadar untuk mau membaca buku,” ujar Duta Baca Indonesia ini.
(nrl/nrl)

Sumber : Detik.com

@htanzil